|
Halaman 1 dari 12 Abstraksi
DKI Jakarta memiliki visi untuk menjadi kota jasa skala nasional dan internasional.
Ciri-ciri kota pelayanan skala internasional adalah adanya kawasan penggunaan
lahan untuk komersial yang disebut kawasan pusat bisnis kota atau KPB. Konsentrasi
gedung tinggi berada pada kawasan ini yang disebabkan tingginya nilai tanah
akibat dari kompetisi atas ruang. Persebaran gedung tinggi tentunya akan mengikuti
pola persebaran secara acak, secara mengelompok atau secara merata. Pola persebaran
yang mengelompok dapat menjadi indikator bahwa kawasan tersebut merupakan KPB.
KPB sebagai struktur kota merupakan bagian pusat dimana pertumbuhan kota
mengitari pusat tersebut. Berbagai model struktur kota mengajukan KPB sebagai
satu-satunya pusat kota, sedangkan satu model mengajukan pusat kota bukan hanya
satu melainkan beragam. Makalah ini berupaya menentukan pusat kota DKI Jakarta
melalui persebaran konsentrasi kawasan gedung tinggi. Melalui perbandingan dengan
berbagai model dicari model struktur kota mana yang sesuai untuk DKI Jakarta.
Dalam pembahasan diungkapkan bahwa konsentrasi kawasan gedung tinggi berada
di tiga kecamatan yang saling bertetangga di Kodya Jakarta Pusat dan Jakarta
Selatan, yakni Kecamatan Tanah Abang, Kecamatan Menteng, dan Kecamatan Setia
Budi. Namun persebaran gedung tinggi berada pada 29 kecamatan lainnya diantara
43 kecamatan di DKI Jakarta. Jadi konsentrasi gedung tinggi memang terjadi di
DKI Jakarta dan dapat menjadi indikasi KPB. Sedangkan model struktur kota yang
sesuai adalah model ragam pusat kota atau multi nodal.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
DKI Jakarta, sebagaimana tertera dalam Perda Nomor 6 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah DKI Jakarta, memiliki visi untuk menjadi ibukota Republik Indonesia
yang sejajar dengan kota-kota besar negara maju. Sesuai dengan ini maka penataan
ruang wilayah ditujukan, salah satunya, sebagai kota jasa skala nasional dan
internasional.
Ciri-ciri kota pelayanan skala internasional adalah adanya kawasan penggunaan
lahan untuk komersial seperti perdagangan dan jasa untuk industri (perbankan
dan perkantoran, contohnya). Kawasan ini disebut Kawasan Pusat Bisnis atau KPB
dan biasanya konsentrasi gedung tinggi berada pada kawasan ini yang disebabkan
tingginya nilai tanah akibat dari kompetisi atas ruang. Ciri-ciri yang dikemukakan
Waugh (1990) memang untuk kota-kota di Amerika Utara. Namun ini bukan berarti
kota Jakarta tidak memiliki kenampakan seperti ini.
Fenomena gedung tinggi di Jakarta diawali pada tahun 1960an dengan berdirinya
Hotel Indonesia di Jalan Thamrin. Setelah berjalan 34 tahun jumlah gedung tinggi
di Jakarta menurut pendataan Dinas Pengawasan Pembangunan Kota (Dinas P2K)
mencapai lebih 400 unit untuk bangunan di atas sembilan lapis (tingkat). Sedangkan
di atas tujuh lapis mencapai 577 unit.
Persebaran gedung tinggi tentunya akan mengikuti pola persebaran tertentu.
Bisa tersebar secara acak, secara mengelompok atau secara merata di seluruh
DKI Jakarta. Dengan luas 650 kilometer persegi Jakarta memiliki jumlah luas
bangunan sebesar 202.562.211 meter persegi, atau 20.25 kilometer persegi.
Pola persebaran yang mengelompok dapat menjadi indikator bahwa
kawasan tersebut merupakan KPB.
Konsentrasi kegiatan usaha menjadi pusat kota sudah menjadi obyek penelitian
khususnya bagi penelitian bidang struktur kota. Beberapa model awal mengajukan
bahwa perkotaan memiliki satu pusat kegiatan utama dimana perkembangan kota
mengitari pusat tersebut. Satu pusat ini diisi oleh kegiatan pertokoan dan jasa.
Model lain mengemukakan bahwa pusat tersebut tidak hanya satu, namun perkembangannya
pada akhirnya akan menyatukan perkotaan. Model multi-pusat juga mengemukakan
bahwa jenis kegiatan dalam pusat-pusat tersebut berbeda.
Kawasan gedung tinggi di Jakarta merupakan kenampakan yang paling mudah didelienasi.
Dilihat dari berbagai sudut kota, kawasan gedung tinggi akan nampak jelas. Namun
pola persebaran menjadi menarik jika dikaitkan dengan model-model struktur kota.
Untuk ini diajukan masalah yang menyangkut:
- Bagaimanakah persebaran kawasan gedung tinggi Jakarta.
- Apakah persebaran kawasan
gedung tinggi di Jakarta menunjukan struktur kota Jakarta memiliki satu pusat
kegiatan usaha atau pusat ganda.
Kajian terhadap pola persebaran gedung tinggi dikaitkan dengan model struktur
kota diharapkan dapat memberi gambaran tentang kawasan pusat kegiatan usaha
Jakarta atau KPB. Pemahaman ini dibutuhkan untuk menjadi titik tolak dalam kajian
mengenai masalah urbanisasi. Masalah perluasan kawasan urban ("urban sprawl")
bisa dikaji dari pusat-pusat kegiatan usaha tersebut dengan jaringan transportasi
yang ada. Masalah sosial perkotaan berkaitan dengan keberadaan pusat-pusat usaha
dengan hirarki sosial-ekonomi pemukiman. Masalah kongesti atau kemacetan lalulintas
berkaitan dengan pusat kegiatan usaha dan sarana transportasi. Jadi pemahaman
akan struktur kota, khususnya dibatasi pada pusat kegiatan usaha, melalui salah
satu indikatornya, yakni gedung tinggi, diharapkan menjadi basis data dalam
penelitian tentang perkotaan selanjutnya.
Diskusikan artikel/tulisan ini dalam forum. (0 entri)
|