Depan arrow Artikel arrow Makalah arrow Kondisi Udara sebagai Cermin Penataan Ruang Kota
Kondisi Udara sebagai Cermin Penataan Ruang Kota Cetak E-mail
Oleh Widyawati, Hafid Setiadi, Farida Rahmawati   
Daftar Isi
Kondisi Udara sebagai Cermin Penataan Ruang Kota
Penataan Ruang Komprehensif

ABSTRAK

Penataan ruang kota yang baik dapat memberikan berbagai kenyamanan bagi penghuninya. Hidup yang bahagia, sehat serta mampu mengembangkan diri secara optimal merupakan bagian dari hasil kenyamanan tersebut. Dalam perwujudannya, kenyamanan tersebut dapat ditandai dengan: a. Tempat untuk hidup dan mencari penghidupan; b. Aksesibiltas dan transportasi; c. Kondisi lingkungan; d. Hubungan antara lingkungan fisik dan sosial; e. Privacy and neighborlines; f. Kelenturan (flexibility). Surabaya dan Jakarta merupakan dua kota besar yang banyak didatangi oleh para migran guna mendapatkan penghidupan yang lebih baik daripada di daerah asalnya. Namun sebagai tempat tinggal, kedua kota tersebut tidak cukup layak. Hal ini ditandai dengan perbedaan yang mencolok antara suhu di siang hari yang sangat panas dengan suhu malam hari yang turun sangat rendah. Perbedaan suhu juga sangat terasa antara satu bagian wilayah kota dengan bagian lain. Selain itu muncul juga kecenderungan terjadinya kutub panas di beberapa lokasi. Polusi udara juga sangat terasa di Jakarta. Berbagai polutan menyerang penduduknya dengan kadar yang berbeda tergantung pada musimnya, musim penghujan atau musim kemarau. Kondisi ini selain karena kondisi alami, juga karena kegiatan kota yang tidak terencana cukup baik. Tempat-tempat terakumulasinya polutan ataupun kecenderungan terjadinya kutub panas adalah tempat yang direncanakan sebagai pusat kegiatan ekonomi. Perencanaan sektoral ini tidak disertai dengan perencanaan lingkungan yang memadai. Akibatnya masyarakat penghuni kota, terutama yang melakukan kegiatan ekonomi di wilayah tersebut, tidak cukup mendapat perlindungan kenyamanan sebagai penghuni, terutama dari segi kesehatan.

  1. Pendahuluan

Pesatnya perkembangan di berbagai sektor kegiatan perkotaan memberikan dampak (negatif) yang bervariasi terhadap kondisi lingkungan. Variasi dampak negatif yang muncul seringkali disadari hanya sebagai dampak sementara dari proses pembangunan dan perkembangan yang dimaksud. Namun dalam kurun waktu kurang dari satu dasawarsa, ternyata dampak lingkungan yang dimaksud telah memberikan efek divergensinya pada berbagai tolak ukur kualitas hidup masyarakat kota yang antara lain berupa degradasi tingkat kesehatan dan kenyamanan lingkungan.

Jakarta dan Surabaya merupakan dua kota terbesar di Indonesia, baik dalam ukuran jumlah penduduk maupun kegiatan ekonominya. Dengan lebih dari 12 juta penduduk Jakarta dan sekitar 6 juta penduduk Surabaya, hampir semua kegiatan ekonomi perkotaan dapat dijumpai di dua kota ini. Di samping lokasinya yang berada di tepi pantai, dengan tingkat kepadatan penduduk dan ekonomi yang tinggi, tidaklah mengherankan jika kedua kota ini memiliki kondisi udara yang kurang nyaman (terasa sangat panas dan sebagainya).

Penataan ruang kota yang mampu memberikan upaya preventif dan rehabilitatif lebih pada sumber-sumber pencemar udara secara kontinu di berbagai titik dan jalur pencemaran udara kritis diharapkan mampu mengurangi dampak pencemaran udara, dan pada akhirnya dapat memberikan kesehatan dan kenyamanan bagi penghuninya. Dalam perwujudannya, kenyamanan tersebut dapat ditandai dengan: a. Tempat untuk hidup dan mencari penghidupan; b. Aksesibiltas dan transportasi; c. Kondisi lingkungan; d. Hubungan antara lingkungan fisik dan sosial; e. Privacy and neighborlines; f. Kelenturan (flexibility). Hidup yang bahagia, sehat serta mampu mengembangkan diri secara optimal akan menjadi bagian dari hasil kenyamanan tersebut.

  1. Berbagai Permasalahan yang Terkait dengan Kondisi Udara di Wilayah Perkotaan

Dalam seminar sehari Lingkungan Hidup yang dilaksanakan di Bandung, Menteri Negara Lingkungan Hidup, DR. Sonny Keraf mengatakan bahwa kondisi udara di Jakarta sudah tidak sehat, terbukti dari meningkatnya pasien penyakit saluran pernapasan di wilayah ini. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) di beberapa kota besar di Asia Tenggara (termasuk Jakarta) menunjukkan bahwa di kota-kota besar tersebut ditemukan adanya gejala penurunan tingkat kecerdasan anak pada daerah yang tercemar partikel timbal dari asap kendaraan bermotor.

Kedua fakta tersebut memberi makna penting bagi penghuni kota untuk mulai mewaspadai kulitas udara yang mereka hirup setiap detik. Namun kecemasan tersebut tidaklah berarti apapun bila ditindaklanjuti dengan upaya preventif dan rehabilitatif untuk mereduksi pencemaran udara di wilayah perkotaan.

gambar disini

Gambar 1. Evolusi Hubungan antara Kota dengan Kondisi Udaranya
(White, 1994 dengan beberapa perubahan dan penyesuaian)

Beberapa penelitian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan menunjukkan bahwa bagian tengah kota menunjukkan suhu yang lebih tinggi 3-4° Celcius dibandingkan dengan wilayah sekitarnya (Caldwell, 1981). Perbedaan ini terjadi sepanjang tahun. Namun pada musim panas, perbedaan suhu tersebut nampak lebih tajam. Ada beberapa hal yang menyebabkan gejala ini terjadi. Hal utama yang ditemukan oleh Caldwell adalah luasnya tutupan lahan yang berupa pengerasan (seperti semen dan aspal). Semakin kering tanah, semakin sedikit panas yang dipancarkan melalui evaporasi. Sementara itu, kota cenderung memiliki udara yanglebih buruk untuk melepaskan panas dibandingkan dengan wilayah pedesaan. Hal ini terjadi karena luasnya daerah tututpan berupa pengerasan dan rapatnya bangunan. Hasil penelitian ini menunjukkan betapa pentingnya penataan ruang yang baik agar masyarakat dapat hidup nyaman.

2.1. Kutub panas kota (urban heat island)

Kepadatan penduduk dan kegiatan ekonomi Jakarta dan Surabaya menghasilkan akumulasi panas di kota. Panas yang terpusat di bagian-bagian tertentu suatu kota dikenal sebagai kutub panas kota atau urban heat island. Suhu udara di wilayah kutub panas berbeda beberapa derajat dari daerah sekitarnya, biasanya pinggiran kota.

Penelitian yang dilakukan oleh Adiyanti (1993) menunjukkan bahwa suhu harian Jakarta di daerah pinggiran seperti di Pasar Minggu dan tengah kota atau di sekitar Bandara sangat berbeda. Penelitian Adiyanti dilakukan dengan cara pengambilan suhu udara secara langsung, setiap hari selama 7 (tujuh) hari berturut-turut dalam 9 (sembilan) periode pengukuran, pada bulan Agustus 1992. Adapun alat yang dipergunakan adalah bola basah-bola kering. Pada daerah pinggiran kota, perbedaan suhu siang dan malam hari hanya sekitar 4,95 ° C. Di tengah kota, perbedaan tersebut sangat besar hingga mencapai 7,30 ° C. Perbedaan suhu juga disebabkan oleh tutupan lahan di sekitarnya. Pada daerah dengan tutupan lahan rumput ataupun pepohonan, suhu udara tidak menunjukkan fluktuasi yang tajam antara siang dan malam hari. Sementara daerah dengan gedung-gedung tinggi ataupun tutupan aspal yang terbuka menunjukkan fluktuasi suhu yang tajam.

Pusat Penelitian Geografi Terapan pada tahun 1997 melakukan penelitian serupa, namun dengan menggunakan teknik yang berbeda, yakni penggunaan citra sebagai sumber data. Laporan penelitian ini dijadikan salah satu contoh studi kasus bagi penyusunan Modul Pemanfaatan Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis. Dari interpretasi citra Landsat TM bulan September 1997 diketahui bahwa suhu terendah Jakarta pada saat itu adalah antara 20-22° C sedangkan suhu tertinggi > 38° C. Suhu terendah terdapat di daerah-daerah tampungan air. Wilayah sekeitar daerah tampungan air memiliki suhu yang tidak berbeda jauh, yakni 24-26° C. Di sebagian pinggian Jakarta masih ada wilayah dengan suhu antara 24-28° C. Namun demikian, wilayah yang terluas, lebih dari 70%, memiliki suhu 28-30° C. Pada wilayah terluas ini terdapat beberapa lokasi yang menunjukkan suhu yang lebih tinggi, yakni 30-32° C. Lokasi suhu yang lebih tinggi ini menunjukkan terjadinya kutub panas di kota Jakarta. Lokasi ini berada di tempat dengan kegiatan yang menggunakan banyak energi seperti daerah industri, bandara, atau PLTU.

Widyawati dkk pada 1996 melakukan pengukuran suhu harian secara langsung di kota Surabaya. Alat yang digunakan adalah termometer rambut. Pengukuran dilakukan selama tujuh hari berturut-turut selama bulan November 1996. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu tertinggi mencapai 41 ° C dan terendah adalah 26,6 ° C. Suhu tinggi cenderung berada di tengah kota, yakni daerah perdagangan yang padat dengan frekuensi lalu lintas yang tinggi, tutupan permukaan lahan berupa aspal serta tidak terdapat pepohonan (Simpangan depan Tunjungan Plaza) mencapai 41° C, suhu terendahnya adalah 35,9 ° C. Tempat ini berada pada wilayah dengan karakteristik kegiatan ekonomi tinggi, daerah industri, ataupun bandara. Di daerah pinggiran suhu tertinggi adalah 35,7 ° C dan terendah mencapai 26,7 ° C. Selain daerah pinggiran dengan karakteristik daerah terbuka dengan tutupan rumput dan memiliki banyak pohon, ada pula daerah di tengah kota yang perbedaan suhu tertinggi dan terendahnya tidak berbeda jauh, yakni sekitar 3,6 ° C. Tempat-tempat seperti ini memiliki karakteristik antara lain dekat dengan badan air, banyak pepohonan sebagai pelindung, daerah permukiman yang tidak rapat dan tidak ramai.

2.2. Polusi udara perkotaan

Selain suhu harian, cerminan kualitas udara kota yang sehat juga dapat dilakukan melalui polutan yang ada di udara. Rahmawati (1998) melakukan penelitian terhadap kualitas udara kota Jakarta dengan menggunakan data yang dikumpulkan oleh Kantor Pengkajian Perkotaan dan Lingkungan (KP2L) DKI Jakarta serta Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) sebanyak 19 (sembilan belas) titik pengamatan. Data berasal dari pengamatan kontinu pada stasiun pemantau kualitas udara. Adapun polutan yang dianalisis oleh Rahmawati adalah NOX, SO2, dan SPM10 yang diamati setiap jam selama 1 (satu) tahun. Berdasarkan analisis yang dilakukan, diketahui bahwa wilayah Jakarta Pusat dan Ancol di Jakarta Utara memiliki kualitas udara paling buruk (tidak sehat) sepanjang tahun. Sedangkan wilayah Cipedak (Jakarta Selatan) ke arah Selatan relatif memiliki kualitas udara terbaik (sehat) bila dibandingkan dengan wilayah lainnya di DKI Jakarta.

Wilayah dengan kondisi kualitas udara terburuk merupakan wilayah yang terdiri atas bangunan tinggi yang sangat rapat bangunan dan disertai dengan jalur lalu lintas yang padat. Pada wilayah ini juga tidak dijumpai ruang terbuka hijau dan luasan badan air yang efektif untuk mereduksi pencemaran udara dan peningkatan suhu lokal.

2.3. Hujan asam

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh BMG pada tahun 1997 menunjukkan bahwa kadar asam pada air hujan di Jakarta Pusat adalah yang tertinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Rahmawati, 1998, di mana pada puncak musim kemarau 1997 (April dasarian III wilayah DKI Jakarta paling buruk bila dibandingkan dengan periode lainnya. Sedangkan pada periode akhir musim hujan 1997) DKI Jakarta memiliki kualitas udara terbaik bila dibandingkan dengan periode lainnya. Pada periode ini polutan udara telah mengalami proses perkolasi (pencucian polutan udara oleh hujan) yang menyebabkan kadar polutan terlarut (termasuk asam) dalam air hujan cukup tinggi.

Diskusikan artikel/tulisan ini dalam forum. (0 entri)

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com