Depan arrow Artikel arrow Makalah arrow Pemusatan Kawasan Gedung Tinggi Di Jakarta
Pemusatan Kawasan Gedung Tinggi Di Jakarta Cetak E-mail
Oleh Adi Seno   
Daftar Isi
Pemusatan Kawasan Gedung Tinggi Di Jakarta
Batasan
Kapasitas dan Populasi Kota
Kawasan Gedung Tinggi
Peran Perencanaan Perkotaan
Model Struktur Perkotaan
Teori Persebaran
Kawasan Pusat Bisnis
Pendekatan dan Penjabaran
Kondisi Kawasan Gedung Tinggi Jakarta
Pemusatan Gedung Tinggi Jakarta
Kesimpulan

Abstraksi

DKI Jakarta memiliki visi untuk menjadi kota jasa skala nasional dan internasional. Ciri-ciri kota pelayanan skala internasional adalah adanya kawasan penggunaan lahan untuk komersial yang disebut kawasan pusat bisnis kota atau KPB. Konsentrasi gedung tinggi berada pada kawasan ini yang disebabkan tingginya nilai tanah akibat dari kompetisi atas ruang. Persebaran gedung tinggi tentunya akan mengikuti pola persebaran secara acak, secara mengelompok atau secara merata. Pola persebaran yang mengelompok dapat menjadi indikator bahwa kawasan tersebut merupakan KPB.

KPB sebagai struktur kota merupakan bagian pusat dimana pertumbuhan kota mengitari pusat tersebut. Berbagai model struktur kota mengajukan KPB sebagai satu-satunya pusat kota, sedangkan satu model mengajukan pusat kota bukan hanya satu melainkan beragam. Makalah ini berupaya menentukan pusat kota DKI Jakarta melalui persebaran konsentrasi kawasan gedung tinggi. Melalui perbandingan dengan berbagai model dicari model struktur kota mana yang sesuai untuk DKI Jakarta.

Dalam pembahasan diungkapkan bahwa konsentrasi kawasan gedung tinggi berada di tiga kecamatan yang saling bertetangga di Kodya Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, yakni Kecamatan Tanah Abang, Kecamatan Menteng, dan Kecamatan Setia Budi. Namun persebaran gedung tinggi berada pada 29 kecamatan lainnya diantara 43 kecamatan di DKI Jakarta. Jadi konsentrasi gedung tinggi memang terjadi di DKI Jakarta dan dapat menjadi indikasi KPB. Sedangkan model struktur kota yang sesuai adalah model ragam pusat kota atau multi nodal.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

DKI Jakarta, sebagaimana tertera dalam Perda Nomor 6 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah DKI Jakarta, memiliki visi untuk menjadi ibukota Republik Indonesia yang sejajar dengan kota-kota besar negara maju. Sesuai dengan ini maka penataan ruang wilayah ditujukan, salah satunya, sebagai kota jasa skala nasional dan internasional.

Ciri-ciri kota pelayanan skala internasional adalah adanya kawasan penggunaan lahan untuk komersial seperti perdagangan dan jasa untuk industri (perbankan dan perkantoran, contohnya). Kawasan ini disebut Kawasan Pusat Bisnis atau KPB dan biasanya konsentrasi gedung tinggi berada pada kawasan ini yang disebabkan tingginya nilai tanah akibat dari kompetisi atas ruang. Ciri-ciri yang dikemukakan Waugh (1990) memang untuk kota-kota di Amerika Utara. Namun ini bukan berarti kota Jakarta tidak memiliki kenampakan seperti ini.

Fenomena gedung tinggi di Jakarta diawali pada tahun 1960an dengan berdirinya Hotel Indonesia di Jalan Thamrin. Setelah berjalan 34 tahun jumlah gedung tinggi di Jakarta menurut pendataan Dinas Pengawasan Pembangunan Kota (Dinas P2K) mencapai lebih 400 unit untuk bangunan di atas sembilan lapis (tingkat). Sedangkan di atas tujuh lapis mencapai 577 unit.

Persebaran gedung tinggi tentunya akan mengikuti pola persebaran tertentu. Bisa tersebar secara acak, secara mengelompok atau secara merata di seluruh DKI Jakarta. Dengan luas 650 kilometer persegi Jakarta memiliki jumlah luas bangunan sebesar 202.562.211 meter persegi, atau 20.25 kilometer persegi. Pola persebaran yang mengelompok dapat menjadi indikator bahwa kawasan tersebut merupakan KPB.

Konsentrasi kegiatan usaha menjadi pusat kota sudah menjadi obyek penelitian khususnya bagi penelitian bidang struktur kota. Beberapa model awal mengajukan bahwa perkotaan memiliki satu pusat kegiatan utama dimana perkembangan kota mengitari pusat tersebut. Satu pusat ini diisi oleh kegiatan pertokoan dan jasa. Model lain mengemukakan bahwa pusat tersebut tidak hanya satu, namun perkembangannya pada akhirnya akan menyatukan perkotaan. Model multi-pusat juga mengemukakan bahwa jenis kegiatan dalam pusat-pusat tersebut berbeda.

Kawasan gedung tinggi di Jakarta merupakan kenampakan yang paling mudah didelienasi. Dilihat dari berbagai sudut kota, kawasan gedung tinggi akan nampak jelas. Namun pola persebaran menjadi menarik jika dikaitkan dengan model-model struktur kota. Untuk ini diajukan masalah yang menyangkut:

  • Bagaimanakah persebaran kawasan gedung tinggi Jakarta.
  • Apakah persebaran kawasan gedung tinggi di Jakarta menunjukan struktur kota Jakarta memiliki satu pusat kegiatan usaha atau pusat ganda.

Kajian terhadap pola persebaran gedung tinggi dikaitkan dengan model struktur kota diharapkan dapat memberi gambaran tentang kawasan pusat kegiatan usaha Jakarta atau KPB. Pemahaman ini dibutuhkan untuk menjadi titik tolak dalam kajian mengenai masalah urbanisasi. Masalah perluasan kawasan urban ("urban sprawl") bisa dikaji dari pusat-pusat kegiatan usaha tersebut dengan jaringan transportasi yang ada. Masalah sosial perkotaan berkaitan dengan keberadaan pusat-pusat usaha dengan hirarki sosial-ekonomi pemukiman. Masalah kongesti atau kemacetan lalulintas berkaitan dengan pusat kegiatan usaha dan sarana transportasi. Jadi pemahaman akan struktur kota, khususnya dibatasi pada pusat kegiatan usaha, melalui salah satu indikatornya, yakni gedung tinggi, diharapkan menjadi basis data dalam penelitian tentang perkotaan selanjutnya.

Diskusikan artikel/tulisan ini dalam forum. (0 entri)

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com