|
1. Gambaran Umum
Kepulauan Padaido secara geografis terletak antara 0°00' - 1°30' Lintang Selatan dan
135°00' - 136°45' Bujur Timur. Kepulauan padaido terdiri dari P. Owi, P. Auki, P. pai, P. Pakreki, P.
Padaidori, P. Mbromsi, P. Pasi, P. Manggwandi, P. Workbondi, P. Nusi, P. Wurki dan gugus pulau-pulau kecil lainnya yaitu P.
Rasi, P. Nukori, P. dawi dan P. Runi.

Masyarakat adat di kepulauan Padaido membagi pulau-pulau Padaido menjadi dua bagian masyarakat adat yaitu Padaido Atas dan
Padaido Bawah. P. Pakreki dijadikan batas antara Padaido atas dan bawah.
Kepulauan Padaido merupakan gugusan pulau-pulau karang yang mempunyai keindahan pantai dan adanya habitat yang bervariasi
seperti atol; karang tepi, goa-goa bawah laut. Kondis terumbu dan jenis biota lainnya secara umum masih relatif baik dengan
keanekragaman jenis yang tinggi juga. Hal ini juga berpengaruh dengan adanya jenis dan kuantitas ikan yang banyak.
2. Sejarah Perkembangan Kepulauan Padaido
2.1. Sejarah dan Peristiwa Penting
Sejarah Kepulauan Padaido yang sempat didokumentasikan dapat dikelompokkan menjadi beberapa fase tahapan, berdasarkan
kejadian maupun peristiwa penting yang terjadi di kepulauan Padaido:
- Tahapan/fase pertama merupakan fase migrasi penduduk /klan besar dari P. Biak - Supiori menuju kepulauan Padaido.
Peristiwa mengakibatkan adanya redistribusi penguasaan atas pulau-pulau di kepulaun Padaido. Hal ini bisa diambil contoh di
P. Wundi penguasaan atas pulau dibagi menjadi dua bagian antara klan besar dari Opiaref dan Mokmer yang keduanya merupakan
klan besar dari P. Biak.
- Tahapan Ke dua merupakan pertemuan masyarakat dengan konsep-konsep atau nilai-nilai kehidupan baru dengan masuknya ajaran
agama (penyebaran agama).
- Tahapan ke tiga ditandai adanya peristiwa Perang Dunia II (PD II). Peristiwa ini melibatkan pihak sekutu di asia Pasifik
(AS) dan Jepang. Kepulauan Padaido merupakan tempat yang strategis sehingga tidak mengherankan kalau Biak dan sekitarnya
dijadikan oleh pihak Jepang sebagai basis pertahanan yang penting untuk mempertahankan laju dari tentara sekutu yang
merupakan batu loncatan ke utara untuk menuju Jepang. Perang perebutan tak terelakan di sekitar Biak. Kejadian ini baik
langsung maupun tidak secara langsung sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Biak itu sendiri. Peristiwa tersebut
meninggalkan bukti sejarah yang sampai sekarang masih ada seperti bekas rumah tinggal Jenderal Mc. Arthur, bekas dapur umum
sekutu maupun bekas landasan pesawat terbang Mokmer yang sekarang menjadi bandara Frans Kasiepo, pangkalan militer sekutu,
goa-goa Jepang sebagai tempat pertahanan maupun bangkai tank dan kapal.
- Tahapan ke empat merupakan fase dimana masyarakat melakukan eksploitasi sumber daya laut dan pulau secara bebas dan tak
terkendali.
2.2. Demografi
Sejarah asal-usul penduduk yang memdiami kepulauan Padaido tidak akan terlepas adanya peristiwa migrasi penduduk dari luar
kepulauan Padaido (P.Biak, P. supiori) menuju kepulauan Padaido dan antar gugus pulau di Padaido itu sendiri.
Hal ini yang mengakibatkan adanya perubahan penguasaan atas gugusan pulau-pulau di kepulauan Padaido dan tempat pertuanan
untuk mencarai (baca : mencari ikan) sampai sekarang.
Alur migrasi penduduk dapat dibedakan atas klan-klan besar dari P. Biak yaitu sebagai berikut :
a. Klan besar dari Ambroben bermigrasi ke :
- P. Mbromsi menetap di Mbromsi
- P. Mioswundi (Wundi)
- P. Pasi
b. Klan besar dari Mokmer bermigrasi ke :
- P. Owi
- P. Mbromsi, menetap di Nyansoren
- P. Mioswundi (Wundi)
- P. Nusi
- P. Pasi
c. Klan besar dari Bosnik bermigrasi ke :
- P. Owi
- P. Mios Manggwandi
- P. Auki
- P. Pai
d. Klan besar dari Opiaref bermigrasi ke :
- P. Auki
- P. Mioswundi (Wundi)
- P. Pakreki (tempat mencari)
e. Klan besar dari Saba bermigrasi ke P. Auki
f. Klan besar dari Anggaduber bermigrasi ke P. Pai.
Untuk distribusi pembagian tempat pertuanan dan mencari masyarakat di kepulauan Padaido dapat dilihat sebagai berikut
;
a. Pakreki merupakan tempat mencari bersama bagi masyarakat ;
- Wundi
- Opiaref
- Pasi
- Mbromsi
- Nyansoren
b. P. Wurki merupakan tempat mencari bersama bagi masyarakat ;
c. P. Workbundi merupakantempat mencari bersama bagi masyarakat ;
- Menupisen (P. Padaidori)
- Sasari (P. Padaidori)
- Saribra (P. Mbromsi)
d. P. Runi merupakan tempat mencari bagi masyarakat Saribra (P. Padaidori)
e. P. Nukori merupakan tempat mencari bersama bagi masyarakat ;
- Nyansoren
- Pasi
- Sambar Pasi
f. P. Dauwi merupakan tempat mencari bagi masyarakat Nyansoren
g. P. Wamsoi merupakan tempat mencari bagi masyarakat Pasi

Data statistik jumlah penduduk tiap desa yang ada di kepulauan Padaido adalah sebagai berikut
|
No.
|
Desa
|
Jumlah Penduduk
|
Jumlah Total
|
|
Laki-Laki
|
Perempuan
|
| 1 |
Owi |
192 |
184 |
376 |
| 2 |
Auki |
110 |
109 |
219 |
| 3 |
Wundi |
173 |
174 |
347 |
| 4 |
Nusi |
179 |
161 |
340 |
| 5 |
Pai |
209 |
193 |
402 |
| 6 |
Miosmanggwandi |
147 |
129 |
276 |
| 7 |
Pasi |
202 |
167 |
369 |
| 8 |
Mbromsi |
162 |
156 |
318 |
| 9 |
Padaido |
99 |
112 |
211 |
| 10 |
Nusi Babaruk |
109 |
92 |
201 |
| 11 |
Samber Pasi |
74 |
58 |
132 |
| 12 |
Karabai |
114 |
116 |
230 |
| 13 |
Saribra |
95 |
104 |
199 |
| 14 |
Sasari |
136 |
121 |
257 |
Sumber : Kantor Statistik Biak Numfor, 1995
3. Bentang Alam Ekologi
3.1. Fisik
3.1.1. Fisiografi
Secara fisografi kepulauan Padaido mempunyai relief yang sederhana yaitu antara 0 - 50 meter.
3.1.2. Geologi
Dari interpretasi peta geologi regional (Irian Jaya) dan peta gelogi lokal Biak dan sekitarnya,
Biak dan kepulauan padaido terletak pada busur luar jalur batas /tumbukan antar lempeng (Pasifik dan Australia), sehingga
ditansdai adanya aktifitas proses proses gelogi yaitu gejala kegempaan, pengangkatan dan sesar aktif, sehinga berpotensi
sebagai daerah rawan bencana.
Hal ini bisa dibuktikan dengan melihat statistik gempa yang menimpa Biak dan sekitarnya dari catatan tahun 1965 sampai
sekarang. Periode 1965 hingga tahun 1970 hanya tercatat satu gempa dengan kekuatan sekitar 6 SR (sekala richter) berkedalaman
dangkal (< 120 km ) yang berpusat (epicenter) di timur Biak di dekat pulau karang Padaidori. Periode 10 tahun berikutnya
hingga 1980 ditandai oleh beberapa peristiwa kegempaan di tempat (pusat) yang sama dengan kekuatan gempa sekitar 5 - 6 SK dan
peristiwa gempa yang terbaru pada bulan Februari 1996 dengan kekuatan 6 SK disertai dengan tsunami yanga
banyak membawa korban baik harta maupun benda.
Secara geologi Kepulauan Padaido merupakan gugusan pulau-pulau karang dan termasuk dalam formasi batu gamping , koral dan
kapur.
3.1.3. Tanah
Berdasarkan peta penyebaran tanah di Irian Jaya, di kepulauan Padaido mempunyai jenis tanah Rendzina dan Terarosa.
Pembentukan tanah ini semata-mata dipengaruhi oleh batuan induk asalnya. Redzina dangkal yang berbatu terdapat
dibukit-bukit Kapur dan sepanjang daerah pantai
Rendzina juga terbentuk oleh batu karang muara yang terangkat lebih belakangan. Ciri tanah Rendzina ialah cakrawala
permukaan tanah bewarna cokelat tua yang lembab, meliputi bahan berpasiryang cokelat keabu-abuan yang bergabung menjadi koral
yang lapuk.
Tanah Terarosa juga termasuk tanah rendzina, sebagian besar terbentuk karena pengaruh iklim terhadap substrat batu kapur,
mengandung tanah liat.
3.2. Kondisi Keanekaragaman Hayati
Flora
Jenis vegetasi yang ada di kepulauan Padaido, terdapat tipe-tipe komunitas vegetasi seperti :
- Bakau
- Rawa
- Kelapa
- Pinang
- Kebun Campuran
- Bambu
- Hutan Alam
Dilihat dari penyebarannya, bakau biasanya terdapat di daerah pantai yang terlindung.
Formasi pinang terdapat disekitar pemukiman yang polanya disepanjang pantai,kebun kelapa biasanya memanjang disekitar
pantai sampai ke pemukiman. Hutan yang terdapat di kepulauaan Padaido merupakan hutan karang yang kebanyakan terdapat di
gugus pulau yang tidak didiami manusia misalnya P. Pakreki sebagian P. Auki.
Sumber Daya Alam Hayati Laut
Terdapat 3 ekosistem :
- Hutan Bakau
- Padang Lamun (Seagrass)
- Terumbu Karang
Disamping ketiga ekosistem termasuk didalam ekosistem tersebut adalah ikan, alga, moluska dan echinodermata)
Hutan Bakau
Hutan Bakau di kepulauan Padaido sangat sedikit dan mempunyai lebar yang sempit 30 - 250 meter. Bakau hanya tumbuh berupa
gerombolan yang kecil di P. Padaidori sebelah barat dan beberapa gugus pulau lainnya.
Walaupun komunitasnya sedikit perlu dipertahankan dan dijaga jangan sampai rusak. Perusakan bakau oleh aktivitas manusia
dapat merusak ekosisem lain, seperti padang lamun dan terumbu karang dan ini akan berrdampak negatif pula terdapat sumberdaya
yang ada di ekosistem tersebut.
Padang Lamun (Seagrass)
Ekosistem padang lamun adalah ekosistem yang mempunyai produktivitas tinggi sehinggga dapat menopang kehidupan berbagai
jenis organisme yang hidup di dalamnya. Fungsi padang lamun yang diketahui adalah sebagai perangkap sedimen dan menstabilkan
dasar perairan sehinggga sedimen yang berasal dari daratan dapat tertahan dan tidak masuk ke ekosistem yang terletak
didepannya yaitu ekosistem terumbu karang. Padang lamun dikenal pula sebagai tempat berpijah, berlindung, mencari makanan dan
tempat asuhan atau pembesaran bagi beberapa jenis ikan, udang dan hewan invertebrata lainnya.
Pada umumnya disekitar ekosistem padang lamun terdapat ekosistem lain yaitu terumbu karang dan hutan bakau.
Distribusi padang lamun tersebar hampir merata di gugusan kepulauan Padaido dan menurut pengamatan dari Puslitbang
Oseonologi LIPI, Ambon, 1995, lokasi yang memiliki presentasi penutupan dan kepadatan tertinggi terdapat di Insobabi.
Terumbu Karang
Terumbu karang merupakan suatu ekosistem yang unik dan didapatkan di perairan tropika dan umumnya ditandai dengan
menonjolnya kekayaan jenis biota yang hidup didalamnya. Dari segi sosial - ekonomi, terumbu karang banyak memberikan manfaat.
Terumbu karang merupakan sumber perikanan yang produktif, sehingga dapat membantu meningkatkan pendapatan nelayan, penduduk
pesisir, bahkan devisa negara.
Terumbu karang adalah ekosistem khas daerah tropika. Ekosistem ini mempunyai sifat yang sangat menonjol yaitu
produktivitas dan keanekaragaman jenis biotanya tinggi
( Sukarno dkk, 1983 ).Perpaduan warna dan bentuk berbagai biota serta keanekaragaman jenis dalam ekosistem terumbu karang
menimbulkan nilai estetika yang tinggi ( Di Salvo dan Odum, 1974).
Proses terbentuknya terumbu karang
Menurut Darwin terumbu karang terjadi akibat dari suatu rangkaian proses - proses Geologi ( Di
Salvo dan Odum, 1974 ). Pada mulanya di perairan dangkal tropika yang memungkinkan binatang karang hidup terbentuklah terumbu
karang tepi atau
fringing reef. Tetapi kemudian bila ada proses penenggelaman pulau atau naiknya muka air laut atau
up welling secara perlahan - lahan yang mengakibatkan jarak dari pantai ke tepi semakin besar dan terbentuklah
laguna yang dalam dan lebar diantaranya, sehingga terbentuk terumbu karang penghalang atau
barrier reef. Bila daratan yang tenggelam itu berupa pulau kecil maka pulau tersebut lambat laut akan tenggelam
seluruhnnya dibawah permukaan laut dan bila proses ini berlanjut maka terumbu karang penghalang disekitarnya berkembang
menjadi sebuah terumbu karang cincin atau atol.
Tipe - tipe terumbu karang
Terumbu karang dapat tumbuh pada dasar kontinen atau benua atau pulau yang muncul ke permukaan laut.
Berbagai corak terumbu karang dibedakan atas dasar hubungannya dengan daratan sehingga dikenal tiga corak utama terumbu
karang, yaitu :
Terumbu karang tepi atau fringing reef
Bentuk terumbu karang ini tumbuh di sepanjang pantai mencapai kedalaman tidak
lebih dari 40 m. Terumbu karang ini tumbuh ke arah permukaan dan kearah ke luar ke jurusan laut terbuka. Pertumbuhan yang
optimum terdapat di daerah yang cukup ombak, sedang diantara tepi sebelah luar dengan tepi daratan cenderung mati karena
terjadinya perubahan suhu dan salinitas serta terdapatnya banyak endapan. Pada pntai yang curam, terumbu karang ini
berkembang di daerah - daerah lereng di bawah permukaan laut. Sedang pada pantai yang landai terumbu karang berkembang
relatif horisontal ( Molengraaff, 1929 ).
Terumbu karang penghalang atau barrier reef
Bentuk terumbu karang ini mempunyai jarak yang jauh dari pantai di dekatnya,
dipisahkan oleh laguna yang dalam. Kedalaman laguna mencapai 100 m tetapi umunya 40 - 75 m (Molengraaff, 1929 ).
Terumbu karang cincin atau atol.
Terumbu karang ini berbentuk cincin dan tumbuh mengelilingi sebuah laguna yang
dalam tanpa pulau di tengahnya. Terdapat celah - celah akibat pengikisan oleh arus laut, disebabkan karena air laut di
luar atol berhubungan langsung dengan air yang ada di dalam lingkaran daratan atol (Molengraaff, 1929 ).
Faktor - Faktor Pembatas Terumbu Karang
Proses umbulan atau
Upwelling di laut
Terjadinya upwelling air dingin yang menurunkan suhu perairan pantai yang
dangkal sampai dibawah suhu yang diperlukan untuk perkembangan terumbu ( Baken ).
Cahaya matahari
Cahaya adalah salah satu faktor yang paling penting yang membatasi terumbu
karang, karena ccahaya diperlukan bagi proses fotosintesis. Kedalaman panetrasi sinar mempengaruhi kedalaman pertumbuhan
karang. Intensitas dan kualitas cahaya yang dapat menembus air laut sangat penting dalam menentukan sebaran vertikal karang
batu yang mengandungnya. Semakin dalam laut, semakin kurang intensitas cahaya yang didapat atau dicapai yang berarti semakin
kecil produksi oksigen. Kedalaman laut maksimum untuk karang batu pembentuk terumbu karang adalah 45 meter. Lebih dari itu
cahaya terlalu lemah untuk zooxanthella yang merupakan alga mikroskopik bersel tunggal dalam menghasilkan oksigen yang cukup
bagi karang batu (Wells, 1956).
Kejernihan air
Karang batu hidup dibawah permukaan air. Karang batu untuk hidupnya memerlukan
air laut yang bersih dari kotoran - kotoran., oleh karena benda - benda yang terdapat di dalam air dapat
menghalangi masuknya cahaya matahari yang diperlukan untuk hidup zooxanthella. Di samping itu, endapan lumpur atau pasir yang
terkandung di dalam air yang diendapkan oleh arus dapat mengakibatkan kematian pada terumbu karang (Karliansyah, 1988 ).
Kedalaman
Karang batu hidup subur pada kedalaman tidak lebih dari 40 meter ( Molengraaff,
1929). Menurut Wells ( 1956 ) pertumbuhan paling subur berada di kedalaman kurang lebih 20 meter.
Suhu perairan
Suhu terendah dimana karang batu dapat hidup yaitu 15oC, tetapi kebanyakan ditemukan pada suhu air diatas
18oC dan tumbuh sangat baik antara 25oC - 29oC. Temperatur maksimum dimana terumbu karang
masih hidup adalah 36 oC. Menurut Kuenen ( Sukarno, 1982 ), suhu terbaik untuk pertumbuhan karang batu adalah
25 oC - 31 oC. Dan masih dapat hidup pada suhu 15 oC, tetapi perkembangangbiakan,
metabolisme d`an pengapuran akan terganggu.
Salinitas air laut
Salinitas dimana karang batu dapat hidup yaitu 27 - 40 %, tetapi mereka hidup
paling baik pada salinitas normal air laut yakni 36 % ( Wells, 1956 ). Perairan pantai akan terus - menerus mengalami
pemasukan air tawar secara teratur dari aliran sungai, sehingga salinitasnya berkurang yang akan mengakibatkan kematian
terumbu karang, yang juga membatasi sebaran karang secara lokal.
Pengendapan
Endapan yang berada di dalam air maupun di atas karang mempunyai pengaruh
negatif terhadap terumbu karang. Endapan yang berat akan menutupi dan menyumbat struktur pemberi makanan yang ada dalam
terumbu karang. Endapan di air mengakibatkan cahaya untuk fotosintesis berkurang sehingga pertumbuhan terumbu karang
berkurang atau menghilang ( Baken ).
Pergerakan air atau arus
Pergerakan air atau arus diperlukan untuk tersedianya aliran suplai makanan
jasada renik dan oksigen maupun terhindarnya karang dari timbunan endapan. Di daerah terumbu karang siang hari oksigen banyak
diperoleh dari hasil fotosintesa zoonxanthella dan dari kandungan oksigen yang ada di dalam massa air itu sendiri, sedangkan
di malam hari sangat diperlukan arus yang kuat yang dapat memberi suplai oksigen yang cukup bagi fauna di terumbu karang. Di
laut terbuka suplai oksigen selalu mencukupi, tetapi di perairan yang agak tertutup pertumbuhan karang batu lebih dihalangi
oleh kekurangan makanan. Oleh karena itu pertumbuhan terumbu karang di tempat yang airnya selalu teraduk oleh angin, arus dan
ombak lebih baik daripada yang tenang dan terlindung ( Baken ).
Substrat
Planula karang batu hanya dapat melekat pada substrat yang keras dan kuat
seperti cangkang, karang batu yang telah mati dan kerangka dari organisme lain ( Wells, 1956).
Hasil Pengamatan
Pengamatan yang dilakukan oleh Ibu Arien bersama masyarakat setempat dengan pengamatan secara
kulaitatif dan kuantitatif dengan mengamati kondisi terumbu karang yaitu dengan metode transek garis.
Pengamatan ditujukan untuk memperoleh gambaran tentang posisi tutupan terumbu karang trutama bentuk
pertumbuhannya. Seluruh biota yang ada di bawah garis transek dicatat dengan ketelitian mendekati centimeter, baik itu
penutupan karang maupun penghitungan butterfly fish (ikan kupu-kupu). Penghitungan lain seperti temperatur air laut,
kejernihan air laut juga diukur guna mendukung hasil pengamatan terumbu karang.
Daerah pengamatan meliputi Saba, Wundi, Dauwi 1, Dauwi 2, Dauwi 3, Runi dan Pasi.
Dari hasil pengamatan (monitoring) enam bulanan yaitu Oktober 1997 dan Mei 1998 bisa disimpulkan dari
tiap site monitoring menunjukkan adanya hubungan antara penutupan karang dengan jumlah spesies ikan kupu-kupu.
Di lokasi monitoring Saba, dimana penutupan karangnya tinggi, jumlah spesies ikan kupu-kupu lebih
tinggi dibanding dengan lokasi monitoring di Dauwi (1,2,3) dan Pasi, yang penutupan karangnya lebih rendah karena adanya
pengaruh dari gempa.
Dibanding dengan lokasi monitoring di Wundi, Saba jauh lebih tinggi hal ini disevbabkan adanya
aktivitas pemboman ikan yang berakibat rusaknya tutupan karang.
Jika dilihat berdasarkan kondisi kulaitas dan kuantitas terumbu karang didapat :
- Saba - paling bagus
- Dauwi, Runi dan Pasi - sedang
- Wundi - rusak

4. Kondisi Sosial Ekonomi
4.1. Mata Pencaharian
4.1.1. Pertanian
Hasil utama pertanian di gugusan kepulauan Padaido adalah pertanian tanaman keras yaitu pohon kelapa yang banyak di tanam
oleh masyarakat. Hampir seluruh Kepulauan Padaido pertaniannya hanya sebatas pada kelapa.
Hal ini bisa terjadi kerena menurut sejarahnya pada jaman VOC (Belanda) mewajibkan masyarakat di kepulauan untuk menanam
pohon kelapa yang bibitnya sudah disediakan, sehingga sampai sekarang masih dilanjutkan untuk diusahakan oleh masyarakat
kepulauan.
Untuk menjaga produksi kelapa, di beberapa gugus kepulauan masyarakatnya lewat lembaga adat dan gereja memberlakukan
sasi
bulan terhadap pohon kelapa.
Disamping pohon kelapa, masyarakat kepulauan juga menanam umbi-umbian mislanya ubi talas, petatas, bete dan sejenisnya
yang pemanfaatannya sebatas untuk keperluan sehari-hari.
Pada tanah pekarangan dekat rumah penduduk juga memanfaatkan untuk ditanami pohon pisang dan sayuran (cabe, tomat, bayam
dll).
4.1.2. Peternakan
Jenis ternak yang diusahakan masyarakat kepulauaan pada umumnya adalah Babi dan Ayam.
Ternak Babi tidak terlalu banyak jumlahnya, karena hanya orang tertentu (baca
; mampu) yang mempunyai peliharaan Babi.
Ayam, umumnya dipelihara hanya untuk kebutuhan sendiri, belum terlihat adanya pengusahaan secara intensif.
4.1.3. Perikanan
Di samping hasil dari pertanian masyarakat kepulauan Padaido juga menggantungkan hidupnya dari penangkapan ikan tuna dan ikan
karang lainnya. Penangkapan ikan masih dilakukan dengan cara tradisional dengan pancing, tombak dan jaring buatan setempat.
Dengan menggunakan perahu yang relatif kecil dan alat yang sederhana, penduduk tidak mengharap banyak karena pada dasarnya
penangkapan ikan untuk sebagian besar penduduk merupakan hanya sekedar untuk pemenuhan hidup sehari-hari, bila ada lebihnya
baru dibuat ikan asar atau ikan asin untuk dijual, disamping ikan segar itu sendiri.
Kegiatan penangkapan ikan biasanya dilakukan pada bulan April sampai Oktober disaat ombak laut relatif tenang.
Yang perlu jadi catatan dalam kegiatan penangkapan ikan adalah :
- Masih adanya usaha penangkapan ikan dengan menggunakan bom (bahan peledak) yang berdampak terhadap rusaknya karang yang
merupakan habitat dari ikan-ikan tersebut.
- Adanya perusahaan perikanan yang melakukan penangkapan secara modern. Hal ini merupakan potensi sumber konflik dengan
masyarakat setempat karena tidak adanya pembagian tempat penangkapan (fishing ground) yang jelas, kadang-kadang perusahaan
penangkapan ikan tersebut melakukan penangkapan didaerah penangkapan tradisional masyarakat setempat. Kalau hal ini tidak
segera diatasi bisa berakibat menurunnya populasi ikan di daerah tersebut.
- Adanya kebiasaan masyarakat turun ramai-ramai saat
meti
besar di rataaan terumbu karang untuk mencari ikan , teripang, serta moluska bisa memberi dampak negatif terhadap
lingkungan laut karena pengambilan jenis karang, molusca dan ikan yang terperangkap di goba-goba cekungan kecil tidak
memandang besar dan kecil semuanya diambil guna menambah kebutuhan sehari-hari.
4.2 Sistem Perekonomian
Untuk menjual hasil pertanian dan perikanan masyarakat kepulauan Padaido menjualnya lewat pasar yang ada di P. Biak yaitu
di Bosnik dan di Biak Kota.
Pasar Bosnik selama seminggu terdapat tiga hari pasar yaitu Selasa, Kamis dan Sabtu. Jadi masyarakat kepulauan pada
hari-hari tersebut ramai-ramai dengan perahu turun ke P.Biak untuk melakukan transaksi jual beli.
Selama di Biak (Bosnik dan Biak kota) masyarakat kepulauan sekalian mencari kebutuhan sehari-hari untuk dibawa ke
pulau
Belum adanya fasilitas pasar bagi kegiatan ekonomi di kepulauan membuat kegiatan ekonomi di gugus pulau-pulau Padaido
tidak begitu nampak. Hal ini menunjukkan keberadaan pasar di kepulauan Padaidoi sangat dibutuhkan untuk menggerakkan
perekonomian.
4.3 Kelembagaan
Kelembagaan yang berperan dimasyarakat di kepulauan Padaido yang terlihat adalah:
a. Gereja
Pengaruh lembaga Gereja pada masyarakat sangat dominan,
hal ini disebabkab karena pengaruh penyebaran agama kristen dari abad 20 memberikan perubahan yang besar terhadap kehidupan
masyarakat. Perubahan itu antara lain :
-
Perubahan bentuk pranata sosial (pemerintahan ) dari yang tadinya bersifat lokal dan khusus,
menjadi pemerintahan yang nasioanal dan diatur oleh pusat.
-
Perubahan bentuk pranata ekonomi dari tukar menukar menuju ekonomi uang
-
Perubahan sistem keyakinan dari percaya kepada
Manseren Nangggi dan ruh nenek moyang, berubah manjadi keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
-
Adanya pengadopsian upacara adat menjadi upacara gereja, misalnya, upacara pemandian gereja dan
ritus
k'bor menjadi
sidi.
-
Mengenal pendidikan modern dengan adanya sekolah-sekolah kristen.
b. Lembaga Pemerintahan Desa - LMD (Lembaga Musyawarah Desa)
Merupakan lembaga resmi dari pemerintahan yang mengatur kehidupan bermasyarakat
yang mewakili pemerintahan pusat. Lembaga ini mengatur perencanaan pembangunan desa dan aturan desa baik secara adat maupun
pemerintahan.
c. BPE (Badan Pengelola Ekowisata)
Merupakan lembaga yang didirikan oleh masyarakat yang difasilitasi oleh Yayasan
Rumsram, bertujuan menjadikan ekowisata yang berbasiskan masyarakat lokal, sehingga masyarakat akan memperoleh nilai tambah
atau masyarakat akan ikut menerima langsung dari kegiatan ekowisata.
d. LMA (Lembaga Masyarakat Adat)
e. Lembaga baru, bentukan dari pemerintah. Mengenai tujuan dan visinya sampai
saat laporan ini disusun belum jelas keberadaanya masyarakat. Lembaga ini berada di tingkat kecamatan dan terdiri dari
anggota-anggota masyarakat yang kebanyakan bekerja di pemerintahan.
* Tulisan ini adalah hasil dari Pemetaan Partisipatif di Kep. Padaido Agustus - Oktober 1998.
Diskusikan artikel/tulisan ini dalam forum. (0 entri) |