Depan arrow Artikel arrow Berita Nasional arrow Teknokrat Versus Tukang
Teknokrat Versus Tukang Cetak E-mail
Kamis, 02 Juni 2005
Buana Katulistiwa ? Pembangunan di Indonesia di bawah pemerintahan bangsa ini secara akumulatif telah berlangsung hampir 60 tahun. Namun, nilai tambah dari kemajuan dari pembangunan banyak dipertanyakan oleh sebagian rakyatnya. Hingga saat ini Indonesia masih berada dalam kategori negara berkembang dengan pendapatan perkapita terkecil di Asia Tenggara. Ada apa sebenarnya?

Pembangunan pada intinya adalah proses perubahan ke arah yang lebih baik. Menteri Pekerjaan Umum(PU) mengatakan "Perubahan adalah suatu keniscayaan. Bangsa ini tanpa berbuat sesuatu pun, perubahan akan tetap terjadi". Hal ini disampaikan dalam acara penyerahan Surat Keterangan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) kemarin (1/6) di Pendopo Departemen PU, Jakarta.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, kemanakah arah perubahan tersebut menuju? Apakah perubahan itu mengarahkan bangsa ini ke suatu perbaikan atau justru sebaliknya ke suatu keterpurukan. Pembangunan adalah katalisator untuk mengarahkan perubahan menuju perbaikan.

Masalah akan timbul bila pelaksanaan pembangunan tidak dilandasi visi yang sama, sebagaimana yang disusun dengan baik oleh para pendiri bangsa ini dalam Piagam Jakarta.

Jika para teknokrat membatasi pemikiran hanya pada bagaimana membuat jalan, bagaimana membuat jembatan, bagaimana membuat saluran irigasi, bagaimana membuat gedung pencakar langit atau infrastuktur lainnya, maka pembangunan tidak akan saling mendukung dan hanya menghasilkan kerugian bagi masyarakat. Seorang mantan staff ahli menteri PU pernah mengatakan, "Jika yang dilakukan teknokrat demikan halnya, maka orang-orang yang telah mengenyam pendidikan tinggi itu hanya berperan sebagai "tukang" saja".

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan?

Ini hanya sebuah pemikiran ulang yang sebenarnya sudah kita ketahui bersama, bahwa dalam membangun yang harus dipikirkan para teknokrat tidak hanya bagaimana membuat sebuah infrastruktur yang canggih, tetapi bagaimana hasil pembangunan tersebut bisa dimanfaatkan oleh mayoritas masyarakatnya dan membuat keuntungan dalam berbagai hal, baik secara ekonomi, tenaga dan waktu. Singkatnya adalah "efisiensi".

Dengan demikian yang perlu dipikirkan para teknokrat adalah bagaimana membuat jalan yang bisa menghubungkan lokasi secara efisien, bukan berarti jalan yang canggih dan tinggi biaya pembangunannya, melainkan jalan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat banyak dan tidak merugikan kepentingan sektor lain.

Demikan juga halnya dengan produk-produk informasi geografis yang para geograf hasilkan. Karena kita tahu bersama sudah banyak informasi spatial yang dihasilkan di negara ini, akan tetapi banyak juga yang hanya menjadi tumpukan kertas di gudang-gudang peta instansi pemerintahan yang tak pernah disentuh, bisa jadi karena informasi yang tidak aktual dan faktual atau karena tidak dibutuhkan masyarakat banyak. Jadi yang harus kita pikirkan kembali adalah bagaimana menghasilkan informasi keruangan yang hasilnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga kehidupan masyarakat menjadi lebih efisien, dan dengan demikian kita tidak hanya menjadi "tukang gambar peta". (kiriman pengunjung bk.or.id : Satrio Arditama)

Komentar
Selamat ya ...
Oleh dibyo pada 2005-06-11 09:56:56
Selamat buat Jaim, yang berhasil jadi PNS di PU. Trus juga yang bakal menikah bentar lagi. 
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com