|
Buana Katulistiwa- Budaya kelautan Nusantara mengalami era
gelombang revolusi pelayaran dunia. Nusantara sebagai archipelagic
state secara geografis sangat terbuka dari segala penjuru arah untuk
menerima atau mengirimkan kebudayaan melalui laut, inilah yang
merupakan latar budaya keterbukaan bangsa-bangsa di Nusantara.
Melalui budaya pelayaran terjalinlah awal komunikasi
dan informasi antar dan interwilayah geografis Nusantara atau tumbuhnya
benih integrasi bangsa Indonesia. Pelayaran juga sebagai dinamisator
budaya pembangunan kota-kota pesisir. Revolusi pelayaran dunia lima
abad yang lalu tetapi di Indonesia masih dapat ditemukan komunitas adat
terpencil yang bertahan di laut Indonesia.
Jatuhnya Konstantinopel
Era baru hubungan Barat-Timur melalui Laut semakin semarak semenjak berhasilnya bangsa Turki Usmani di bawah pemerintahan Sultan Muhammad II merebut Konstantinopel 1453. Nusantara menjadi
pilihan pelayaran bangsa Barat untuk mencari the new land. Misi yang
mendorong hingga sampai di lautan Nusantara selain dorongan pemenuhan
kebutuhan akan rempah-rempah yang sebelumnya lebih banyak melalui jalur
yang saat itu sudah dikuasai Turki.
Pelayaran bangsa Barat melalui jalur pelayaran lain
hingga sampai Nusantara pada abad 16 disertai misi mencari langsung
asal komoditas rempah-rempah, menggerakkan kembali roda perekonomian
negara masing-masing dan juga mengemban misi penyebaran Agama. Meskipun
pada akhirnya yang terjadi adalah praktek-praktek monopoli perdagangan,
penguasaan atau pendudukan dalam bentuk penjajahan. Bahkan pada
akhirnya menimbulkan perlawanan di setiap wilayah yang disinggahinya.
Bangsa-bangsa di Nusantara waktu itu sudah memiliki
tatanan kehidupannya sendiri-sendiri. Dan pada prinsipnya sangat
terbuka dan kooperatif kepada pendatang baru. Hal ini banyak dibuktikan
dengan keberadaan fakta bahwa terjadinya akulturasi dan asimilasi
antara budaya lokal dengan budaya pendatang. Mulai dari pesisir
terbarat - pesisir di Malaka - pesisir Banten - pesisir Jawa - pesisir
Kalimantan - pesisir Sulawesi - pesisir Maluku, Nusa Tenggara hingga
pesisir Papua (Irian Jaya) dan berbagai pesisir di ribuan pulau-pulau
yang tersebar di Nusantara.
Bentuk-bentuk bukti tersebut dapat dikenali dalam
berbagai ciri. Ada yang bercirikan sebagai bangunan pendukung pelayaran
(menara-menara suar, triangulasi-triangulasi, pelabuhan-pelabuhan
pendaratan, perbengkelan perahu dan kapal dll). Ada yang mencirikan
bangunan peribadatan ; Candi (Hindu Budha, India), Masjid (Islam, Timur
Tengah), Klenteng (Khonghucu, China), Gereja (Nasrani, Eropa). Ada yang
mencirikan bangunan sarana perdagangan rempahrempah (pergudangan,
pertokoan, kongsikongsi, penginapan dan lain-lain).
Budaya komunikasi
Sepanjang perjalanan pertautan sejarah budaya
bangsabangsa melalui budaya pelayaran kelautan Nusantara sudah banyak
mempengaruhi budaya Nusantara sendiri. Budaya bangsa luar memasuki
gerbanggerbang pelayaran nusantara baik secara sengaja maupun tidak
sengaja merubah prilaku pelayar-pelayar lokal dalam bentuk tukar
menukar keahlian pelayaran, teknologi pelayaran, pertukaran informasi
geografis yang lebih luas (mendunia).
Kemampuan perkembangan teknologi pelayaran yang
berkembang pada awalnya sangat mengandalkan kondisi penguasaan
astronomis sederhana, kondisi geografis perairan dan kondisi angin/iklim serta karena negeri asalnya berjarak ribuan kilometer
berkonsekuensi dengan kapasitas penyediaan bahan makanan perjalanan
serta komoditas perdagangan yang dibawa sangat terbatas selain daya
tahan pelayarpelayarnya dan bahan bangunan kapalnya.
Hal ini mengakibatkan perubahanperubahan baru di
lokasilokasi yang mengharuskan pelayaran melakukan
persinggahanpersinggahan untuk kepentingan keselamatan, pengisian bekal
makanan maupun obatobatan, perbaikan kapal dll. Sekalian dengan proses
persinggahan tersebut mereka memperdagangkan komoditas yang terbawa
dari persinggahan sebelumnya dan membawa komoditas yang dapat dibawa
dari persinggahan terakhir untuk diperdagangkan ke persinggahan
berikutnya.
Oleh karena itu pada saat-saat persinggahan cukup
memakan waktu yang lama, disinilah terjadi akulturasi budaya yang lebih
dalam. Baik antar pelaut nusantara maupun pelaut nusantara dengan
pelaut asing. Dapat dikatakan juga proses terjalinnya komunikasi
informasi melalui media pelayaran tersebut. Dimana saat ini komunikasi
informasi sudah melalui media teknologi satelit.
Perkembangan kota pesisir
Bukti-bukti yang tidak dapat dielakkan adalah
pertumbuhan lokasi-lokasi persinggahan secara geografis tumbuh menjadi
perkotaan lebih cepat dibandingkan dengan lokasi-lokasi yang jarang
disinggahi atau hanya sebagai lokasi lintasan pelayaran saja. Inilah
proses pertumbuhan baik kota-kota di pantai Selat Malaka, pantai utara
Jawa dan lainnya.
Selain itu dari struktur kotanyapun menunjukkan ciri
dari tingkat fluktuasi pelayaran dari bangsabangsa tertentu, bagi
persinggahan yang sering oleh budaya pelayar dari India bisa tumbuh
ditandai dengan struktur yang mencirikan Hindu Budha, bagi persinggahan
yang sering dikunjungi oleh pelayarpelayar muslim pada akhirnya elemen
struktur kotanyapun mencirikan keberadaan ciri dunia Muslim dan
seterusnya.
Secara hipotetis jika kita mengambil analogi
perkembangan perkotaan di pesisir Jawa pada masa klasik dimana yang
lebih berkembang adalah lokasi-lokasi persinggahan para penunggang kuda
saat itu atau menunjukkan kapasitas kekuatan kuda menempuh jarak
optimal untuk istirahat kembali, maka dapat juga disimpulkan bahwa
kapasitas atau kemampuan pelayaran pada saat setelah tumbangnya
Konstantinopel dapat disimpulkan secara geografis jarak masingmasing
kotakota besar yang tumbuh sekarang berawal dari peradaban budaya
pelayaran kelautan saat itu. Meskipun hal ini perlu penelitian lebih
lanjut sebagai studi kawasan global pelayaran Nusantara.
Dan pada saat ini beberapa komunitas sosial tersebut
masih masuk dalam kategori komunitas adat terpencil, yang menurut
departemen sosial merupakan target komunitas yang akan mendapatkan
pemberdayaan melalui pola operasional pembangunan pembukaan akses ke
masyarakat pada umumnya di wilayah Indonesia ini. Sebagai alasan,
departemen sosial RI menjalankan deklarasi PBB tahun 2000 yang salah
satu pointnya yaitu penyetaraan keadilan untuk mendapatkan akses
pembangunan bagi umat manusia di dunia ini.
Dari sisi geografis lain bahwa luasnya wilayah
lautan Nusantara, banyaknya pulau-pulau kecil yang dihuni saat itu,
beragamnya komunitas sosial pesisir di sepanjang pulaupulau besar
menunjukkan sebagian hanya tersentuh sedikit budaya pelayaran
perdagangan dunia atau tidak sedikit yang masih menunjukkan budaya
pelayaran lokal yang memiliki ciri spesifik sebagai budaya pelayaran
bangsabangsa laut asli Nusantara.
Budaya pelayar lokal tersebut eksis dengan budayanya
hingga saat ini, komunitas tersebut memiliki budaya perilaku
ketergantungan terhadap sumber daya laut di sekitar pesisir dengan
teknologi perahu yang spesifik yang kemampuan jarak tempuhnya dekat
dalam waktu tempuh harian untuk menangkap ikan-ikan palagis kecil.
Dengan alat penangkapan yang memiliki kekhususan dari alat penagkapan
wilayah pesisir lain. Dan tidak jarang mereka beradaptasi melalui alat
tangkapnya (pancing, jaring dan lainnya) untuk mendapatkan jenis fauna
pesisir yang secara geografis juga berbeda dengan wilayah laut lain. (tq)
Powered by AkoComment! |