|
Halaman 4 dari 5
IV. KEHIDUPAN EKONOMI DESA SUNGULO' PALIN
4.1. Aliran Tata Niaga
Komoditi yang dihasilkan oleh masyarakat Dusun Sungulo' Palin adalah padi ladang,
sayur, Tebu, getah Karet, Tengkawang, Rotan, Madu, meramu kayu serta mencari
ikan di sungai. Diantara komoditi tersebut hanya beberapa hasil kebun seperti
Terung, Madu, getah Karet dan Tengkawang yang diperdagangkan. Komoditi lain
khususnya padi dan Tebu hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Apabila terdapat
hasil yang melimpah dalam setahun baru bisa dijual.
Padi merupakan tanaman utama dibandingkan dengan aktivitas berkebun, menoreh,
meramu hasil hutan dan lainnya. Aktivitas diluar berladang padi adalah sebagai
berikut :
4.1.1. Berkebun
Berkebun biasanya didekat pemukiman atau di sekitar ladang dengan ditanami
sayuran (Terung, Kacang, Labu dan Ketela)
4.1.2. Menggiling Tebu
Lokasi Tebu pada umunya terletak di sekitar ladang dengan luas tiap kebun Tebu
beragam tapi tidak sebesar ladang. Hal ini karena hasil Tebu hanya untuk kebutuhan
sendiri (dapur), yaitu untuk gula dan membuat minuman Tebu (Papah).
4.1.3. Menoreh Getah (Mangaret)
Dilakukan saat menunggu panen dan tenggang musim ladang berikutnya menoreh
karet sangat tergantung dengan cuaca. Untuk hasil yang bagus dilakukan pada
cuaca yang terang tidak pada musim hujan.
Aktivitas ini dilakukan saat menunggu panen dan seterusnya. Kepemilikan pohon
Karet tiap kepala keluarga beragam tergantung dari kepemilikan lahan Karet dan
usaha untuk menanam Karet. Dari 300 batang Karet sekali menoreh bisa menghasilkan
7 - 18 kilo gram getah.
Kegiatan menoreh tidak bisa dilakukan terus menerus, biasanya setelah 10 hari
kegiatan menoreh dihentikan dan tergantung dari cuaca jadi perkiraan hasil untuk
300 batang selama satu bulan akan menghasilkan 300 kg - 500 kilo gram (kg).
Untuk 1 kg getah : Rp. 2000 untuk jenis getah di cetak
1 kg : Rp. 1000 untuk yang tidak dicetak
Karena menoreh Karet merupakan kegiatan sampingan, maka dalam satu tahun kegiatan
ini berlangsung kurang lebih empat bulan. Rata-rata kepemilikan pohon Karet
anatar 100 - 1000 pohon. Bapak Tumenggung Bacupa sendiri memiliki 300 - 1000
batang pohon.
4.1.4. Mengumpulkan Tengkawang dan hasil buah-buahan
Aktivitas mengumpulkan Tengkawang dan buah-buahan (Durian, Rambutan, Lengkeng)
merupakan kegiatan musiman dimana sangat tergantung dengan musim buah tersebut.
Untuk Tengkawang siklus musimnya 3 - 5 tahun baru berbuah kembali. Biasanya
buah Tengkawang digunakan untuk minyak dan mentega.
Harga di masyarakat + 1800 - 2500 / kg tergantung harga paaran. Untuk harga
di Pontianak sendiri sudah mencapai + Rp. 5000 - 7000 / kg
4.1.5. Berburu
Merupakan kegiatan sehari-hari dari penduduk. Dari kalender musiman penduduk
terlihat ada masa-masa penduduk intensif berburu pada bulan 1 dan 2 (bulan Februari
dan Maret kalender nasional) saat panen hampir tiba (menunggu panen), serta
pada bulan 5 dan 6 (bulan Juni dan Juli kalender nasional) saat setelah panen
sambil menunggu musim perladangan berikutnya. Hewan yang biasanya menjadi buruan
adalah Babi dan Rusa
4.1.6. Membuat tikar (Ale)
Kegiatan ini dilakukan saat waktu-waktu senggang dan biasanya dilakukan oleh
wanita. Selain tikar juga membuat 'ambenan' (tempat untuk membawa barang-barang
/ tempat menyimpan padi ) adapun spesifikasi adalah sebagai berikut :
Ukuran kecil disebut : Kataman
Ukuran sedang : Dedetan
Ukuran besar : Amben
Barang-barang ini tidak dijualbelikan tetapi hanya untuk keperluan sendiri.
4.1.7. Kerja kayu dan meramu hasil hutan
Meramu hasil hutan sejarahnya hanya untuk keperluan sendiri misalnya untuk
mebuat rumah, memperbaiki rumah, membuat peti mati (lungun), membuat
sampan atau parau dan mencari Rotan atau Uwek. Sampai saat ini kerja
kayu sudah mulai diperjualbelikan menurut aturan yang sudah disepakati oleh
masyarakat.
4.1.8. Mencari ikan
Mencari ikan merupakan kegiatan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan lauk pauk.
Mencari ikan sangat tergantung dengan musim ikan. Pada bulan 8,9 dan 10 (bulan
September, Oktober dan November kalender nasional) merupakan saat-saat populasi
ikan tinggi.
Pada bulan 10 -11 (bulan 11 dan 12 kalender nasional) terdapat musim ikan Tapa,
yaitu musim ikan Milir / Mareangang / Meruarang atau musim ikan bertelur ke
arah hulu, jadi ada pergerakan ikan Tapa pada musim itu dari hilir ke hulu di
sepanjang Sungai Ulu, Sungai Ipung Besar, dan Sungai Ipung Kecil.
4.2. Aliran Mata Pencaharian Penduduk
Perkembangan pengetahuan dan perubahan tingkat penduduk sangat mempengaruhi
sikap dan hidup di masyarakat. Ada kecenderungan di tingkat generasi mudanya
dalam mengelola ladang tidak dengan sepenuh hati, seperti yang dituturkan oleh
Bapak Tumenggung. Hal ini kemungkinan menyebabkan hasil ladang tidak sesuai
dengan yang diharapkan. Keinginan untuk mendapat nilai tambah mendorong penduduk
untuk merantau ke daerah lain. Kebanyakan penduduk merantau menjadi buruh kasar
atau buruh kayu di Malaysia.
Adanya pandangan masyarakat bila seseorang merantau dan pulang membawa keberhasilannya
akan meningkatkan status di masyarakat, hal tersebut mendorong orang untuk merantau.
Daerah tujuan perantau yang sempat tercatat adalah Putussibau, Embaloh, Badau
(perbatasan Malaysia), Lubuk Antu (Malaysia), Pontianak. (lihat skema pola mobilitas
penduduk).
Gambar 4. Pola Mobilitas Penduduk
4.3. Aliran dampak kegiatan ekonomi terhadap pelestarian alam
Masyarakat Sungai Ulu Palin secara turun-temurun sudah mempunyai aturan pengelolaan
sumberdaya alamnya. Hal ini terlihat dalam ' tata ruang' adat dimana sudah ada
pembagian wilayah untuk berladang, hutan cadangan (Toan Pamamasan), Hutan
Lindung (Toan Palindung), dan tempat tinggal.
Tiap-tiap wilayah tersebut mempunyai aturan tersendiri seperti yang sudah dibahas
dalam pemanfaatan tanah. Aturan kebiasaan masyarakat dalam pengelolaan sumberdayanya
bila ditelaah lebih lanjut terlihat adanya nilai kearifan tradisional (indigeneous
knowledge).
Dalam pengelolaan sumberdaya alam dapat dilihat sebagai berikut :
- Adanya sistem berladang secara rotasi dan aturan berladang hanya boleh
di sekitar hutan cadangan memungkinkan alam akan merehabilitasi sendiri. (lihat
pola berladang).
- Adanya aturan dan batas Toan Palindung dimana kepemilikannya secara bersama
dan pemanfaatannya hanya boleh mengambil hasil hutan saja, menunjukkan nilai
konservasi tradisional yang arif dalam pengelolaan sumberdaya alamnya
- Sempat juga terdokumentasi aturan pohon yang tidak boleh di tebang seperti
Tengkawang.
Terdapat keseimbangan kebutuhan kayu di masyarakat untuk pembuatan rumah Betang
antara kebutuhan dan ketahanan kayu dimana dalam proses untuk penggantian kayu-kayu
tersebut alam sendiri sudah dapat merehabilitasi pohon-pohon yang sudah digunakan.
Di bawah ini akan dijelaskan profil kebutuhan bahan untuk satu bilik rumah Betang.
Gambar 5. Profil Rumah Betang
Tiang Penyangga (Pakayu)
Tiang penyangga pada rumah panjang terbuat dari :
1. Kayu belian (kayu kelas satu)
2. Selangkeng
3. Bedaru
4. Medang
Untuk satu bilik rumah memiliki 10 tiang dan satu tiang berasal dari satu
pohon, dengan demikian 10 tiang berarti menggunakan 10 pohon
Kekuatan kayu-kayu tersebut dalam menyangga rumah adalah sebagai berikut :
1. Kayu Belian : ratusan tahun
2. Kayu biasa : + 10 tahun
Lantai
Lantai terbuat dari Rotan dan Bambu (pada awalnya), sekarang sudah banyak yang
menggunakan papan sejak mengenal gergaji mesin (chainsaw).
Kebutuhan bambu untuk satu bilik adalah 30 Bambu sedangkan bila menggunakan
Rotan adalah 60 Rotan. Bila Bambu yang digunakan belah empat kekuatannya bisa
tahan sampai + 10 tahun, dan bila yang digunakan Rotan belah 2 kekuatannya juga
sama + 10 tahun.
Dinding ( siring )
Dinding terbuat dari :
a. Kulit pukul atau kulit kayu kawi dan membutuhkan 4 -5 pohon untuk 1 bilik
rumah.
Kekuatannya tahan sampai 20 - 30 tahun.
b. Dengan menggunakan papan
Papan yang digunakan terbuat dari kayu Meranti dan Tekam, dengan volume kebutuhan
; kebutuhan untuk 1 bilik = 5 pohon dengan 1 pohon = 100 papan
Dibandingkan dengan kayu Tekam (kayu no. 2) lebih kuat dari Meranti dan kekuatan
dari kayu-kayu ini 20 - 30 tahun
Atap
Atap terbuat dari
a. Kayu Temau
b. Kayu Belian
Kebutuhan untuk 1 bilik adalah + 3000 keping atap atau sama dengan 2 pohon
Kekuatan dari masing-masing kayu berbeda, untuk kayu Temau bertahan sampai
dengan 15 tahun, sedangkan kayu Belian sampai dengan ratusan tahun
Reng
a. Kayu Malapi
b. Dahan Salak Masam
Kebutuhan untuk 1 bilik adalah + 100 kayu (kayu bulat) atau sama dengan 100
pohon
Apabila menggunakan sirap (kayu Meranti), maka dibutuhkan 100 sirap atau
+ 1 - 2 pohon tergantung besarnya
Kaso
Kayu Resak, seperti kayu Tekam
? Kebutuhan untuk 1 bilik
adalah 10 buah kayu atau sama dengan 1 pohon
? Kekuatan dari kayu ini bertahan
sampai dengan 10 tahun
Bumbung
Kayu Resak
? Kebutuhan untuk 1 bilik
adalah 1 buah kayu Resak
Kerangka di lantai (Gatang)
Kayu resah, kayu belian, dan kayu Serangkeng
? Kebutuhan untuk 1 bilik
adalah 50 buah kayu atau sama dengan 5 - 6 pohon
Samparan Siring atau kerangka dinding
Kayu Melapi (kayu bulat)
? Kebutuhan untuk 1 bilik
adalah 5 - 8 buah kayu atau sama dengan 5 - 8 pohon.
? Jumlah ini dikali 3, karena
ada 3 dinding
Tali ikat
a. Rotan haji
b. Batang dari Kantong Semar (Tantiut)
Tangga (Tangka)
Terbuat dari kayu Belian
Gambar 6. Bagian hulu rumah panjang.
|