|
Ada dua “filosofi geografi” dalam kehidupan
sehari-hari. Yang pertama adalah mewakili pengetahuan geografi
“insidentil” (atau “naif”) yang kita peroleh
dari pengalaman. Dan yang kedua adalah pengetahuan geografi
“intensional/disengaja” yang kita peroleh dari proses
pembelajaran untuk berpikir dan bertindak secara geografis (secara
sadar atau tidak sadar).
Pengetahuan geografis memiliki pengetahuan dasar “insidentil”
atau “naif” (Mark, et al., 1997) dan akumulasi
“intensional” (“berpikir”, “belajar”,
atau “ahli”). Pengetahuan insidentil mendominasi hampir
seluruh pengambilan keputusan sehari-hari kita dan proses berpikir.
Dan pembagian pengetahuan tersebut diperoleh dari penggunaan
kisi-kisi umum sehingga menghasilkan pengetahuan yang membingungkan
dan cenderung akan menghasilkan kesalahan.
Ada suatu perbedaan penting antara pengetahuan geografis
insidentil yang diperoleh berdasarkan pengalaman kita dalam
mengunjungi tempat-tempat karena tujuan lain (contoh, “merasakan”
lingkungan kota sewaktu bekerja atau jalan-jalan untuk berbelanja)
dan pengetahuan geografis intensional terstruktur yang kita peroleh
dari proses mengajar dan belajar (contoh, Kurikulum Geografi untuk
Kehidupan [Proyek Standarisasi Pendidikan Geografi, 1994]). Sebagai
geografer, kita terheran-heran pada kebodohan geografis yang luar
biasa dimana orang-orang yang melakoni bidang ini kebanyakan hasil
dari kejadian insidentil. Banyak orang terkadang tidak dapat
menyebutkan benua besar dan mungkin tidak dapat menunjukkan negaranya
sendiri pada peta atau bola dunia (Earhardt, 1998). Level pengetahuan
geografis berubah secara dramatis ketika pengetahuan intensional
diperoleh secara khusus ketika orang belajar mengamati
prinsip-prinsip geografis fundamental seperti lokasi, tempat,
konektivitas, interaksi spasial, distribusi spasial, pola, hirarki,
jarak, arah, orientasi, kerangka referensi, asosiasi geografis,
skala, wilayah, dan representasi geografis (telah masuk dalam
Standarisasi Geografi – Kurikulum Geografi untuk Kehidupan).
Hal ini berdampak pada geografi - seperti ilmu lain - memiliki suatu
dasar bahasa dan pengetahuan yang tidak dapat diakses secara umum
atau terakumulasi dengan mudah (secara naif). Selanjutnya, Hal ini
adalah suatu konsep bagian terbesar pengetahuan yang kaya dan
terstruktur berdasarkan moda-moda yang spesifik untuk berpikir dan
bertindak yang biasanya telah dipelajari. Sekarang hal tersebut
merupakan pengetahuan geografis yang sebenarnya.
Untuk mengerti secara menyeluruh pengetahuan alamiah geografis,
kita seharusnya menyadari perbedaan tingkat kemampuan spasial setiap
orang. Tapi, walaupun mendasar, kita harus menyadari
kesangat-alamiahan kemampuan spasial yang mengakomodasi akuisisi
pengetahuan geografis. Suatu kegiatan yang sedang berjalan disponsori
oleh Komite Geografi dan Badan Pengkajian Nasional (AS) untuk
“Berpikir secara Spasial” (diketuai oleh Roger Downs)
sedang terfokus pada masalah ini.
Mengamati lingkungan secara acak tanpa mempelajari konsep spasial,
teori, dan generalisasi menghasilkan level “pengetahuan”
insidentil yang rendah. Kelemahan pada dasar pengetahuan tersebut
hasil dari ketidak-sensitifan pada ukuran sampel dari pengalaman kita
(generalisasi dari n=1), penyimpangan konsepsi kealamiahan kesempatan
kejadian, kebenaran ilusi (contoh, “pengalaman saya berbeda”),
dan sikap pribadi yang berlebihan (“Saya tidak termasuk dalam
sampel jadi hasil tersebut tidak mewakili!”). Sayangnya untuk
beberapa orang (khususnya di negara-negara seperti Amerika Serikat
dimana geografi bukan suatu bagian yang mendasar dan menyatu pada
pendidikan umum dalam lingkungan K-16, apalagi Indonesia), Hal
insidentil yang butuh pengetahuan geografis merupakan sumber ilmu
utama untuk mengerti dunia.
Geografis insidentil disudutkan oleh persepsi yang beragam dan
penyimpangan kognitif. Contoh, umumnya kita berlebihan memikirkan
jarak yang lebih pendek dan meremehkan jarak yang lebih panjang,
menyebabkan terjadinya kesalahan-kesalahan dimana kita berpikir
berapa jauh mereka; terkadang kita melihat jarak menjadi asimetris,
berdasarkan keyakinan bahwa jarak “menuju” suatu tempat
lebih panjang/pendek dibanding jarak “dari/asal” suatu
tempat, dan akibatnya mengambil rute yang berbeda untuk “menuju”
dan “asal” dibandingkan membalikan rute “menuju”.
Kognitif dan kebiasaan geografer mencatat daftar yang panjang dalam
“ketidak jelasan” keyakinan kita mengenai dunia. (Di
bagian akhir tulisan ini penulis menyertakan sejumlah pertanyaan yang
bisa memperlihatkan ketidakjelasan atas yang anda ketahui, jawablah
tanpa melihat peta atau globe).
Ketika kita telah mempelajari konsep geografi, model, teori,
rancang spasial, bangun spasial, dan fenomena pola “mengungkap”
cara mereka sendiri yang terkadang disangkal oleh orang awam. Hirarki
spasial biasa terjadi di lingkungan kita, tapi orang yang belajar
secara insidentil seringkali tidak menyadari mereka termasuk di
dalamnya-contoh, hirarki pendidikan mulai dari pra-sekolah, Taman
Kanak-kanak/TK, Sekolah Dasar/SD, Sekolah Menengah Pertama/SMP,
Sekolah Menengah Atas/SMA, Diploma 2, Diploma 4 tanpa program Ph.D,
dan universitas dengan program sarjana. Ini adalah suatu “sarang”
hirarki spasial; tingkatan elemen yang lebih rendah membutuhkan
manusia yang lebih kecil jumlahnya (atau suatu “batas populasi
lebih rendah”) untuk mendukung kegiatan mereka dan menyebar
disekitar lingkungan warga. SD dan SMP “bersarang” dalam
area tangkapan komunitas SMA dan seterusnya. Akibatnya ada sebagian
pra-sekolah dan TK dan ada lebih dan lebih tingkatan sekolah yang
lebih tinggi seiring dengan meningkatnya hirarki, dan tingkatan
sekolah yang lebih tinggi dilokasikan dengan cermat untuk area
tangkapan mereka. Prinsip yang sama juga berlaku pada aktivitas jasa
lainnya seperti stasiun pemadam kebakaran, stasiun polisi, cabang
bank, pusat perbelanjaan, dan lain sebagainya. Sekali tingkatan
spasial terungkap, maka level pemahaman mengapa anda melakukan
aktivitas pada beberapa tempat dan dalam beberapa area lebih baik
dari yang lain, dan, selamat, anda dalam langkah menuju kesadaran
geografis!
Sekarang kita kembali pada suatu ilustrasi bagaimana geografer
berkontribusi untuk meningkatkan kesadaran geografis anda. Bayangkan
suatu dunia tanpa marka! Hampir tidak mungkin bukan? Tidak ada nama
jalan atau nomor, tanpa identifikasi toko, tidak ada tanda berhenti
bis atau nama jurusan tujuan pada bis! Geografer dan kartografer
sepanjang sejarah mencoba menciptakan hidup keseharian lebih mudah
dengan memberi tanda spesifikasi-tempat. Nomor jalan anda, kode pos
tempat tinggal anda, lintang dan bujur, pengenalan jalan dari
komponen Utara, Selatan, Timur atau Barat, buku informasi nama-nama
kota, dan lain sebagainya. Alat-alat tersebut menyediakan informasi
lokasi dalam bentuk absolut (contoh “koordinat”) atau
relatif (contoh “dekat masjid”). Dan Global Positioning
System (GPS) yang sekarang menjadi lebih mudah-akhirnya, Siapa selain
seorang profesional yang benar-benar memperhatikan koordinat
lintang-bujur rumah anda? Mereka melakukan hal tsb untuk membantu
perusahaan mengembangkan sistem informasi lokasi yang spesifik.
Salah satu contohnya Perusahaan Talking Signs®. Talking Signs®
adalah sebuah sistem labeling lingkungan yang membuat orang dapat
mengetahui lokasi, marka, landmark, persimpangan, dan fasilitas
lainnya dengan menggunakan pesan suara gelombang pendek infra merah yang
diakses dari sebuah alat penerima genggam yang merubah pesan dari
cahaya menjadi suara. Kendali lokasi dan sudut LED dalam kawasan
berdirinya transmiter memungkinkan kendali melalui jarak pesan label
ditransmisikan dan memungkinkan penerima mengarahkan pada arah berkas
dan mengikuti sampai sumbernya. Tapi hanya terdapat pada fase I. Fase
II adalah hasil dari Talking Signs® Sistem Komunikasi Geospasial.
Sangat berguna bagi para tuna rungu, alat tersebut dapat membantu
juga wisatawan atau orang luar dari daerah tersebut untuk menemukan
apa yang ada disana dan mengarahkan pada lingkungan yang asing.
Terkadang disebut "Remote Infrared Auditory Signage"
(RIAS), penggunaannya meluas di San Fransisco dan kota lainnya di
Amerika Serikat, Eropa, dan khususnya Jepang. Keberhasilannya membuat
Pemerintah Amerka Serikat menambah arti “tanda”
memasukkan bicara memiliki arti yang sama dengan label visual.
Geografer secara luas telah bekerja dengan Talking Signs® Inc.
untuk menguji dan menilai sistem tersebut (untuk informasi
selengkapnya lihat http://www.talkingsigns.com/).
Contoh yang kedua, berdasar sistem koordinat acuan yang tidak
seragam dan rumit. Hal tsb bagus untuk pencarian komputer, atau
latihan interpretasi peta, atau pembimbing misil pada targetnya. Tapi
apakah seseorang di jalan raya menggunakan alat tsb setiap hari dalam
hidupnya? Biasanya tidak. Sistem GO-2, Pantai Newport, perusahaan
berbasis di California, bekerja dengan geografer untuk menawarkan suatu
sistem acuan berdasar grid sebagai alternatif. Menggunakan suatu
sistem grid hirarki yang dapat digunakan dalam kegiatan sehari-hari,
katakanlah, ukuran grid sepuluh meter, GO-2 menggunakan alfanumerik
mnemonic untuk mengenal tempat. Mnemonic memberikan nama tempat
dimana alat tersebut berada dibanding dengan sistem koordinat.
Contohnya, US.CA.LA.SM digunakan melokasikan Santa Monica dalam suatu
negara, provinsi, kota secara umum, dan gunakan tambahan, labeling
yang lebih akurat untuk memberikan suatu lokasi yang spesifik,
misalnya, sebuah restoran Cina. Sekarang ketika kita dapat meng-query
database pada komputer dan menemukan lokasi toko ban terdekat setelah
ban kita sedang kempes. Spesifikasi-lokasi: hal itu adalah permainan
geografis dalam masyarakat yang membutuhkan informasi. Dan kita
memainkan dengan baik permainannya! (Untuk informasi selengkapnya
tentang Sistem GO-2, lihat http://www.go2online.com/).
Jadi geografi memainkan suatu bagian yang lebih luas dan semakin
luas dalam drama kehidupan sehari-hari. Tidak lagi hanya “sungai,
pegunungan, dan ibukota negara” struktur pengetahuan 500 tahun
yang lalu, tidak juga hanya menjadi bahan soal dalam pertunjukan quiz
TV. Walaupun kita terus menggali citra satelit untuk memperoleh
kedetailan dari “Ada apa disana”, tujuan tersebut sebagai
suatu obyek pendidikan dan penelitian geografis, pada dasarnya, tidak
kalah penting dari yang biasa dilakukan. Kita tergetar oleh kemarahan
ketika David Letterman membuat pernyataan abadi, “kita tahu
dimana segalanya berada-kenapa kita membutuhkan geografi?”
Kurang lebih selama lima puluh tahun, kita telah menerangkan MENGAPA
sesuatu ada dimana mereka berada dan BAGAIMANA sesuatu diciptakan dan
diatur dalam keseharian dunia dalam artian pengaturan spasialnya,
tidak hanya apa adalah dimana. Dan kebanyakan orang
sama sekali tidak mengetahui hal tersebut-atau tidak dapat membaca
sebuah peta atau bola dunia untuk menemukan! Saya bertaruh Letterman
akan gagal secara menyedihkan untuk Tes Ketrampilan dan Kesadaran
Geografis. Dan, berbicara hal tersebut, data dibawah memberikan hasil
secara ringkas dari jawaban anda.
Skala penilaian geografi (dari kuis/survey pada artikel Geografi
dan Kehidupan Keseharian [1])
- * rata-rata nilai yang diraih oleh
laki-laki (n=61) 32,87
- * rata-rata nilai yang diraih oleh
perempuan (n=21) 35.33
- Perempuan mendapat nilai lebih
tinggi pada pertanyaan no 3 dan 11
- Laki-laki mendapat nilai lebih
tinggi pada pertanyaan no 5,7,8, 10, 16, 17 dan 20
- Perempuan mendapat nilai yang agak
lebih tinggi dibanding laki-laki pada pertanyaan no 1, 4, 6,14 dan
18
- Laki-laki mendapat nilai yang agak
lebih tinggi disbanding wanita pada pertanyaan no 2,9,12, 13, 15 dan
19.
- * (Walaupun banyak yang mengikuti kuis/survey, tetapi hanya
bisa diidentifikasi 82 responden menurut jenis kelamin)
Hasil ini memperkuat dugaan (spekulasi) peneliti geografi dan
psikologi bahwa :
- Perempuan sepertinya lebih
berorientasi pada penanda (landmark) dibanding laki-laki saat
mempelajari lingkungannya.
- Sebelum dan selama perjalanan,
perempuan lebih banyak membutuhkan panduan (seperti peta)
- Laki-laki lebih terbiasa akan tata
letak atau kerangka pada suatu lokasi
- Laki-laki lebih yakin akan kemampuan spatialnya dibanding
perempuan, misalnya dalam memperkirakan jarak antara dua tempat atau
mengetahui di mana keberadaan mereka. Tetapi tentu saja, lebih yakin
tidak berarti lebih baik kemampuan spatialnya.
Hak cipta © dimiliki oleh Directions
Magazine. Diterjemahkan dan diadaptasi oleh Tri
Agus Prayitno dan Mohamad Arief Lukman atas seijin Directions
Magazine. Artikel asli : Geography
and Everyday Live (again!).
Diskusikan artikel/tulisan ini dalam forum. (0 entri) |