|
Halaman 6 dari 12
Model-model struktur perkotaan
Hasil perencanaan kota membentuk kawasan kota, contohnya kawasan yang dikenal
sebagai Segitiga Emas di Jakarta, misalnya. Tentu saja kawasan terbangun di
perkotaan yang regulasinya dilakukan melalui kantor Dinas Tata Kota dan Dinas
Pengawasan Pembangunan Kota tidak hanya berupa kawasan gedung tinggi.
Semua proses pembangunan fisik kota, khususnya yang dilakukan
oleh masyarakat termasuk dalam pengawasan Dinas Tata Kota, melalui kepanjangannya
di tingkat-tingkat kecamatan.
Dari proses dan pelakuknya dihasilkan kondisi fisik kota yang berpengaruh
pada kondisi sosial ekonomi masyarakat. Keadaan ini yang menjadikan kajian terhadap
model struktur kota. Ada lima model yang utama dalam mengkaji struktur kota.
Model Pemusatan Burgess, Model Sektor Hoyt, Model Struktur Urban Mann, Model
Multi-Pusat Ullman -Harris, dan Model Nilai Tanah. (Waugh, 1990)
Model Pemusatan Burgess
Upaya Burgess 1924 dilakukan untuk mengenali identitas kawasan-kawasan di
kota Chicago. Dasar dari modelnya adalah perkembangan sosial-ekonomi penduduk
kota. Beberapa Asumsi yang dipakai Burgess adalah : Kota dibangun di daerah
dataran; sistim transportasi tidak rumit, murah, mudah dan cepat ke segala arah;
nilai tanah tertinggi di pusat kota dan menurun semakin jauh dari pusat kota;
bangunan tua berada di dekat pusat kota; penduduk miskin harus tinggal di dekat
pusat kota karena mereka tidak mampu membayar biaya transportasi. Tidak terjadi
konsentrasi industri berat.
Gambar 1.
Model Sektor Hoyt
Model ini dibentuk dari pemetaan delapan variabel perumahan di 142 kota
di Amerika Serikat. Hoyt berusaha menjelaskan perubahan dan distribusi dari
pola pemukiman. Penelitian dipublikasikan tahun 1939.
Beberapa asumsi yang dilakukan Burgess (1924) juga digunakan Hoyt (1939).
Ia menambahkan pula asumsinya sendiri, yakni: orang kaya akan memilih tempat-tempat
terbaik; pemukim kaya bisa membayar biaya transportasi untuk menjauhi daerah
industri; penggunaan tanah tertentu akan menarik jenis yang sama.
Gambar 2.
Model Struktur Urban Mann
Mann berusaha mengetrapkan hasil penelitian Burgess dan Hoyt di kota-kota
industri di utara Inggris. Hasil penelitian di kota-kota Huddersfield, Nottingham
dan Sheffield dilakukan tahun 1965. Asumsi dasarnya sama dengan kedua peneliti
sebelumnya. Hasilnya sebagai berikut:
Gambar 3.
Pusat kota merupakan KPB yang dikelilingi mintakat transisi terdiri dari
perumahan berteras kecil di sektor C dan D, rumah yang lebih besar di sektor
B dan rumah tua yang besar di sektor A. Mintakat selanjutnya adalah perumahan
pra industrialisasi di Inggris dilanjutkan mintakat paska industrialisasi yang
ditentukan bertahun 1918. Sedangkan mintakat kelima adalah pedesaan-pedesaan
yang memiliki akses ke pusat kota yang dijadikan pemukiman . Mann menyimpulkan
bahwa daerah peralihan tidak konsentrik dengan KPB melainkan pada sisinya, ini
karena pengaruh angin di negara pulau ini yang menyebabkan daerah arah bertiupnya
angin dari kawasan industri yang pada masa industrialisasi masih berada di sekitar
pusat kota sebagai daerah yang tidak dikehendaki karena adanya polusi udara.
Mann juga menjelaskan bahwa industri terletak di jalur-jalur utama komunikasi.
Perumahan kelas bawah bisa dikatakan perumahan tua yang merupakan sisa perumahan
yang terkena imbas angin dari kawasan industri yang dibangun pasca 1918. Perumahan
baru biasanya merupakan perumahan kelas menengah dan berada di luar jalur angin
yang bertiup dari Barat.
Model Multi-Pusat Ullman-Harris
Ullman dan Harris berupaya mengemukakan model yang lebih mendekati kenyataan
dibandingkan yang dihasilkan Burgess dan Hoyt dan pada akhirnya keluar dengan
sesuatu yang lebih rumit. Model yang rumit akan lebih menjadi diskriptif dibanding
prediktif jika terlalu mendekati kenyataan.
Ullman dan Harris menggunakan beberapa asumsi dasar. Pertama, kota modern
memiliki struktur yang kompleks dari yang diajukan Burgess dan Hoyt. Kedua
kota tidak tumbuh dari satu pusat, melainkan dari inti-inti (nucleus) yang
bebas (independent). Ketiga setiap inti berfungsi sebagai pendorong pertumbuhan
(growth point) dan masing-masing berbeda satu sama lainnya, misalnya inti
administratif, inti perdagangan eceran, inti transportasi, dst. Keempat dalam
waktu inti-inti ini akan menyatu menjadi suatu pusat urban besar; jika pertumbuhan
ini menjadi terlalu besar dan menimbulkan kongesti maka beberapa fungsi kawasan
akan menyebar membentuk inti baru dan menghasilkan pertokoan pinggir kota.
Gambar 4.
Model yang dikemukakan ini adalah model setelah tergabungnya inti-inti independen
menjadi satu pusat urban besar. Cirinya hampir sama dengan model konsentrik
dimana di tengah berbagai kelas pemukiman terdapat KPB. Akan tetapi berbeda
disini karena adanya mintakat delapan dan tujuh yang merupakan inti baru sebagai
jawaban atas kongesti yang terjadi di KPB.
Model Nilai Sewa
Struktur perkotaan bisa juga dilihat dari nilai tanah. Didasari pada asumsi
yang sama dari model von Thunen mengenai penggunaan lahan pedesaan yang didasari
pada nilai lokasi (locational rent). Asumsi dasarnya adalah tawaran tertinggi
akan mendapatkan lokasi tanah yang paling tinggi aksesibilitasnya. Penawar tanah
tertinggi adalah mereka yang bisa mendapatkan keuntungan maksimum dari lokasi
tersebut dan ini berarti sanggup membayar nilai (sewa) tertingginya. Ini menunjukan
bahwa pengguna yang memiliki kurva yang paling tajam akan menempatkan posisi
pusat kota, dalam hal ini adalah perusahaan perdagangan dan dunia usaha. Sedangkan
yang paling datar kurvanya, pemukiman akan menempati bagian tepi. Jadi sebagaimana
telah diungkapkan Richard Ratcliff: Secara ringkas kita bisa mengatakan bahwa struktur
kota ditentukan oleh nilai uang dari pentingnya kenyamanan.
Grafik 1.
Pada pusat kota atau KPB nilai sewa tanah untuk perdagangan, industri dan
pemukiman merupakan nilai tertinggi dari golongannya. Sedangkan pada kawasan
kedua nilai sewa tanah untuk masing-masing jenis penggunaan tanah ini adalah
lebih rendah dari di lokasi pusat kota atau KPB. Sedangkan pada bagian ketiga
penggunaan tanah perdagangan bukan lagi dominan, dan nilai sewa merupakan yang
terendah.
Pada pusat kota jenis penggunaan tanah didominasi oleh perdagangan. Demikian
seterusnya pada lingkaran kedua dimana dominasi penggunaan tanah oleh industri.
Dan pada lingkaran terluar didominasi oleh pemukiman.
Jika kondisi perkotaan telah mencapai keadaan seperti dalam asumsi Ullman
dan Harris maka akan dijumpai titik-titik temu nilai sewa tertinggi kedua pada
seputar kota. Penggambaran dalam tiga dimensi akan sebagai berikut ini.
Gambar 5.
Dalam model struktur kota terdapat dua perbedaan utama. Pertama adalah adanya
satu pusat kota (Burgess, Hoyt, dan Mann) dan lainnya Ullman dan Harris menyatakan
adanya lebih dari satu pusat kota. Pada model nilai sewa juga dikemukakan adanya
satu pusat kota, dimana nilai sewa tertinggi digunakan untuk perdagangan. Namun
pada penelitian lebih lanjut kerap ditemukan kenaikan nilai tanah pada lokasi-lokasi
selain dari apa yang pada disebut KPB. Nilai tanah yang meninggi kembali ini,
walau tidak setinggi di KPB kota disebut Nilai Sewa Tertinggi Kedua (secondary
peak value).
Nilai Sewa Tertinggi Kedua ini terjadi pada pertemuan jalan utama menuju
pusat kota dengan jalan lingkar kota. Pada lokasi ini juga dijumpai dominasi
penggunaan tanah perdagangan dan disusul oleh industri kemudian pemukiman. Pada
kota yang besar, seperti DKI Jakarta dengan penduduk mencapai 13 juta, dapat
dijumpai lebih dari satu Nilai Sewa Tertinggi Kedua, seperti contohnya gambar
5.
Model Lainnya
Jika dilihat, model nilai sewa di atas pada kurva Tawaran-Sewa maka hasil
pola jenis penggunaan lahan mirip dengan model Pemusatan Burgess. Sedangkan
dalam perhitungan dengan adanya nilai tertinggi kedua maka hasil pola jenis
penggunaan lahan sesuai dengan asumsi dari Ullman -Harris. Namun keduanya masih
mengetengahkan suatu pusat kota utama.
Model lain merupakan hasil pengkajian kota-kota kolonial di Indonesia oleh
Sandy (1978). Kajian ini merupakan sintesa pengamatan kota-kota Jambi, Palangkaraya,
Samarinda, Pekanbaru, Sawahlunto, Madiun, Salatiga, Padang, Cirebon dan Yogyakarta.
Pada kota-kota tersebut diamati jaringan jalan, daerah pertokoan yang diasumsikan
sebagai daerah pusat usaha (KPB), bangunan buruk (kualitas bangunan rendah)
dan bangunan baik, serta daerah tergenang air.
Hasil kajiannya sebagai berikut:
Gambar 6.
Secara umum setiap model struktur kota memiliki pusat kegiatan usaha sebagai
inti utama atau KPB. Hal ini pun bisa dilihat dari batasan sosial-ekonomi penghuni
kota jika dikaitkan dengan mintakat Pemusatan Burgess atau lainnya. Pada daerah
pusat usaha terdapat gabungan tingkat atas yang tinggal di kondominium dan apartemen
mewah, serta sebagian kecil tuna wisma. Di bagian dalam kota (inner city)
terdapat pemukiman kelas bawah dengan status sosial rendah. Di mintakat tengah
kelas menengah . Dan mintakat luar kembali dihuni oleh kelompok masyarakat kelas
atas.
Gambar 7.

|