Depan arrow Topik arrow Sosial arrow Masyarakat Adat Tamambaloh Palin, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat
Masyarakat Adat Tamambaloh Palin, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat Cetak E-mail
Oleh Buana Katulistiwa   
Daftar Isi
Masyarakat Adat Tamambaloh Palin, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat
Bentang Alam Ekologi
Sistem Pertanian dan Pemanfaatan Hutan
Kehidupan Ekonomi
Struktur dan Mekanisme Kelembagaan

II. BENTANG ALAM EKOLOGI

2.1. Bentang Alam Fisik

2.1.1. Fisiografi

Wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, dilihat dari aspek fisiografisnya secara umum dibedakan menjadi tiga wilayah fisiografis yaitu wilayah dataran Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas, wilayah Pegunungan Hulu Kapuas dan wilayah Pegunungan Muller. Wilayah-wilayah fisiografis ini memiliki kekhasan dan tidak terdapat ditempat lain.

Wilayah fisiografi Dusun Sungulo' Palin merupakan bagian dari wilayah Dataran DAS Kapuas Hulu. Daerah aliran sungai ini terutama merupakan danau-danau dan rawa-rawa yang dangkal dan teras-teras rendah yang sangat luas, bergambut dan tidak subur, yang dikelilingi oleh pinggiran sempit yang meliputi dataran berombak dan berbukit-bukit yang terpencar.

Daerah aliran sungai Nyabau, sungai Ipung dan sungai Ulu merupakan daerah perladangan penduduk Dusun Sungulo' Palin yang diusahakan pada kedua sisi aliran sungai tersebut.

Perladangan yang agak menetap dilakukan secara intensif di bantaran-bantaran sungai sempit, sedang peladangan berpindah telah mempengaruhi banyak bantaran pinggiran daerah aliran sungai ini.

Kondisi fisik yang berawa-rawa dan banyak danau membuat transportasi antar desa-desa utama sangat sulit.

Topografi/Ketinggian
Wilayah Dusun Sungulo' Palin memiliki ketinggian antara 25 - 500 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan beberapa aliran sungai utama yang mengalir di wilayah ini seperti sungai Nyabau, sungai Ipung dan sungai Ulu dengan anak-anak sungainya yang bermuara pada sungai-sungai tersebut.

Dengan ketinggian tidak lebih dari 500 meter dpl, Dusun Sungulo' Palin memiliki topografi wilayah yang cukup bervariasi mulai dari wilayah datar sampai wilayah perbukitan. Perbukitan yang terdapat di Dusun Sungulo' Palin ini tersebar di bagian utara dusun meliputi Bukit Kemuru (350 m), dan di bagian selatan dusun meliputi Bukit Nyala Bintang (250 m), Gunung Tendek (380 m) dan Gunung Pulau Asu (245 m).

Ketinggian merupakan salah satu faktor yang penting untuk menentukan daerah-daerah mana yang merupakan lahan yang sesuai untuk pengembangan tanaman dengan hasil yang optimal dan memberikan nilai yang cukup ekonomis. Seperti misalnya Karet, walaupun maksimum ketinggian yang diperbolehkan sampai 500 meter, pertumbuhan yang sangat optimal dan sangat memuaskan akan terjadi hanya pada ketinggian maksimum 200 meter. Di atas ketinggian tersebut hasil akan berkurang secara proporsional dan kedewasaan tanaman akan terlambat demikian pula pada kelapa sawit yang hanya dapat tumbuh secara optimal pada ketinggian antara 0 - 300 meter. Pada wilayah Dusun Sungulo' Palin ini menyediakan cukup banyak lahan untuk pengembangan perkebunan tanaman Karet dan Kelapa sawit.

2.1.2. Geologi

Formasi Pengendapan
Di Dusun Sungulo' Palin yang merupakan bagian dari dataran DAS (Daerah Aliran Sungai) Kapuas Hulu tidak ditemukan endapan dari strata tersier muda atau tersier menengah. Endapan-endapan tebal yang merupakan endapan-endapan kuarter muda mengelilingi bagian-bagian dalam yang bersifat metamorf dan granit tersisa, yang membentuk sebagian besar teras-teras di daerah ini. Endapan ini terutama berasal dari granit yang kaya kuarsa dan bahan vulkanik yang banyak terdapat di wilayah pegunungan yang bersebelahan dengan dataran ini. Di bagian barat, endapan yang berasal dari campuran bahan-bahan sungai, estuari dan laut dengan tekstur yang bervariasi dari halus sampai kasar. Sedangkan endapan organik yang dominan di wilayah ini adalah gambut yang mengisi bagian permukaan, cekungan dan lembah-lembah sempit yang menembus pinggiran teras. endapan-endapan yang agak baru dari zaman kuarter dan pleistosen ditemukan di daerah pegunungan di hulu DAS Kapuas, yang sedikit terangkat dan tertoreh dengan tekstur dominan pasir-pasir kuarsa yang tidak konsolidasi. Endapan ini tetap membentuk teras yang letaknya rendah. Demikian pula di cekungan DAS Kapuas Hulu, endapan-endapan aluvial muda menempati dataran-dataran banjir. Endapan ini berasal dari rangkaian pegunungan yang bersebelahan yang mengandung batu pasir dengan proporsi tinggi dan didominasi oleh endapan yang berasal dari bahan silika, pasir dan lempung.

Batuan Dasar
Di daerah Pegunungan Kapuas Hulu, batuan utama diduga berupa gneis, sekis, filit, kuarsit, andesit dan basalt. Batuan-batuan ini terdapat sebagai blok-blok terpatah-patah yang membentang seluas satu km, sampai pada potongan-potongan yang tersusun seperti genting yang berukuran hanya beberapa meter persegi saja.

Beberapa batuan beku yang di antaranya berasal dari zaman Pra Tersier dari masa kapur dan Jura mendasari Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas Hulu. Batuan yang meliputi granit biotit yang pucat dan berbutir sedang, basalt dan gabbro ini berperan sebagai pembentuk topografi yang sangat kuat.

2.1.3. Jenis Tanah

Deskripsi dan analisis jenis tanah di Dusun Sungulo Palin ini mengacu pada kondisi tanah daerah Kapuas Hulu secara umum yang didasarkan pada tinjauan terhadap Peta Tanah Eksplorasi Propinsi Kalimantan Barat skala 1:1000.000 oleh Lembaga Penelitian Tanah Bogor.

Tanah Organosol, Glei dan Humus
Tanah Organosol merupakan golongan tanah yang tersusun dari bahan organik atau campuran bahan mineral dan bahan organik setebal paling sedikit 50 cm mengandung paling sedikit 39% bahan organik (bila liat) atau 20% (bila berpasir). Kepadatan atau bulkdensity kurang dari 0,6 dan selalu jenuh air. Tanah ini mudah mengerut tak balik, dan bila kering peka erosi dan mudah terbakar.

Bagian terbesar tanah gambut di Kapuas Hulu merupakan gambut oligotrop dengan tebal rata-rata 3 meter. Tanah gambut ini sangat permeabel. Drainase dengan penggalian parit dengan cepat menurunkan permukaan tanah karena proses eksidasi, mineralisasi dan pengerutan yang dipercepat.

Di dataran rendah seperti dataran berawa sekitar sungai Kapuas, tanah gambut berasosiasi dengan tanah glei humus dan aluvial hidromorf. Tanah di dataran ini sebagian besar dipengaruhi oleh pasang surut. Di beberapa tempat, bagian yang mendapat limpahan air pasang dengan ketebalan gambut kurang dari satu meter banyak dimanfaatkan penduduk sebagai lahan persawahan pasang-surut. Jenis gambut yang berpotensi tinggi untuk pertanian adalah gambut eutrop dimana air yang menggenanginya mengandung unsur hara dan mineral yang cukup tinggi. Namun demikian, kebanyakan tanah gambut di Kapuas Hulu yang merupakan gambut oligotrop, umumnya sangat kurus serta terancam racun dari humus yang asam, walaupun tanah gambut ini masih memberi kemungkinan untuk pengembangan tanaman tanah kering (upland crops). Tanah gambut yang ditemukan di dataran rendah Daerah Aliran Sungai Kapuas Hulu ini tergolong sebagai tropohemist, troposaprist dan tropofibrist dengan kedalaman 2 sampai lebih dari 6 meter. Gambut tersebut sangat asam, mempunyai kemampuan pertukaran kation yang tinggi tetapi tidak jenuh dan umumnya sangat miskin hara utama maupun minor.

Tanah Podsolik Merah Kuning.
Tanah jenis ini memiliki perkembangan profil sedang, berwarna merah sampai kuning, horison argilic, masam,kurus dengan kemampuan pertukaran kation dan kejenuhan basah rendah.

Sebaiknya tanah ini diusahakan untuk pertanian tanah kering atau perkebunan disertai dengan usaha-usaha konservasi tanah karena jenis tanah ini sangat peka terhadap erosi ditambah lagi curah hujan di Kapuas Hulu yang relatif tinggi.

2.1.4. Iklim

Menurut sistem Koppen, iklim di Kapuas Hulu dikelompokkan sebagai "A.f.a.w", yaitu iklim isotermal hujan tropik dengan musim kemarau yang panas (suhu rata-rata dalam bulan terpanas lebih tinggi dari 22 ° Celsius dan dengan maksimum curah hujan ganda). Curah hujan rata-rata pertahun umumnya berkisar antara 3500 mm sampai 4500 mm per tahun. Wilayah dengan curah hujan di bawah 3500 mm per tahun terdapat di wilayah Aliran Sungai Kapuas Hulu memanjang dari perbatasan Sintang-Kapuas Hulu kearah Timur melintasi gugusan Danau Belinda, Sentarum dan lain-lain sampai pada daerah hilir sungai Embaloh. Sedangkan curah hujan di atas 4500 mm per tahun terjadi di daerah yang sangat sempit di perbatasan Kapuas Hulu dengan Propinsi Kalimantan Timur dengan Kalimantan Tengah.

Wilayah Kapuas Hulu sebagian besar memiliki 10 sampai 12 bulan basah (rata-rata curah hujan per bulan > 200 mm) per tahun tanpa ada bulan kering. Daerah dengan bulan basah kurang dari 11 bulan hanya meliputi sebagian kecil Daerah Aliran Sungai Kapuas Hulu memanjang dari hilir Sungai Embaloh sampai ke perbatasan dengan Kabupaten Sintang menyusuri sebelah Timur Sungai Bunut.

2.2. Kondisi Keanekaragaman Hayati

2.2.1. Jenis Vegetasi

Hasil transek yang disertai wawancara dengan masyarakat diperoleh informasi bahwa Dusun Sungulo' Palin banyak terdapat jenis vegetasi. Jenis-jenis vegetasi tersebut dapat dilihat berdasarkan jenis lahan yang diusahakan.

Tanaman Ladang
Tanaman ladang yang dominan diusahakan pada lahan ladang ini adalah padi. Ditanam untuk memenuhi kebutuhan sendiri dengan pengelolaan yang sederhana dan menggunakan varietas lokal. Dalam satu tahun tanaman padi ini diusahakan hanya satu kali saja. Terdapat pula beberapa tanaman sayuran yang ditanam secara tumpangsari dengan tanaman padi ini seperti; Timun dan Terung. Tanaman lain yang diusahakan di lahan ladang ini adalah Tebu yang hasilnya lebih dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur seperti; bahan baku gula dan minuman beralkohol (Papa').

Tanaman Kebun
Pengusahaan tanaman kebun di Dusun Sungulo' Palin adalah di sekitar pinggiran ladang, meliputi tanaman palawija seperti; Jagung, Singkong, Ubi, Kacang-kacangan, Cabai, sampai tanaman keras seperti Karet dan Bambu. Tanaman buah yang tumbuh di sekitar kebun seperti pohon Rambutan, Jambu air, Jambu biji, Durian, Manggis, Lengkeng dan Keranji berbuah menurut musimnya masing-masing.

Tanaman Belean Uma (Ora dan Tana Toa) dan Hutan Lindung
Jenis vegetasi yang tumbuh pada lahan-lahan ini cenderung sama, meliputi tanaman tali seperti Rotan sampai tanaman keras/kayu yang berumur satu sampai puluhan tahun, seperti; pohon kayu Embari, Pulang, Kautu, Takalong, Barangan, Bungkang, kulit Papa, Tengkawang, Meranti batu, Meranti bunga, Tigong, Tekam, Kruing, kayu Lita, Beringin, Serangkeng, Medang, Temau, Malapi dan kayu Resak. Pohon kayu Belian dan Bedaru di Dusun Sungulo' Palin sudah jarang ditemui, hanya terdapat setempat-setempat disekitar hutan lindung. Tanaman-tanaman tersebut tumbuh alami tanpa perawatan khusus dari penduduk atau petani setempat.

Tanaman Bahan Kerajinan
Parupuk merupakan pohon berdaun panjang (sejenis pandan) yang tumbuh di sekitar pemukiman dan kebun tidak diusahakan secara intensif, sehingga dikhawatirkan jumlahnya akan terus berkurang. Tanaman ini digunakan penduduk untuk bahan kerajinan anyaman seperti; tikar, alas tidur, tempat penyimpanan beras, tas dan topi dengan menggunakan pengolahan yang sederhana.

2.2.2. Jenis Satwa

Satwa yang hidup di sekitar pemukiman dusun Sungulo' Palin merupakan satwa peliharaan/ternak yang diusahakan dalam jumlah yang sangat kecil, seperti; Sapi, Kambing, Ayam dan Bebek. Ada pula hewan rumah seperti Kucing dan Anjing yang hidup berdampingan dengan penduduk setempat.

Sedangkan satwa liar yang hidup di sekitar ladang dan hutan cukup bervariasi. Terdapat jenis mamalia meliputi; Kera, Kucing hutan, Harimau dahan, Babi hutan dan Orang utan. Berbagai jenis burung meliputi; burung Enggang, Mando, Gagak, Elang, Pungguk, Walet, Bangau, Beo, dan burung Hantu. Jenis reptil lebih didominasi oleh jenis ular seperti; ular Tedung, Injuluan, Sanca, Sawa dan ular Lawi, sedangkan jenis Buaya sudah jarang ditemui di sekitar Dusun Sungulo' Palin ini.

Dusun Sungulo' Palin yang di lintasi oleh aliran sungai Nyabau, Ipung dan Ulu ini memiliki jenis ikan yang beraneka ragam, mulai dari ikan-ikan kecil seperti; ikan Seluang dan Buntal sampai ikan-ikan besar seperti ikan Gabus besar (Kandalak), Banta, Kebali, Kanduri, Tapa, Limbunga dan ikan Arungan.

2.3. Pemanfaatan Tanah

Fungsi dan peruntukan tata ruang wilayah Dusun Sungulo' Palin sudah ditentukan sejak Tau a Jolo (moyang) turun-temurun sampai sekarang. Dilihat dari penggunaan tanah dan kepemilikannya bisa di bagi menjadi:

  • Daerah pemukiman termasuk pekuburan (Kulambu)
  • Kebun dan ladang
  • Hutan Cadangan (Toan Pamamasan)
  • Hutan Lindung (Toan Palindung)

2.3.1 Daerah pemukiman

Dahulu masyarakat semua tinggal di rumah Betang (sao Langke) yang membujur searah aliran sungai dari hulu ke hilir. Perkembangan sekarang beberapa kepala keluarga (KK) sudah meninggalkan rumah Betang mendirikan rumah tunggal. Akan tetapi mereka masih merasa punya hubungan dengan rumah Betang sebagai pusat kegiatan adat. Dan rumah Betang masih dipandang sebagai tempat berkumpul keluarga dan kerabat serta merupakan tempat mereka berasal. Rumah tunggal tersebut berlokasi di sekitar rumah Betang.

Tanah untuk tempat tinggal menurut sejarahnya merupakan milik kaum 'Samagat' sebagai kepala kampung. Dimana harus menyediakan tanah untuk tempat tinggal warganya, jadi sampai sekarang masyarakat hanya memiliki hak waris atas rumah.

Demikian juga dengan areal pekuburan (serambi) merupakan tanah milik Tumenggung yang telah menjadi kewajibannya menyediakan tanah serambi untuk warganya. Luas untuk wilayah pemukiman ini adalah 0,75 hektar atau mencakup 0,00137 % dari luas wilayah adat.

2.3.2. Kebun/ladang

Luas kebun dan ladang 2612,438 Ha atau 4,77 % dari luas wilayah adat. Tanah-tanah kebun dan ladang ini merupakan sumber kegiatan utama dari masyarakat. Dilihat dari kepemilikannya ladang dan kebun merupakan tanah yang dimiliki oleh tiap KK sehingga bisa diwariskan keturunannya. Untuk pengaturan ladang didasarkan pada sejarah moyang mereka dalam membuka ladang yang kemudian diturunkan. Secara umum masyarakat sangat menguasai batas hak ladang mereka.

Masyarakat adat juga mempunyai aturan menguasai ladang. Bahwa kawasan perladangan dan kebun tidak boleh dijualbelikan ke pihak lain, dan hanya boleh diolah secara bersama keluarga untuk pemenuhan kebutuhan pangan.

2.3.3. Hutan Cadangan

Daerah ini merupakan hutan yang berlokasi di sekitar ladang dan pemukiman. Peruntukannya sesuai dengan namanya. Hutan cadangan ini hanya boleh dibuka untuk ladang, apabila ladang yang tengah dibuka sudah tidak mencukupi atau tingkat kesuburan ladang sekarang sudah tidak subur lagi.

Luas hutan cadangan ini adalah 22548,98 Ha atau 41,19 % dari luas tanah adat. Di samping sebagai cadangan untuk ladang, hasil dari hutan ini juga dapat dimanfaatkan seperti kayu, Rotan, buah-buahan semisal Durian, Rambutan, Kelengkeng, Karet, Tengkawang, dan Madu.

2.3.4. Hutan Lindung (Toan Palindung)

Daerah ini oleh masyarakat difungsikan sebagai kawasan konservasi, artinya daerah ini secara kepemilikan merupakan milik adat (kepemilikan bersama), dan pemanfatannya hanya sebatas mengambil hasil hutan.

Tata ruang hutan lindung yang sudah digariskan dari dahulu mencerminkan masyarakat adat mempunyai nilai-nilai kearifan tradisional dalam pengelolaan sumberdaya alam. Dari morfologinya hutan ini bergelombang sampai berbukit, dan lokasinya berada di hulu sungai sampai berbatasan dengan Taman Nasional Betung Kerihun. Hutan lindung ini memiliki luas 29579,136 Ha atau 54,04 %. Hutan lindung ini merupakan wilayah yang cukup luas.


Dari deskripsi di atas pola pemanfaatan tanah akan terlihat dari skema di bawah ini.

SKEMA PEMANFAATAN TANAH

Gambar 2. Pola Penggunaan Tanah



 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com