Depan arrow Artikel arrow Makalah arrow Pemusatan Kawasan Gedung Tinggi Di Jakarta
Pemusatan Kawasan Gedung Tinggi Di Jakarta Cetak E-mail
Oleh Adi Seno   
Daftar Isi
Pemusatan Kawasan Gedung Tinggi Di Jakarta
Batasan
Kapasitas dan Populasi Kota
Kawasan Gedung Tinggi
Peran Perencanaan Perkotaan
Model Struktur Perkotaan
Teori Persebaran
Kawasan Pusat Bisnis
Pendekatan dan Penjabaran
Kondisi Kawasan Gedung Tinggi Jakarta
Pemusatan Gedung Tinggi Jakarta
Kesimpulan

Kawasan gedung tinggi

Struktur kota yang paling mudah dilihat adalah kawasan gedung tinggi. Kawasan gedung tinggi merupakan ciri khas dari kota besar. Rancangan kawasan terbangun suatu kota memberikan makna, ekspresi dan identitas spasial dalam urbanisasi. Setiap bangunan memiliki semangat dari masanya. Kawasan gedung tinggi sebagai identitas pusat kota merupakan ciri kota-kota Amerika Utara. Disana gedung tinggi tersebut disebut skyscraper atau pencakar langit. Gejala ini sekarang telah menyebar ke kota-kota besar berpenduduk lebih dari satu juta jiwa. Dari Jakarta di Asia, sampai Nairobi di Afrika, dan Quito di Amerika Selatan, semua memiliki kawasan gedung tinggi di daerah perkotaannya.

Pencakar langit lahir sebagai kepanjangan gerakan City Beautiful. Gerakan City Beautiful ini mendapatkan namanya dari sekolah arsitektur Perancis Beaux Art dimana disana diberikan pengajaran mengenai arsitektur Klasik dan Renaissance. Gerakan ini, tentunya, timbul di Eropa dimana kota-kota disana memiliki sejarah panjang dan bangunan-bangunannya merupakan biografi kota yang dirasakan patut dipertahankan. Renovasi kota yang menjadi tuntutan akibat pertumbuhan yang terjadi mengharuskan para perancang kota (arsitek) untuk mengawinkan nilai-nilai lama yang dirasa perlu untuk dipertahankan dengan bangunan baru. Gabungan ini melahirkan karya-karya bangunan yang "indah".

Walau pun Amerika pada abad 19 tidak memiliki banyak bangunan tua yang patut dipertahankan, namun gerakan ini memberi inspirasi bagaimana membangun kota industri yang pada masa itu sedang dalam proses perkembangan. Beberapa arsitek dan perancang kota Amerika, seperti Daniel Burnham, Frederick Law Olmsted, Jr. menampilkan karya mereka di Chicago pada 1893 dengan bangunan berketinggian seragam dan jalan-jalan utama (avenue) yang lebar. Burnham sendiri, sebagai arsitek, pernah bekerja dalam tim yang membangun salah satu pencakar langit pertama, yakni Monadnock Building berlapis 16 di Chicago, yang berdiri tahun 1891. Ia sendiri mendapatkan penghasilannya dari membangun pencakar langit seperti gedung Flatiron di New York.

Gerakan membangun pencakar langit di pusat kota bukan melulu karya aristektur. Gerakan ini mendapat pendorong dari rancangan untuk transportasi dan rancangan konstruksi bangunan. Elisha Graves Otis pada dekade 50an menciptakan pengangkut vertikal bagi penumpang, atau yang disebut elevator atau lift. Kendaraan ini memungkinan pergerakan secara efisien dan efektif dari penumpang dan barang di gedung-gedung tinggi.

James Bogardus pada dekade yang sama menggunakan tiang-tiang besi tempa untuk membangun gedung enam lapis untuk penerbit Harper di New York. Baru pada tahun 1860 Equitable Insurance Company Building, juga di New York, menggunakan kerangka baja, bukan lagi batu bata yang harus ditumpuk pada dinding yang tebal. Terlepasnya konstruksi dari batasan dinding batu, membuat rancangan gedung bisa menjulang tinggi ke langit.

Seluruh gerakan ini timbul pada masa yang tepat untuk kota Chicago. Akibat dari kebakaran besar pada tahun 1871, kota Chicago membutuhkan renovasi pusat kotanya. Pada masa itu prasyarat teknis dari konstruksi dan lift sudah ada, sehingga rancangan-rancangan pencakar langit untuk mengisi pusat kota Chicago bisa terlaksana.

Salah satu perkembang teknologi lain yang mendukung pertumbuhan pencakar langit adalah karya Alexander Graham Bell. Telepon memberikan kepraktisan ekonomi bagi gedung tinggi sebagai suatu habitat kegiatan usaha. Telepon memungkinkan dikuranginya para pengantar pesan, yang tentunya akan memadati lift di gedung-gedung pencakar langit.

Perkembangan terakhir yang menyebabkan fenomena pencakar langit menjadi penutup cakrawala pusat-pusat kota Amerika Serikat adalah kenaikan harga tanah di kawasan-kawasan usaha tengah kota pada akhir abad 19. Ini memberikan rasionalitas ekonomi untuk pencakar langit tumbuh tinggi.

Struktur bangunan yang tinggi di tengah kota juga memberikan kesempatan bagi para pemilik modal mencitrakan dirinya dalam nuansa keberhasilan. Jadi dari awalnya pencakar langit bukan sekedar karya arsitektur, melainkan pula ekspresi ekonomi dan periklanan. Pada pengusaha, penerbit, perusahaan-perusahaan finansial berlomba-lomba membangun pencakar langitnya agar lebih tinggi dan lebih megah dari tetangganya.

Kompetisi ini berimbas, atau kebalikannya, atau bahkan menjadi hubungan timbal balik dengan arsitektur. Perkembangan rancangan kota mengikut proses urbanisasi dimana perubahanlah satu-satunya yang pasti. Rancangan kota dari City Beautiful disaingi oleh gerakan Modernisme. Gerakan ini mengupayakan pembelaan sosial dari gerakan sebelumnya yang banyak menggunakan ornamen untuk mengagungkan keberhasilan dan kekayaan. Gerakan Modernism ini paling dikenal lewat karya-karya perancang kota Perancis Charles-Edouard Jeanneret yang menggunakan nama samaran Le Corbusier. Bagi pengamat arsitektur masa Modernisme ini berlangsung dalam berbagai tahapan, dengan masing-masing tahap memiliki tokoh yang dianggap terkemuka sendiri-sendiri dan karya-karya utama, seperti museum Guggenheim di New York.

Gerakan Modernisme ini pun bersaing dengan penerusnya, yakni gerakan Post-Modern. Secara sederhana gerakan ini mengembalikan lagi ornamen dan pernik-pernik kemewahan kedalam karya arsitektur mereka. Diantara arsitek yang terkemuka adalah Robert Venturi yang mengajukan argumentasi "less is bore" sebagai lawan dari moto Modernisme " less is more" yang dikemukakan salah seorang tokoh Modernism Mies van der Rohe. Saat ini arsitektur dominan yang berkembang adalah dari gerakan Post-Modern ini.

Ini tentu saja bukan berarti bahwa perubahan terhenti. Gerakan baru tentu saja sekarang ini sedang berkembang di ruang-ruang kerja para arsitek dan perancang kota. Usaha untuk menjawab tantangan perubahan dalam rancangan kota sebagaimana pada masa awal kelahiran pencakar langit, bukan monopoli para arsitek, tetapi juga para birokrat pemerintah dan pemilik modal serta pengembang bangunan.



 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com