|
Halaman 4 dari 12
Kawasan gedung tinggi
Struktur kota yang paling mudah dilihat adalah kawasan gedung tinggi. Kawasan
gedung tinggi merupakan ciri khas dari kota besar. Rancangan kawasan terbangun
suatu kota memberikan makna, ekspresi dan identitas spasial dalam urbanisasi.
Setiap bangunan memiliki semangat dari masanya. Kawasan gedung tinggi sebagai
identitas pusat kota merupakan ciri kota-kota Amerika Utara. Disana gedung tinggi
tersebut disebut skyscraper atau pencakar langit. Gejala ini sekarang
telah menyebar ke kota-kota besar berpenduduk lebih dari satu juta jiwa. Dari
Jakarta di Asia, sampai Nairobi di Afrika, dan Quito di Amerika Selatan, semua
memiliki kawasan gedung tinggi di daerah perkotaannya.
Pencakar langit lahir sebagai kepanjangan gerakan City Beautiful. Gerakan
City Beautiful ini mendapatkan namanya dari sekolah arsitektur Perancis
Beaux Art dimana disana diberikan pengajaran mengenai arsitektur Klasik
dan Renaissance. Gerakan ini, tentunya, timbul di Eropa dimana kota-kota disana
memiliki sejarah panjang dan bangunan-bangunannya merupakan biografi kota yang
dirasakan patut dipertahankan. Renovasi kota yang menjadi tuntutan akibat pertumbuhan
yang terjadi mengharuskan para perancang kota (arsitek) untuk mengawinkan nilai-nilai
lama yang dirasa perlu untuk dipertahankan dengan bangunan baru. Gabungan ini
melahirkan karya-karya bangunan yang "indah".
Walau pun Amerika pada abad 19 tidak memiliki banyak bangunan tua yang patut
dipertahankan, namun gerakan ini memberi inspirasi bagaimana membangun kota
industri yang pada masa itu sedang dalam proses perkembangan. Beberapa arsitek
dan perancang kota Amerika, seperti Daniel Burnham, Frederick Law
Olmsted, Jr. menampilkan
karya mereka di Chicago pada 1893 dengan bangunan berketinggian seragam dan
jalan-jalan utama (avenue) yang lebar. Burnham sendiri, sebagai arsitek, pernah
bekerja dalam tim yang membangun salah satu pencakar langit pertama, yakni Monadnock
Building berlapis 16 di Chicago, yang berdiri tahun 1891. Ia sendiri mendapatkan
penghasilannya dari membangun pencakar langit seperti gedung Flatiron
di New York.
Gerakan membangun pencakar langit di pusat kota bukan melulu karya aristektur.
Gerakan ini mendapat pendorong dari rancangan untuk transportasi dan rancangan
konstruksi bangunan. Elisha Graves Otis
pada dekade 50an menciptakan pengangkut vertikal bagi penumpang, atau
yang disebut elevator atau lift. Kendaraan ini memungkinan pergerakan
secara efisien dan efektif dari penumpang dan barang di gedung-gedung tinggi.
James Bogardus
pada dekade yang sama menggunakan
tiang-tiang besi tempa untuk membangun gedung enam lapis untuk penerbit Harper
di New York. Baru pada tahun 1860 Equitable Insurance Company Building,
juga di New York, menggunakan kerangka baja, bukan lagi batu bata yang harus
ditumpuk pada dinding yang tebal. Terlepasnya konstruksi dari batasan dinding
batu, membuat rancangan gedung bisa menjulang tinggi ke langit.
Seluruh gerakan ini timbul pada masa yang tepat
untuk kota Chicago. Akibat dari kebakaran besar pada tahun 1871, kota Chicago
membutuhkan renovasi pusat kotanya. Pada masa itu prasyarat teknis dari konstruksi
dan lift sudah ada, sehingga rancangan-rancangan pencakar langit untuk mengisi
pusat kota Chicago bisa terlaksana.
Salah satu perkembang teknologi lain yang mendukung pertumbuhan pencakar langit
adalah karya Alexander Graham Bell. Telepon memberikan kepraktisan ekonomi
bagi gedung tinggi sebagai suatu habitat kegiatan usaha. Telepon memungkinkan
dikuranginya para pengantar pesan, yang tentunya akan memadati lift di gedung-gedung
pencakar langit.
Perkembangan terakhir yang menyebabkan fenomena
pencakar langit menjadi penutup cakrawala pusat-pusat kota Amerika Serikat adalah
kenaikan harga tanah di kawasan-kawasan usaha tengah kota pada akhir abad 19.
Ini memberikan rasionalitas ekonomi untuk pencakar langit tumbuh tinggi.
Struktur bangunan yang tinggi di tengah kota juga
memberikan kesempatan bagi para pemilik modal mencitrakan dirinya dalam nuansa
keberhasilan. Jadi dari awalnya pencakar langit bukan sekedar karya arsitektur,
melainkan pula ekspresi ekonomi dan periklanan. Pada pengusaha, penerbit, perusahaan-perusahaan
finansial berlomba-lomba membangun pencakar langitnya agar lebih tinggi dan
lebih megah dari tetangganya.
Kompetisi ini berimbas, atau kebalikannya, atau bahkan menjadi hubungan timbal
balik dengan arsitektur. Perkembangan rancangan kota mengikut proses urbanisasi
dimana perubahanlah satu-satunya yang pasti. Rancangan kota dari City Beautiful
disaingi oleh gerakan Modernisme. Gerakan ini mengupayakan pembelaan
sosial dari gerakan sebelumnya yang banyak menggunakan ornamen untuk mengagungkan
keberhasilan dan kekayaan. Gerakan Modernism ini paling dikenal lewat karya-karya
perancang kota Perancis Charles-Edouard Jeanneret yang menggunakan nama
samaran Le Corbusier. Bagi pengamat arsitektur masa Modernisme ini berlangsung
dalam berbagai tahapan, dengan masing-masing tahap memiliki tokoh yang dianggap
terkemuka sendiri-sendiri dan karya-karya utama, seperti museum Guggenheim di
New York.
Gerakan Modernisme ini pun bersaing dengan penerusnya, yakni gerakan Post-Modern.
Secara sederhana gerakan ini mengembalikan lagi ornamen dan pernik-pernik kemewahan
kedalam karya arsitektur mereka. Diantara arsitek yang terkemuka adalah Robert
Venturi yang mengajukan argumentasi "less is bore" sebagai lawan
dari moto Modernisme " less is more" yang dikemukakan salah seorang
tokoh Modernism Mies van der Rohe. Saat ini arsitektur dominan yang
berkembang adalah dari gerakan Post-Modern ini.
Ini tentu saja bukan berarti bahwa perubahan terhenti.
Gerakan baru tentu saja sekarang ini sedang berkembang di ruang-ruang kerja
para arsitek dan perancang kota. Usaha untuk menjawab tantangan perubahan dalam
rancangan kota sebagaimana pada masa awal kelahiran pencakar langit, bukan monopoli
para arsitek, tetapi juga para birokrat pemerintah dan pemilik modal serta pengembang
bangunan.
|