|
Buana Katulistiwa -Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) mengusulkan strategi investasi bagi daerah yang rawan bencana. BRR juga akan mengusulkan agar pemerintah membuat risk finance system.
"Tujuannya adalah pemerintah agar siap dana saat terjadi bencana alam, " paparnya Kepala Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Kuntoro Mangkusubroto dalam konferensi persnya, di Gedung Kartini, Jakarta, Kamis (23/2), menjelaskan rencana workshop yang akan digelar akhir pekan ini.
Program BRR dalam pengurangan risiko bencana antara lain pemetaan risiko daerah rawan bencana di Aceh, meningkatkan pengetahuan masyarakat agar memahami tanda-tanda bencana, dan menyediakan tenaga penyuluh di setiap kecamatan untuk memandu masyarakat mengenai pengurangan resiko bencana," jelas Kuntoro.
Ia juga mengatakan bahwa dengan menerapkan program-program pengurangan risiko bencana di setiap provinsi yang rawan bencana melalui koordinasi yang erat antara lembaga dan partisipasi masyarakat serta dengan penerapan kebijakan dan sistem keuangan risiko bencana akan membantu Indonesia bangkit dan pulih lebih cepat dari bencana apapun.
Dalam konferensi pers tersebut, Pakar Mitigasi Bencana Daerah pesisir Dennis J Hwang mengatakan bahwa dalam kondisi pemanasan global seperti sekarang ini, daerah yang padat penduduk rentan bencana.
"Jadi daerah yang padat harus diurai. Tapi tiap daerah tidak bisa disamaratakan ada faktor-faktor lain yang perlu dikaji," ujar Dennis.
Konferensi pers juga dihadiri oleh Pelaksana Gubernur NAD Mustafa Abubakar dan Pakar Bencana Alam PBB Christie Rose.
Christie Rose sendiri mendukung inisiatif BRR. "Inisiatif BRR ini dapat mempercepat realisasi Hyogo Framework di Indonesia dan hal ini seharusnya menjadi prioritas setiap negara untuk menerapkannya," ujarnya.
Menurut dia dengan melaksanakan Hyogo Framework yang ditandatangani 168 negara di Hyogo, Jepang tahun 2005, maka korban manusia, maupun kerugian sosial, ekonomi dan lingkungan akibat bencana dapat diminimalisasi. (bj)
Powered by AkoComment! |