|
Halaman 2 dari 5
II. BENTANG ALAM EKOLOGI
2.1. Bentang Alam Fisik
2.1.1. Fisiografi
Wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, dilihat dari aspek fisiografisnya secara umum
dibedakan menjadi tiga wilayah fisiografis yaitu wilayah dataran Daerah Aliran
Sungai (DAS) Kapuas, wilayah Pegunungan Hulu Kapuas dan wilayah Pegunungan Muller.
Wilayah-wilayah fisiografis ini memiliki kekhasan dan tidak terdapat ditempat
lain.
Wilayah fisiografi Dusun Sungulo' Palin merupakan bagian dari wilayah Dataran
DAS Kapuas Hulu. Daerah aliran sungai ini terutama merupakan danau-danau dan
rawa-rawa yang dangkal dan teras-teras rendah yang sangat luas, bergambut dan
tidak subur, yang dikelilingi oleh pinggiran sempit yang meliputi dataran berombak
dan berbukit-bukit yang terpencar.
Daerah aliran sungai Nyabau, sungai Ipung dan sungai Ulu merupakan daerah
perladangan penduduk Dusun Sungulo' Palin yang diusahakan pada kedua sisi aliran
sungai tersebut.
Perladangan yang agak menetap dilakukan secara intensif di bantaran-bantaran
sungai sempit, sedang peladangan berpindah telah mempengaruhi banyak bantaran
pinggiran daerah aliran sungai ini.
Kondisi fisik yang berawa-rawa dan banyak danau membuat transportasi antar
desa-desa utama sangat sulit.
Topografi/Ketinggian
Wilayah Dusun Sungulo' Palin memiliki ketinggian antara 25 - 500 meter di
atas permukaan laut (dpl) dengan beberapa aliran sungai utama yang mengalir
di wilayah ini seperti sungai Nyabau, sungai Ipung dan sungai Ulu dengan anak-anak
sungainya yang bermuara pada sungai-sungai tersebut.
Dengan ketinggian tidak lebih dari 500 meter dpl, Dusun Sungulo' Palin memiliki
topografi wilayah yang cukup bervariasi mulai dari wilayah datar sampai wilayah
perbukitan. Perbukitan yang terdapat di Dusun Sungulo' Palin ini tersebar di
bagian utara dusun meliputi Bukit Kemuru (350 m), dan di bagian selatan dusun
meliputi Bukit Nyala Bintang (250 m), Gunung Tendek (380 m) dan Gunung Pulau
Asu (245 m).
Ketinggian merupakan salah satu faktor yang penting untuk menentukan daerah-daerah
mana yang merupakan lahan yang sesuai untuk pengembangan tanaman dengan hasil
yang optimal dan memberikan nilai yang cukup ekonomis. Seperti misalnya Karet,
walaupun maksimum ketinggian yang diperbolehkan sampai 500 meter, pertumbuhan
yang sangat optimal dan sangat memuaskan akan terjadi hanya pada ketinggian
maksimum 200 meter. Di atas ketinggian tersebut hasil akan berkurang secara
proporsional dan kedewasaan tanaman akan terlambat demikian pula pada kelapa
sawit yang hanya dapat tumbuh secara optimal pada ketinggian antara 0 - 300
meter. Pada wilayah Dusun Sungulo' Palin ini menyediakan cukup banyak lahan
untuk pengembangan perkebunan tanaman Karet dan Kelapa sawit.
2.1.2. Geologi
Formasi Pengendapan
Di Dusun Sungulo' Palin yang merupakan bagian dari dataran DAS (Daerah Aliran
Sungai) Kapuas Hulu tidak ditemukan endapan dari strata tersier muda atau tersier
menengah. Endapan-endapan tebal yang merupakan endapan-endapan kuarter muda
mengelilingi bagian-bagian dalam yang bersifat metamorf dan granit tersisa,
yang membentuk sebagian besar teras-teras di daerah ini. Endapan ini terutama
berasal dari granit yang kaya kuarsa dan bahan vulkanik yang banyak terdapat
di wilayah pegunungan yang bersebelahan dengan dataran ini. Di bagian barat,
endapan yang berasal dari campuran bahan-bahan sungai, estuari dan laut dengan
tekstur yang bervariasi dari halus sampai kasar. Sedangkan endapan organik yang
dominan di wilayah ini adalah gambut yang mengisi bagian permukaan, cekungan
dan lembah-lembah sempit yang menembus pinggiran teras. endapan-endapan yang
agak baru dari zaman kuarter dan pleistosen ditemukan di daerah pegunungan di
hulu DAS Kapuas, yang sedikit terangkat dan tertoreh dengan tekstur dominan
pasir-pasir kuarsa yang tidak konsolidasi. Endapan ini tetap membentuk teras
yang letaknya rendah. Demikian pula di cekungan DAS Kapuas Hulu, endapan-endapan
aluvial muda menempati dataran-dataran banjir. Endapan ini berasal dari rangkaian
pegunungan yang bersebelahan yang mengandung batu pasir dengan proporsi tinggi
dan didominasi oleh endapan yang berasal dari bahan silika, pasir dan lempung.
Batuan Dasar
Di daerah Pegunungan Kapuas Hulu, batuan utama diduga berupa gneis, sekis,
filit, kuarsit, andesit dan basalt. Batuan-batuan ini terdapat sebagai blok-blok
terpatah-patah yang membentang seluas satu km, sampai pada potongan-potongan
yang tersusun seperti genting yang berukuran hanya beberapa meter persegi saja.
Beberapa batuan beku yang di antaranya berasal dari zaman Pra Tersier dari
masa kapur dan Jura mendasari Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas Hulu. Batuan
yang meliputi granit biotit yang pucat dan berbutir sedang, basalt dan gabbro
ini berperan sebagai pembentuk topografi yang sangat kuat.
2.1.3. Jenis Tanah
Deskripsi dan analisis jenis tanah di Dusun Sungulo Palin ini mengacu pada
kondisi tanah daerah Kapuas Hulu secara umum yang didasarkan pada tinjauan
terhadap Peta Tanah Eksplorasi Propinsi Kalimantan Barat skala 1:1000.000 oleh
Lembaga Penelitian Tanah Bogor.
Tanah Organosol, Glei dan Humus
Tanah Organosol merupakan golongan tanah yang tersusun dari bahan organik
atau campuran bahan mineral dan bahan organik setebal paling sedikit 50 cm mengandung
paling sedikit 39% bahan organik (bila liat) atau 20% (bila berpasir). Kepadatan
atau bulkdensity kurang dari 0,6 dan selalu jenuh air. Tanah ini mudah mengerut
tak balik, dan bila kering peka erosi dan mudah terbakar.
Bagian terbesar tanah gambut di Kapuas Hulu merupakan gambut oligotrop dengan
tebal rata-rata 3 meter. Tanah gambut ini sangat permeabel. Drainase dengan
penggalian parit dengan cepat menurunkan permukaan tanah karena proses eksidasi,
mineralisasi dan pengerutan yang dipercepat.
Di dataran rendah seperti dataran berawa sekitar sungai Kapuas, tanah gambut
berasosiasi dengan tanah glei humus dan aluvial hidromorf. Tanah di dataran
ini sebagian besar dipengaruhi oleh pasang surut. Di beberapa tempat, bagian
yang mendapat limpahan air pasang dengan ketebalan gambut kurang dari satu meter
banyak dimanfaatkan penduduk sebagai lahan persawahan pasang-surut. Jenis gambut
yang berpotensi tinggi untuk pertanian adalah gambut eutrop dimana air yang
menggenanginya mengandung unsur hara dan mineral yang cukup tinggi. Namun demikian,
kebanyakan tanah gambut di Kapuas Hulu yang merupakan gambut oligotrop, umumnya
sangat kurus serta terancam racun dari humus yang asam, walaupun tanah gambut
ini masih memberi kemungkinan untuk pengembangan tanaman tanah kering (upland
crops). Tanah gambut yang ditemukan di dataran rendah Daerah Aliran Sungai Kapuas
Hulu ini tergolong sebagai tropohemist, troposaprist dan tropofibrist dengan
kedalaman 2 sampai lebih dari 6 meter. Gambut tersebut sangat asam, mempunyai
kemampuan pertukaran kation yang tinggi tetapi tidak jenuh dan umumnya sangat
miskin hara utama maupun minor.
Tanah Podsolik Merah Kuning.
Tanah jenis ini memiliki perkembangan profil sedang, berwarna merah sampai
kuning, horison argilic, masam,kurus dengan kemampuan pertukaran kation dan
kejenuhan basah rendah.
Sebaiknya tanah ini diusahakan untuk pertanian tanah kering atau perkebunan
disertai dengan usaha-usaha konservasi tanah karena jenis tanah ini sangat peka
terhadap erosi ditambah lagi curah hujan di Kapuas Hulu yang relatif tinggi.
2.1.4. Iklim
Menurut sistem Koppen, iklim di Kapuas Hulu dikelompokkan sebagai "A.f.a.w",
yaitu iklim isotermal hujan tropik dengan musim kemarau yang panas (suhu rata-rata
dalam bulan terpanas lebih tinggi dari 22 ° Celsius dan dengan maksimum curah
hujan ganda). Curah hujan rata-rata pertahun umumnya berkisar antara 3500 mm
sampai 4500 mm per tahun. Wilayah dengan curah hujan di bawah 3500 mm per tahun
terdapat di wilayah Aliran Sungai Kapuas Hulu memanjang dari perbatasan Sintang-Kapuas
Hulu kearah Timur melintasi gugusan Danau Belinda, Sentarum dan lain-lain sampai
pada daerah hilir sungai Embaloh. Sedangkan curah hujan di atas 4500 mm per
tahun terjadi di daerah yang sangat sempit di perbatasan Kapuas Hulu dengan
Propinsi Kalimantan Timur dengan Kalimantan Tengah.
Wilayah Kapuas Hulu sebagian besar memiliki 10 sampai 12 bulan basah (rata-rata
curah hujan per bulan > 200 mm) per tahun tanpa ada bulan kering. Daerah
dengan bulan basah kurang dari 11 bulan hanya meliputi sebagian kecil Daerah
Aliran Sungai Kapuas Hulu memanjang dari hilir Sungai Embaloh sampai ke perbatasan
dengan Kabupaten Sintang menyusuri sebelah Timur Sungai Bunut.
2.2. Kondisi Keanekaragaman Hayati
2.2.1. Jenis Vegetasi
Hasil transek yang disertai wawancara dengan masyarakat diperoleh informasi
bahwa Dusun Sungulo' Palin banyak terdapat jenis vegetasi. Jenis-jenis vegetasi
tersebut dapat dilihat berdasarkan jenis lahan yang diusahakan.
Tanaman Ladang
Tanaman ladang yang dominan diusahakan pada lahan ladang ini adalah padi.
Ditanam untuk memenuhi kebutuhan sendiri dengan pengelolaan yang sederhana dan
menggunakan varietas lokal. Dalam satu tahun tanaman padi ini diusahakan hanya
satu kali saja. Terdapat pula beberapa tanaman sayuran yang ditanam secara tumpangsari
dengan tanaman padi ini seperti; Timun dan Terung. Tanaman lain yang diusahakan
di lahan ladang ini adalah Tebu yang hasilnya lebih dimanfaatkan untuk kebutuhan
dapur seperti; bahan baku gula dan minuman beralkohol (Papa').
Tanaman Kebun
Pengusahaan tanaman kebun di Dusun Sungulo' Palin adalah di sekitar pinggiran
ladang, meliputi tanaman palawija seperti; Jagung, Singkong, Ubi, Kacang-kacangan,
Cabai, sampai tanaman keras seperti Karet dan Bambu. Tanaman buah yang tumbuh
di sekitar kebun seperti pohon Rambutan, Jambu air, Jambu biji, Durian, Manggis,
Lengkeng dan Keranji berbuah menurut musimnya masing-masing.
Tanaman Belean Uma (Ora dan Tana Toa) dan Hutan Lindung
Jenis vegetasi yang tumbuh pada lahan-lahan ini cenderung sama, meliputi tanaman
tali seperti Rotan sampai tanaman keras/kayu yang berumur satu sampai puluhan
tahun, seperti; pohon kayu Embari, Pulang, Kautu, Takalong, Barangan, Bungkang,
kulit Papa, Tengkawang, Meranti batu, Meranti bunga, Tigong, Tekam, Kruing,
kayu Lita, Beringin, Serangkeng, Medang, Temau, Malapi dan kayu Resak. Pohon
kayu Belian dan Bedaru di Dusun Sungulo' Palin sudah jarang ditemui, hanya
terdapat setempat-setempat disekitar hutan lindung. Tanaman-tanaman tersebut
tumbuh alami tanpa perawatan khusus dari penduduk atau petani setempat.
Tanaman Bahan Kerajinan
Parupuk merupakan pohon berdaun panjang (sejenis pandan) yang tumbuh
di sekitar pemukiman dan kebun tidak diusahakan secara intensif, sehingga dikhawatirkan
jumlahnya akan terus berkurang. Tanaman ini digunakan penduduk untuk bahan kerajinan
anyaman seperti; tikar, alas tidur, tempat penyimpanan beras, tas dan topi dengan
menggunakan pengolahan yang sederhana.
2.2.2. Jenis Satwa
Satwa yang hidup di sekitar pemukiman dusun Sungulo' Palin merupakan satwa
peliharaan/ternak yang diusahakan dalam jumlah yang sangat kecil, seperti; Sapi,
Kambing, Ayam dan Bebek. Ada pula hewan rumah seperti Kucing dan Anjing yang
hidup berdampingan dengan penduduk setempat.
Sedangkan satwa liar yang hidup di sekitar ladang dan hutan cukup bervariasi.
Terdapat jenis mamalia meliputi; Kera, Kucing hutan, Harimau dahan, Babi hutan
dan Orang utan. Berbagai jenis burung meliputi; burung Enggang, Mando, Gagak,
Elang, Pungguk, Walet, Bangau, Beo, dan burung Hantu. Jenis reptil lebih didominasi
oleh jenis ular seperti; ular Tedung, Injuluan, Sanca, Sawa dan ular Lawi, sedangkan
jenis Buaya sudah jarang ditemui di sekitar Dusun Sungulo' Palin ini.
Dusun Sungulo' Palin yang di lintasi oleh aliran sungai Nyabau, Ipung dan
Ulu ini memiliki jenis ikan yang beraneka ragam, mulai dari ikan-ikan kecil
seperti; ikan Seluang dan Buntal sampai ikan-ikan besar seperti ikan Gabus besar
(Kandalak), Banta, Kebali, Kanduri, Tapa, Limbunga dan ikan Arungan.
2.3. Pemanfaatan Tanah
Fungsi dan peruntukan tata ruang wilayah Dusun Sungulo' Palin sudah ditentukan
sejak Tau a Jolo (moyang) turun-temurun sampai sekarang. Dilihat dari penggunaan
tanah dan kepemilikannya bisa di bagi menjadi:
- Daerah pemukiman termasuk pekuburan (Kulambu)
- Kebun dan ladang
- Hutan Cadangan (Toan Pamamasan)
- Hutan Lindung (Toan Palindung)
2.3.1 Daerah pemukiman
Dahulu masyarakat semua tinggal di rumah Betang (sao Langke) yang membujur
searah aliran sungai dari hulu ke hilir. Perkembangan sekarang beberapa kepala
keluarga (KK) sudah meninggalkan rumah Betang mendirikan rumah tunggal. Akan
tetapi mereka masih merasa punya hubungan dengan rumah Betang sebagai pusat
kegiatan adat. Dan rumah Betang masih dipandang sebagai tempat berkumpul keluarga
dan kerabat serta merupakan tempat mereka berasal. Rumah tunggal tersebut berlokasi
di sekitar rumah Betang.
Tanah untuk tempat tinggal menurut sejarahnya merupakan milik kaum 'Samagat'
sebagai kepala kampung. Dimana harus menyediakan tanah untuk tempat tinggal
warganya, jadi sampai sekarang masyarakat hanya memiliki hak waris atas rumah.
Demikian juga dengan areal pekuburan (serambi) merupakan tanah milik Tumenggung
yang telah menjadi kewajibannya menyediakan tanah serambi untuk warganya. Luas
untuk wilayah pemukiman ini adalah 0,75 hektar atau mencakup 0,00137 % dari
luas wilayah adat.
2.3.2. Kebun/ladang
Luas kebun dan ladang 2612,438 Ha atau 4,77 % dari luas wilayah adat. Tanah-tanah
kebun dan ladang ini merupakan sumber kegiatan utama dari masyarakat. Dilihat
dari kepemilikannya ladang dan kebun merupakan tanah yang dimiliki oleh tiap
KK sehingga bisa diwariskan keturunannya. Untuk pengaturan ladang didasarkan
pada sejarah moyang mereka dalam membuka ladang yang kemudian diturunkan. Secara
umum masyarakat sangat menguasai batas hak ladang mereka.
Masyarakat adat juga mempunyai aturan menguasai ladang. Bahwa kawasan perladangan
dan kebun tidak boleh dijualbelikan ke pihak lain, dan hanya boleh diolah secara
bersama keluarga untuk pemenuhan kebutuhan pangan.
2.3.3. Hutan Cadangan
Daerah ini merupakan hutan yang berlokasi di sekitar ladang dan pemukiman.
Peruntukannya sesuai dengan namanya. Hutan cadangan ini hanya boleh dibuka untuk
ladang, apabila ladang yang tengah dibuka sudah tidak mencukupi atau tingkat
kesuburan ladang sekarang sudah tidak subur lagi.
Luas hutan cadangan ini adalah 22548,98 Ha atau 41,19 % dari luas tanah adat.
Di samping sebagai cadangan untuk ladang, hasil dari hutan ini juga dapat dimanfaatkan
seperti kayu, Rotan, buah-buahan semisal Durian, Rambutan, Kelengkeng, Karet,
Tengkawang, dan Madu.
2.3.4. Hutan Lindung (Toan Palindung)
Daerah ini oleh masyarakat difungsikan sebagai kawasan konservasi, artinya
daerah ini secara kepemilikan merupakan milik adat (kepemilikan bersama), dan
pemanfatannya hanya sebatas mengambil hasil hutan.
Tata ruang hutan lindung yang sudah digariskan dari dahulu mencerminkan masyarakat
adat mempunyai nilai-nilai kearifan tradisional dalam pengelolaan sumberdaya
alam. Dari morfologinya hutan ini bergelombang sampai berbukit, dan lokasinya
berada di hulu sungai sampai berbatasan dengan Taman Nasional Betung Kerihun.
Hutan lindung ini memiliki luas 29579,136 Ha atau 54,04 %. Hutan lindung ini
merupakan wilayah yang cukup luas.
Dari deskripsi di atas pola pemanfaatan tanah akan terlihat dari skema di bawah
ini.
SKEMA PEMANFAATAN TANAH

Gambar 2. Pola Penggunaan Tanah
|