|
Buana Katulistiwa - Prof Dr Budi Winarno mengatakan, globalisasi neoliberal yang ditopang oleh kapitalisme global telah menciptakan dua krisis sekaligus, yakni krisis polarisasi kelas (the crisis of class polarization) dan krisis lingkungan (ecological unsustainaibility).
Hal itu diungkapkan Budi Winarno dalam pidato pengukuhannya menjadi guru besar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, Senin (5/12). Pidato pengukuhan berjudul “Globalisasi dan Krisis Pembangunan: Bagaimana dengan Indonesia”.
Guru besar kelahiran Klaten, 25 November 1947 yang adalah pengajar Hubungan Internasional ini menyebut, globalisasi neoliberal mendorong pembangunan ke arah pendulum dominasi pasar atas negara telah menciptakan hambatan-hambatan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikis sekaligus dari proses pembangunan. Dengan kata lain, pembangunan yang sejatinya diarahkan untuk memperluas ruang kebebasan manusia justru telah menciptakan ketidakbebasan tersebut sebagai akibat rendahnya kualitas hidup dan marginalisasi politik, ekonomi, dan sosial dalam waktu bersamaan.
“Dengan demikian, jika pembangunan gagal meraih tujuan-tujuan itu, maka pembangunan tersebut dinyatakan gagal. Tidak menjadi soal, apakah suatu pembangunan direncanakan oleh negara (state-led development) ataukah dikendalikan oleh pasar (market-driven development),” tutur Prof Budi Winarno, seperti dikutip dari rilis Humas UGM dalam www.ugm.ac.id.
Dikatakan, krisis polarisasi kelas terjadi karena sejumlah perkembangan dari kelompok yang sangat kaya (very rich) dengan kelompok yang sangat miskin (very poor), dan menajamnya kesenjangan diantara mereka. Polarisasi global telah mengalami peningkatan, kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin terus tumbuh meskipun kebijakan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi global yang mengesankan telah terjadi selama lebih dari lima puluh tahun sejak tahun 1945.
“Sementara itu, kesenjangan ekonomi tidak hanya terjadi antarnegara, tetapi juga mencakup orang. Kemiskinan, kelaparan, dan penyakit menular terus menyebar, dan kelompok perempuan masih menempatimayoritas masyarakat yang paling miskin di dunia,” begitu Prof Budi Winarno. (bj) Powered by AkoComment! |