|
Halaman 1 dari 2 ABSTRAK
Penataan ruang kota yang baik dapat
memberikan berbagai kenyamanan bagi
penghuninya. Hidup yang bahagia, sehat serta mampu
mengembangkan diri secara optimal merupakan
bagian dari hasil kenyamanan tersebut. Dalam
perwujudannya, kenyamanan tersebut dapat ditandai
dengan: a. Tempat untuk hidup
dan mencari penghidupan; b. Aksesibiltas dan transportasi; c.
Kondisi
lingkungan; d. Hubungan antara lingkungan fisik dan sosial; e.
Privacy and neighborlines; f.
Kelenturan (flexibility). Surabaya dan
Jakarta merupakan dua kota besar yang banyak didatangi
oleh para migran guna mendapatkan
penghidupan yang lebih baik daripada di daerah asalnya. Namun
sebagai tempat tinggal,
kedua kota tersebut tidak cukup layak. Hal ini ditandai dengan perbedaan
yang mencolok
antara suhu di siang hari yang sangat panas dengan suhu malam hari yang turun
sangat
rendah. Perbedaan suhu juga sangat terasa antara satu bagian wilayah kota dengan
bagian lain. Selain
itu muncul juga kecenderungan terjadinya kutub panas di beberapa
lokasi. Polusi udara juga sangat
terasa di Jakarta. Berbagai polutan menyerang
penduduknya dengan kadar yang berbeda tergantung pada
musimnya, musim penghujan atau
musim kemarau. Kondisi ini selain karena kondisi alami, juga karena
kegiatan kota yang
tidak terencana cukup baik. Tempat-tempat terakumulasinya polutan ataupun
kecenderungan
terjadinya kutub panas adalah tempat yang direncanakan sebagai pusat kegiatan
ekonomi.
Perencanaan sektoral ini tidak disertai dengan perencanaan lingkungan yang
memadai. Akibatnya
masyarakat penghuni kota, terutama yang melakukan kegiatan ekonomi di
wilayah tersebut, tidak cukup
mendapat perlindungan kenyamanan sebagai penghuni, terutama
dari segi kesehatan.
- Pendahuluan
Pesatnya perkembangan di berbagai sektor kegiatan
perkotaan memberikan dampak
(negatif) yang bervariasi terhadap kondisi lingkungan.
Variasi dampak negatif yang muncul
seringkali disadari hanya sebagai dampak sementara
dari proses pembangunan dan perkembangan yang
dimaksud. Namun dalam kurun waktu kurang
dari satu dasawarsa, ternyata dampak lingkungan yang
dimaksud telah memberikan efek
divergensinya pada berbagai tolak ukur kualitas hidup masyarakat
kota yang antara lain
berupa degradasi tingkat kesehatan dan kenyamanan lingkungan.
Jakarta dan
Surabaya merupakan dua kota terbesar di Indonesia, baik dalam ukuran
jumlah penduduk
maupun kegiatan ekonominya. Dengan lebih dari 12 juta penduduk Jakarta dan sekitar
6
juta penduduk Surabaya, hampir semua kegiatan ekonomi perkotaan dapat dijumpai di dua kota
ini.
Di samping lokasinya yang berada di tepi pantai, dengan tingkat kepadatan penduduk
dan ekonomi yang
tinggi, tidaklah mengherankan jika kedua kota ini memiliki kondisi
udara yang kurang nyaman (terasa
sangat panas dan sebagainya).
Penataan ruang
kota yang mampu memberikan upaya preventif dan rehabilitatif
lebih pada sumber-sumber
pencemar udara secara kontinu di berbagai titik dan jalur pencemaran udara
kritis
diharapkan mampu mengurangi dampak pencemaran udara, dan pada akhirnya dapat memberikan
kesehatan dan kenyamanan bagi penghuninya. Dalam perwujudannya, kenyamanan tersebut dapat
ditandai
dengan: a. Tempat untuk hidup dan mencari penghidupan; b. Aksesibiltas dan
transportasi; c. Kondisi
lingkungan; d. Hubungan antara lingkungan fisik dan sosial; e.
Privacy and neighborlines; f.
Kelenturan (flexibility). Hidup yang
bahagia, sehat serta mampu mengembangkan diri secara
optimal akan menjadi bagian dari
hasil kenyamanan tersebut.
- Berbagai Permasalahan
yang Terkait dengan Kondisi Udara di Wilayah Perkotaan
Dalam seminar sehari
Lingkungan Hidup yang dilaksanakan di Bandung, Menteri
Negara Lingkungan Hidup, DR.
Sonny Keraf mengatakan bahwa kondisi udara di Jakarta sudah tidak
sehat, terbukti dari
meningkatnya pasien penyakit saluran pernapasan di wilayah ini. Selain itu
penelitian
yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) di beberapa kota besar di Asia
Tenggara (termasuk Jakarta) menunjukkan bahwa di kota-kota besar tersebut ditemukan adanya
gejala
penurunan tingkat kecerdasan anak pada daerah yang tercemar partikel timbal dari
asap kendaraan
bermotor.
Kedua fakta tersebut memberi makna penting bagi
penghuni kota untuk mulai
mewaspadai kulitas udara yang mereka hirup setiap detik. Namun
kecemasan tersebut tidaklah berarti
apapun bila ditindaklanjuti dengan upaya preventif
dan rehabilitatif untuk mereduksi pencemaran
udara di wilayah perkotaan.
gambar disini
Gambar 1. Evolusi Hubungan antara Kota dengan Kondisi Udaranya
(White, 1994 dengan beberapa perubahan dan penyesuaian)
Beberapa penelitian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan menunjukkan bahwa
bagian
tengah kota menunjukkan suhu yang lebih tinggi 3-4° Celcius
dibandingkan dengan wilayah sekitarnya (Caldwell, 1981). Perbedaan ini terjadi sepanjang
tahun.
Namun pada musim panas, perbedaan suhu tersebut nampak lebih tajam. Ada beberapa
hal yang
menyebabkan gejala ini terjadi. Hal utama yang ditemukan oleh Caldwell adalah
luasnya tutupan lahan
yang berupa pengerasan (seperti semen dan aspal). Semakin kering
tanah, semakin sedikit panas yang
dipancarkan melalui evaporasi. Sementara itu, kota
cenderung memiliki udara yanglebih buruk untuk
melepaskan panas dibandingkan dengan
wilayah pedesaan. Hal ini terjadi karena luasnya daerah
tututpan berupa pengerasan dan
rapatnya bangunan. Hasil penelitian ini menunjukkan betapa
pentingnya penataan ruang
yang baik agar masyarakat dapat hidup nyaman.
2.1. Kutub panas kota (urban heat
island)
Kepadatan penduduk dan kegiatan ekonomi Jakarta
dan Surabaya menghasilkan
akumulasi panas di kota. Panas yang terpusat di bagian-bagian
tertentu suatu kota dikenal sebagai
kutub panas kota atau urban heat island. Suhu
udara di wilayah kutub panas berbeda beberapa
derajat dari daerah sekitarnya, biasanya
pinggiran kota.
Penelitian yang dilakukan oleh Adiyanti (1993) menunjukkan bahwa
suhu harian
Jakarta di daerah pinggiran seperti di Pasar Minggu dan tengah kota atau di
sekitar Bandara sangat berbeda. Penelitian Adiyanti dilakukan dengan cara
pengambilan
suhu udara secara langsung, setiap hari selama 7 (tujuh) hari berturut-turut dalam
9
(sembilan) periode pengukuran, pada bulan Agustus 1992. Adapun alat yang dipergunakan
adalah bola
basah-bola kering. Pada daerah pinggiran kota, perbedaan suhu siang dan malam
hari hanya sekitar
4,95 ° C. Di tengah kota, perbedaan
tersebut sangat besar hingga
mencapai 7,30 ° C. Perbedaan suhu
juga disebabkan oleh tutupan lahan di
sekitarnya. Pada daerah dengan tutupan lahan rumput
ataupun pepohonan, suhu udara tidak menunjukkan
fluktuasi yang tajam antara siang dan
malam hari. Sementara daerah dengan gedung-gedung tinggi
ataupun tutupan aspal yang
terbuka menunjukkan fluktuasi suhu yang tajam.
Pusat Penelitian Geografi Terapan
pada tahun 1997 melakukan penelitian serupa,
namun dengan menggunakan teknik yang
berbeda, yakni penggunaan citra sebagai sumber data. Laporan
penelitian ini dijadikan
salah satu contoh studi kasus bagi penyusunan Modul Pemanfaatan
Penginderaan Jauh dan
Sistem Informasi Geografis. Dari interpretasi citra Landsat TM bulan September
1997
diketahui bahwa suhu terendah Jakarta pada saat itu adalah antara 20-22°
C sedangkan suhu tertinggi > 38° C.
Suhu terendah terdapat di
daerah-daerah tampungan air. Wilayah sekeitar daerah tampungan
air memiliki suhu yang tidak berbeda
jauh, yakni 24-26° C. Di
sebagian pinggian Jakarta masih ada wilayah
dengan suhu antara 24-28° C. Namun demikian, wilayah yang terluas, lebih
dari 70%, memiliki
suhu 28-30° C. Pada wilayah terluas ini terdapat
beberapa
lokasi yang menunjukkan suhu yang lebih tinggi, yakni 30-32°
C.
Lokasi suhu yang lebih tinggi ini menunjukkan terjadinya kutub panas di kota Jakarta.
Lokasi ini
berada di tempat dengan kegiatan yang menggunakan banyak energi seperti daerah
industri, bandara,
atau PLTU.
Widyawati dkk pada 1996 melakukan pengukuran suhu
harian secara langsung di kota
Surabaya. Alat yang digunakan adalah termometer rambut.
Pengukuran dilakukan selama tujuh hari
berturut-turut selama bulan November 1996. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa suhu tertinggi
mencapai 41 ° C
dan terendah adalah 26,6 °
C. Suhu tinggi cenderung berada di
tengah kota, yakni daerah perdagangan yang padat dengan frekuensi
lalu lintas yang
tinggi, tutupan permukaan lahan berupa aspal serta tidak terdapat pepohonan
(Simpangan
depan Tunjungan Plaza) mencapai 41° C, suhu
terendahnya adalah 35,9 °
C. Tempat ini berada pada wilayah
dengan karakteristik kegiatan ekonomi tinggi, daerah industri,
ataupun bandara. Di daerah
pinggiran suhu tertinggi adalah 35,7 ° C dan
terendah mencapai
26,7 ° C. Selain daerah pinggiran dengan karakteristik
daerah
terbuka dengan tutupan rumput dan memiliki banyak pohon, ada pula daerah di tengah kota
yang
perbedaan suhu tertinggi dan terendahnya tidak berbeda jauh, yakni sekitar 3,6 °
C. Tempat-tempat seperti ini memiliki karakteristik antara lain
dekat dengan badan air, banyak
pepohonan sebagai pelindung, daerah permukiman yang tidak
rapat dan tidak ramai.
2.2.
Polusi udara perkotaan
Selain suhu harian, cerminan kualitas
udara kota yang sehat juga dapat dilakukan
melalui polutan yang ada di udara. Rahmawati
(1998) melakukan penelitian terhadap kualitas udara
kota Jakarta dengan menggunakan data
yang dikumpulkan oleh Kantor Pengkajian Perkotaan dan
Lingkungan (KP2L) DKI Jakarta serta
Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) sebanyak 19 (sembilan
belas) titik pengamatan. Data
berasal dari pengamatan kontinu pada stasiun pemantau kualitas udara.
Adapun polutan yang
dianalisis oleh Rahmawati adalah NOX, SO2, dan
SPM10
yang diamati setiap jam selama 1 (satu) tahun. Berdasarkan analisis yang
dilakukan, diketahui bahwa
wilayah Jakarta Pusat dan Ancol di Jakarta Utara memiliki
kualitas udara paling buruk (tidak sehat)
sepanjang tahun. Sedangkan wilayah Cipedak
(Jakarta Selatan) ke arah Selatan relatif memiliki
kualitas udara terbaik (sehat) bila
dibandingkan dengan wilayah lainnya di DKI Jakarta.
Wilayah dengan kondisi
kualitas udara terburuk merupakan wilayah yang terdiri
atas bangunan tinggi yang sangat
rapat bangunan dan disertai dengan jalur lalu lintas yang padat.
Pada wilayah ini juga
tidak dijumpai ruang terbuka hijau dan luasan badan air yang efektif untuk
mereduksi
pencemaran udara dan peningkatan suhu lokal.
2.3. Hujan asam
Berdasarkan
hasil penelitian yang dilakukan oleh BMG pada tahun 1997 menunjukkan
bahwa kadar asam
pada air hujan di Jakarta Pusat adalah yang tertinggi dibandingkan dengan
wilayah
lainnya. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Rahmawati, 1998, di mana pada
puncak musim kemarau
1997 (April dasarian III wilayah DKI Jakarta paling buruk bila
dibandingkan dengan periode lainnya. Sedangkan pada periode
akhir musim hujan 1997) DKI
Jakarta memiliki kualitas udara terbaik bila dibandingkan dengan periode lainnya.
Pada
periode ini polutan udara telah mengalami proses perkolasi (pencucian polutan udara
oleh hujan) yang
menyebabkan kadar polutan terlarut (termasuk asam) dalam air hujan cukup
tinggi.
Diskusikan artikel/tulisan ini dalam forum. (0 entri)
|