Depan arrow Artikel arrow Makalah arrow Masyarakat Adat Tamambaloh Palin, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat
Masyarakat Adat Tamambaloh Palin, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat Cetak E-mail
Oleh Buana Katulistiwa   
Daftar Isi
Masyarakat Adat Tamambaloh Palin, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat
Bentang Alam Ekologi
Sistem Pertanian dan Pemanfaatan Hutan
Kehidupan Ekonomi
Struktur dan Mekanisme Kelembagaan

IV. KEHIDUPAN EKONOMI DESA SUNGULO' PALIN

4.1. Aliran Tata Niaga

Komoditi yang dihasilkan oleh masyarakat Dusun Sungulo' Palin adalah padi ladang, sayur, Tebu, getah Karet, Tengkawang, Rotan, Madu, meramu kayu serta mencari ikan di sungai. Diantara komoditi tersebut hanya beberapa hasil kebun seperti Terung, Madu, getah Karet dan Tengkawang yang diperdagangkan. Komoditi lain khususnya padi dan Tebu hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Apabila terdapat hasil yang melimpah dalam setahun baru bisa dijual.

Padi merupakan tanaman utama dibandingkan dengan aktivitas berkebun, menoreh, meramu hasil hutan dan lainnya. Aktivitas diluar berladang padi adalah sebagai berikut :

4.1.1. Berkebun

Berkebun biasanya didekat pemukiman atau di sekitar ladang dengan ditanami sayuran (Terung, Kacang, Labu dan Ketela)

4.1.2. Menggiling Tebu

Lokasi Tebu pada umunya terletak di sekitar ladang dengan luas tiap kebun Tebu beragam tapi tidak sebesar ladang. Hal ini karena hasil Tebu hanya untuk kebutuhan sendiri (dapur), yaitu untuk gula dan membuat minuman Tebu (Papah).

4.1.3. Menoreh Getah (Mangaret)

Dilakukan saat menunggu panen dan tenggang musim ladang berikutnya menoreh karet sangat tergantung dengan cuaca. Untuk hasil yang bagus dilakukan pada cuaca yang terang tidak pada musim hujan.

Aktivitas ini dilakukan saat menunggu panen dan seterusnya. Kepemilikan pohon Karet tiap kepala keluarga beragam tergantung dari kepemilikan lahan Karet dan usaha untuk menanam Karet. Dari 300 batang Karet sekali menoreh bisa menghasilkan 7 - 18 kilo gram getah.

Kegiatan menoreh tidak bisa dilakukan terus menerus, biasanya setelah 10 hari kegiatan menoreh dihentikan dan tergantung dari cuaca jadi perkiraan hasil untuk 300 batang selama satu bulan akan menghasilkan 300 kg - 500 kilo gram (kg).

Untuk 1 kg getah : Rp. 2000 untuk jenis getah di cetak

1 kg : Rp. 1000 untuk yang tidak dicetak

Karena menoreh Karet merupakan kegiatan sampingan, maka dalam satu tahun kegiatan ini berlangsung kurang lebih empat bulan. Rata-rata kepemilikan pohon Karet anatar 100 - 1000 pohon. Bapak Tumenggung Bacupa sendiri memiliki 300 - 1000 batang pohon.

4.1.4. Mengumpulkan Tengkawang dan hasil buah-buahan

Aktivitas mengumpulkan Tengkawang dan buah-buahan (Durian, Rambutan, Lengkeng) merupakan kegiatan musiman dimana sangat tergantung dengan musim buah tersebut. Untuk Tengkawang siklus musimnya 3 - 5 tahun baru berbuah kembali. Biasanya buah Tengkawang digunakan untuk minyak dan mentega.

Harga di masyarakat + 1800 - 2500 / kg tergantung harga paaran. Untuk harga di Pontianak sendiri sudah mencapai + Rp. 5000 - 7000 / kg

4.1.5. Berburu

Merupakan kegiatan sehari-hari dari penduduk. Dari kalender musiman penduduk terlihat ada masa-masa penduduk intensif berburu pada bulan 1 dan 2 (bulan Februari dan Maret kalender nasional) saat panen hampir tiba (menunggu panen), serta pada bulan 5 dan 6 (bulan Juni dan Juli kalender nasional) saat setelah panen sambil menunggu musim perladangan berikutnya. Hewan yang biasanya menjadi buruan adalah Babi dan Rusa

4.1.6. Membuat tikar (Ale)

Kegiatan ini dilakukan saat waktu-waktu senggang dan biasanya dilakukan oleh wanita. Selain tikar juga membuat 'ambenan' (tempat untuk membawa barang-barang / tempat menyimpan padi ) adapun spesifikasi adalah sebagai berikut :
Ukuran kecil disebut : Kataman
Ukuran sedang : Dedetan
Ukuran besar : Amben

Barang-barang ini tidak dijualbelikan tetapi hanya untuk keperluan sendiri.

4.1.7. Kerja kayu dan meramu hasil hutan

Meramu hasil hutan sejarahnya hanya untuk keperluan sendiri misalnya untuk mebuat rumah, memperbaiki rumah, membuat peti mati (lungun), membuat sampan atau parau dan mencari Rotan atau Uwek. Sampai saat ini kerja kayu sudah mulai diperjualbelikan menurut aturan yang sudah disepakati oleh masyarakat.

4.1.8. Mencari ikan

Mencari ikan merupakan kegiatan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan lauk pauk. Mencari ikan sangat tergantung dengan musim ikan. Pada bulan 8,9 dan 10 (bulan September, Oktober dan November kalender nasional) merupakan saat-saat populasi ikan tinggi.

Pada bulan 10 -11 (bulan 11 dan 12 kalender nasional) terdapat musim ikan Tapa, yaitu musim ikan Milir / Mareangang / Meruarang atau musim ikan bertelur ke arah hulu, jadi ada pergerakan ikan Tapa pada musim itu dari hilir ke hulu di sepanjang Sungai Ulu, Sungai Ipung Besar, dan Sungai Ipung Kecil.

4.2. Aliran Mata Pencaharian Penduduk

Perkembangan pengetahuan dan perubahan tingkat penduduk sangat mempengaruhi sikap dan hidup di masyarakat. Ada kecenderungan di tingkat generasi mudanya dalam mengelola ladang tidak dengan sepenuh hati, seperti yang dituturkan oleh Bapak Tumenggung. Hal ini kemungkinan menyebabkan hasil ladang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Keinginan untuk mendapat nilai tambah mendorong penduduk untuk merantau ke daerah lain. Kebanyakan penduduk merantau menjadi buruh kasar atau buruh kayu di Malaysia.

Adanya pandangan masyarakat bila seseorang merantau dan pulang membawa keberhasilannya akan meningkatkan status di masyarakat, hal tersebut mendorong orang untuk merantau.

Daerah tujuan perantau yang sempat tercatat adalah Putussibau, Embaloh, Badau (perbatasan Malaysia), Lubuk Antu (Malaysia), Pontianak. (lihat skema pola mobilitas penduduk).

Gambar 4. Pola Mobilitas Penduduk

4.3. Aliran dampak kegiatan ekonomi terhadap pelestarian alam

Masyarakat Sungai Ulu Palin secara turun-temurun sudah mempunyai aturan pengelolaan sumberdaya alamnya. Hal ini terlihat dalam ' tata ruang' adat dimana sudah ada pembagian wilayah untuk berladang, hutan cadangan (Toan Pamamasan), Hutan Lindung (Toan Palindung), dan tempat tinggal.

Tiap-tiap wilayah tersebut mempunyai aturan tersendiri seperti yang sudah dibahas dalam pemanfaatan tanah. Aturan kebiasaan masyarakat dalam pengelolaan sumberdayanya bila ditelaah lebih lanjut terlihat adanya nilai kearifan tradisional (indigeneous knowledge).

Dalam pengelolaan sumberdaya alam dapat dilihat sebagai berikut :

  • Adanya sistem berladang secara rotasi dan aturan berladang hanya boleh di sekitar hutan cadangan memungkinkan alam akan merehabilitasi sendiri. (lihat pola berladang).
  • Adanya aturan dan batas Toan Palindung dimana kepemilikannya secara bersama dan pemanfaatannya hanya boleh mengambil hasil hutan saja, menunjukkan nilai konservasi tradisional yang arif dalam pengelolaan sumberdaya alamnya
  • Sempat juga terdokumentasi aturan pohon yang tidak boleh di tebang seperti Tengkawang.

Terdapat keseimbangan kebutuhan kayu di masyarakat untuk pembuatan rumah Betang antara kebutuhan dan ketahanan kayu dimana dalam proses untuk penggantian kayu-kayu tersebut alam sendiri sudah dapat merehabilitasi pohon-pohon yang sudah digunakan. Di bawah ini akan dijelaskan profil kebutuhan bahan untuk satu bilik rumah Betang.

Gambar 5. Profil Rumah Betang

Tiang Penyangga (Pakayu)

Tiang penyangga pada rumah panjang terbuat dari :
1. Kayu belian (kayu kelas satu)
2. Selangkeng
3. Bedaru
4. Medang

Untuk satu bilik rumah memiliki 10 tiang dan satu tiang berasal dari satu pohon, dengan demikian 10 tiang berarti menggunakan 10 pohon

Kekuatan kayu-kayu tersebut dalam menyangga rumah adalah sebagai berikut :
1. Kayu Belian : ratusan tahun
2. Kayu biasa : + 10 tahun

Lantai

Lantai terbuat dari Rotan dan Bambu (pada awalnya), sekarang sudah banyak yang menggunakan papan sejak mengenal gergaji mesin (chainsaw).

Kebutuhan bambu untuk satu bilik adalah 30 Bambu sedangkan bila menggunakan Rotan adalah 60 Rotan. Bila Bambu yang digunakan belah empat kekuatannya bisa tahan sampai + 10 tahun, dan bila yang digunakan Rotan belah 2 kekuatannya juga sama + 10 tahun.

Dinding ( siring )

Dinding terbuat dari :

a. Kulit pukul atau kulit kayu kawi dan membutuhkan 4 -5 pohon untuk 1 bilik rumah.
Kekuatannya tahan sampai 20 - 30 tahun.
b. Dengan menggunakan papan
Papan yang digunakan terbuat dari kayu Meranti dan Tekam, dengan volume kebutuhan ; kebutuhan untuk 1 bilik = 5 pohon dengan 1 pohon = 100 papan

Dibandingkan dengan kayu Tekam (kayu no. 2) lebih kuat dari Meranti dan kekuatan dari kayu-kayu ini 20 - 30 tahun

Atap

Atap terbuat dari
a. Kayu Temau
b. Kayu Belian

Kebutuhan untuk 1 bilik adalah + 3000 keping atap atau sama dengan 2 pohon

Kekuatan dari masing-masing kayu berbeda, untuk kayu Temau bertahan sampai dengan 15 tahun, sedangkan kayu Belian sampai dengan ratusan tahun

Reng

a. Kayu Malapi
b. Dahan Salak Masam

Kebutuhan untuk 1 bilik adalah + 100 kayu (kayu bulat) atau sama dengan 100 pohon

Apabila menggunakan sirap (kayu Meranti), maka dibutuhkan 100 sirap atau + 1 - 2 pohon tergantung besarnya

Kaso

Kayu Resak, seperti kayu Tekam

? Kebutuhan untuk 1 bilik adalah 10 buah kayu atau sama dengan 1 pohon

? Kekuatan dari kayu ini bertahan sampai dengan 10 tahun

Bumbung

Kayu Resak

? Kebutuhan untuk 1 bilik adalah 1 buah kayu Resak

Kerangka di lantai (Gatang)

Kayu resah, kayu belian, dan kayu Serangkeng

? Kebutuhan untuk 1 bilik adalah 50 buah kayu atau sama dengan 5 - 6 pohon

Samparan Siring atau kerangka dinding

Kayu Melapi (kayu bulat)

? Kebutuhan untuk 1 bilik adalah 5 - 8 buah kayu atau sama dengan 5 - 8 pohon.

? Jumlah ini dikali 3, karena ada 3 dinding

Tali ikat

a. Rotan haji
b. Batang dari Kantong Semar (Tantiut)

Tangga (Tangka)

Terbuat dari kayu Belian


Gambar 6. Bagian hulu rumah panjang.



 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com