Depan Artikel Makalah Pemusatan Kawasan Gedung Tinggi Di Jakarta
|
Pemusatan Kawasan Gedung Tinggi Di Jakarta |
|
|
|
Oleh Adi Seno
|
|
Halaman 12 dari 12
KESIMPULAN
-
Konsentrasi gedung tinggi
terjadi di tujuh kecamatan yang saling berbatasan dan berada di bagian tengah
letak geografis Jakarta.
Beberapa kecamatan jumlah gedung tinggi lebih besar
dari 30. Tertinggi adalah di Setia Budi, disusul Menteng, Gambir, Tanah Abang,
Grogol Petamburan, Sawah Besar dan Kebayoran Baru. Setia Budi memiliki 97 gedung
tinggi, Menteng 44 gedung, Gambir 43, Tanah Abang 41, Grogol Petamburan 32,
dan dua kecamatan sama besar yakni Sawah Besar dan Kebayoran Baru sebesar 31.
Setia Budi, Menteng dan Gambir merupakan kecamatan
yang berurut dari selatan ke utara mengikut jalur Jalan Thamrin dan Jalan Rasuna
Said. Sedangkan kecamatan Tanah Abang yang merupakan tertinggi ke empat berada
sejajar di arah barat dari Menteng. Keempatnya ini semua bertetangga dengan
Menteng sebagai titik tengahnya.
-
Konsentrasi tertinggi berada
di kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan.
Kecamatan Setia Budi dengan 97 gedung tinggi jelas
merupakan yang terbanyak. Angka ini bahkan dua kali dari angka tertinggi keduanya,
yakni Kecamatan Menteng dengan 44 gedung tinggi. Kecamatan Setia Budi ini terletak
antara dua jalan utama yang telah diuraikan di atas sebagai poros antara deret
kecamatan-kecamatan dengan jumlah konsentrasi gedung tinggi terbanyak, yakni
Jalan Sudirman-Thamrin dan Jalan Rasuna Said. Walau berada dalam Kodya Jakarta
Selatan, posisi geografis Setia Budi berbatasan dengan Kodya Jakarta Pusat.
Pada Kecamatan Setia Budi ini terjadi perubahan
penggunaan tanah dari pemukiman menjadi perkantoran dan apartemen. Pemukiman
di Kecamatan Setia Budi merupakan rumah-rumah tinggal satu sampai dua lapis.
Pada Kelurahan Karet terdapat industri batik. Semua ini berubah sesuai dengan
rencana Pemda DKI Jakarta untuk mengembangkan kawasan Segitiga emas, yang diantaranya
adalah Kecamatan Setia Budi.
-
Telah terjadi pergeseran pusat
kota dari kawasan Stasiun Kota dan Glodok pada masa kolonial dan awal kemerdekaan
ke arah selatan mengikuti perkembangan kota DKI Jakarta menjadi kota internasional.
Jika mengikuti model Sandy maka pada masa kolonial
pusat kota atau daerah perdagangan adalah di Kecamatan Sawah Besar dimana terdapat
kawasan perdagangan Glodok, jalan Gajah Mada dan Hayamwuruk. Pada daerah perdagangan
ini juga terdapat daerah yang terbangun dengan baik seperti di seputar kawasan
kantor walikota yang kini menjadi Musium Fatahillah. Sedangkan daerah kampung
terletak di bagian barat dari Jalan Gajah Mada, yakni Kecamatan Taman Sari di
Kodya Jakarta Barat yang bertetangga dengan Kecamatan Sawah Besar.
Sedangkan dalam sudut pandang DKI Jakarta sebagai kota internasional, maka
pusat kota atau KPB berada di kawasan gedung tinggi dimana menurut hasil kajian
ini berada di empat kecamatan berkonsentrasi tertinggi, yakni Setia Budi, Menteng,
Gambir dan Tanah Abang. Maka dari pemahaman ini dikatakan bahwa terjadi pergeseran
pusat kota sejak dari masa kolonial Belanda ke masa kini.
-
Luasnya persebaran gedung-gedung
tinggi di seluruh wilayah DKI Jakarta menunjukan adanya lebih dari satu inti,
hingga model struktur kota yang sesuai dengan DKI Jakarta adalah model Ullman-Harris.
Walau konsentrasi gedung tinggi memusat di keempat kecamatan di daerah Jakarta
Pusat, namun konsentrasi perbandingan luas gedung-gedung tinggi terhadap daerah
administrasinya berada di Kodya Jakarta Barat. Ini menunjukan adanya Nilai Sewa
Tertinggi Kedua di kawasan Jakarta Barat. Adanya ini menandakan bahwa di DKI
Jakarta terdapat paling tidak dua KPB.
Jika melihat pada persebaran gedung-gedung tinggi
dimana jumlah terbesarnya berada di Kodya Jakarta Selatan, dengan 207 gedung,
berarti di daerah tersebut juga memiliki kemungkinan keberadaan Nilai Sewa Tertinggi
Kedua. Jadi dari sini diambil kesimpulan bahwa struktur kota Jakarta mendekati
model Ullman-Harris dengan struktur multi nodal.
Daftar Pustaka.
- Anonymous, Data Bangunan Tinggi DKI Jakarta Tahun 1972 s.d 30 September
1999, Dinas Pengawasan Pembangunan Kota, Jakarta.
- Anonymous, Peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta No 4 Tahun 1975 tentang Ketentuan Bangunan Bertingkat Di Wilayah Daerah Khusus Ibukota
Jakarta, Dinas Tata Kota, Jakarta, 1975.
- Anonymous, Peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta No 7 tahun 1991 tentang Bangunan Dalam Wilayah Daerah Khusus Ibukota
Jakarta, Dinas Tata Kota, Jakarta, 1991.
- Anonymous, Dinamisasi Perencanaan Kota, Publikasi Penerangan Rencana
Kota, Dinas Tata Kota, Jakarta, 1999.
- Anonymous, Ikhtisar Rencana Rinci Tata Ruang Wilayah (RRTRW) Kecamatan, Publikasi Penerangan Rencana
Kota, Dinas Tata Kota, Jakarta, 1999.
- Anonymous, Kawasan Segitiga Emas, Publikasi Penerangan Rencana Kota, Dinas Tata Kota, Jakarta, 1999.
- Anonymous, Peran Partisipasi Masyarakat Dalam Perencanaan Kota, Prosedur Pelayanan Ketatakotaan, Publikasi Penerangan Rencana
Kota, Dinas Tata Kota, Jakarta, 1999.
- Anonymous, Prosedur Pelayanan Ketatakotaan, Publikasi Penerangan Rencana
Kota, Dinas Tata Kota, Jakarta, 1999.
- Anonymous, Prosedur Penyesuaian Rencana Peruntukan, Publikasi Penerangan Rencana
Kota, Dinas Tata Kota, Jakarta, 1999.
- Anonymous, Reorientasi Metoda Penyusunan Rencana Tata Ruang, Publikasi Penerangan Rencana
Kota, Dinas Tata Kota, Jakarta, 1999.
- Anonymous, Peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta No 6 tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah Khusus
Ibukota, Pemda DKI, Jakarta, 1999.
Diskusikan artikel/tulisan ini dalam forum. (0 entri)
|
|
|
|