Depan arrow Topik arrow Fisik arrow Pemusatan Kawasan Gedung Tinggi Di Jakarta
Pemusatan Kawasan Gedung Tinggi Di Jakarta Cetak E-mail
Oleh Adi Seno   
Daftar Isi
Pemusatan Kawasan Gedung Tinggi Di Jakarta
Batasan
Kapasitas dan Populasi Kota
Kawasan Gedung Tinggi
Peran Perencanaan Perkotaan
Model Struktur Perkotaan
Teori Persebaran
Kawasan Pusat Bisnis
Pendekatan dan Penjabaran
Kondisi Kawasan Gedung Tinggi Jakarta
Pemusatan Gedung Tinggi Jakarta
Kesimpulan

KESIMPULAN

  1. Konsentrasi gedung tinggi terjadi di tujuh kecamatan yang saling berbatasan dan berada di bagian tengah letak geografis Jakarta.

    Beberapa kecamatan jumlah gedung tinggi lebih besar dari 30. Tertinggi adalah di Setia Budi, disusul Menteng, Gambir, Tanah Abang, Grogol Petamburan, Sawah Besar dan Kebayoran Baru. Setia Budi memiliki 97 gedung tinggi, Menteng 44 gedung, Gambir 43, Tanah Abang 41, Grogol Petamburan 32, dan dua kecamatan sama besar yakni Sawah Besar dan Kebayoran Baru sebesar 31.

    Setia Budi, Menteng dan Gambir merupakan kecamatan yang berurut dari selatan ke utara mengikut jalur Jalan Thamrin dan Jalan Rasuna Said. Sedangkan kecamatan Tanah Abang yang merupakan tertinggi ke empat berada sejajar di arah barat dari Menteng. Keempatnya ini semua bertetangga dengan Menteng sebagai titik tengahnya.

  2. Konsentrasi tertinggi berada di kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan.

    Kecamatan Setia Budi dengan 97 gedung tinggi jelas merupakan yang terbanyak. Angka ini bahkan dua kali dari angka tertinggi keduanya, yakni Kecamatan Menteng dengan 44 gedung tinggi. Kecamatan Setia Budi ini terletak antara dua jalan utama yang telah diuraikan di atas sebagai poros antara deret kecamatan-kecamatan dengan jumlah konsentrasi gedung tinggi terbanyak, yakni Jalan Sudirman-Thamrin dan Jalan Rasuna Said. Walau berada dalam Kodya Jakarta Selatan, posisi geografis Setia Budi berbatasan dengan Kodya Jakarta Pusat.

    Pada Kecamatan Setia Budi ini terjadi perubahan penggunaan tanah dari pemukiman menjadi perkantoran dan apartemen. Pemukiman di Kecamatan Setia Budi merupakan rumah-rumah tinggal satu sampai dua lapis. Pada Kelurahan Karet terdapat industri batik. Semua ini berubah sesuai dengan rencana Pemda DKI Jakarta untuk mengembangkan kawasan Segitiga emas, yang diantaranya adalah Kecamatan Setia Budi.

  3. Telah terjadi pergeseran pusat kota dari kawasan Stasiun Kota dan Glodok pada masa kolonial dan awal kemerdekaan ke arah selatan mengikuti perkembangan kota DKI Jakarta menjadi kota internasional.

    Jika mengikuti model Sandy maka pada masa kolonial pusat kota atau daerah perdagangan adalah di Kecamatan Sawah Besar dimana terdapat kawasan perdagangan Glodok, jalan Gajah Mada dan Hayamwuruk. Pada daerah perdagangan ini juga terdapat daerah yang terbangun dengan baik seperti di seputar kawasan kantor walikota yang kini menjadi Musium Fatahillah. Sedangkan daerah kampung terletak di bagian barat dari Jalan Gajah Mada, yakni Kecamatan Taman Sari di Kodya Jakarta Barat yang bertetangga dengan Kecamatan Sawah Besar.

    Sedangkan dalam sudut pandang DKI Jakarta sebagai kota internasional, maka pusat kota atau KPB berada di kawasan gedung tinggi dimana menurut hasil kajian ini berada di empat kecamatan berkonsentrasi tertinggi, yakni Setia Budi, Menteng, Gambir dan Tanah Abang. Maka dari pemahaman ini dikatakan bahwa terjadi pergeseran pusat kota sejak dari masa kolonial Belanda ke masa kini.

  4. Luasnya persebaran gedung-gedung tinggi di seluruh wilayah DKI Jakarta menunjukan adanya lebih dari satu inti, hingga model struktur kota yang sesuai dengan DKI Jakarta adalah model Ullman-Harris.

    Walau konsentrasi gedung tinggi memusat di keempat kecamatan di daerah Jakarta Pusat, namun konsentrasi perbandingan luas gedung-gedung tinggi terhadap daerah administrasinya berada di Kodya Jakarta Barat. Ini menunjukan adanya Nilai Sewa Tertinggi Kedua di kawasan Jakarta Barat. Adanya ini menandakan bahwa di DKI Jakarta terdapat paling tidak dua KPB.

    Jika melihat pada persebaran gedung-gedung tinggi dimana jumlah terbesarnya berada di Kodya Jakarta Selatan, dengan 207 gedung, berarti di daerah tersebut juga memiliki kemungkinan keberadaan Nilai Sewa Tertinggi Kedua. Jadi dari sini diambil kesimpulan bahwa struktur kota Jakarta mendekati model Ullman-Harris dengan struktur multi nodal.


Daftar Pustaka.

  1. Anonymous, Data Bangunan Tinggi DKI Jakarta Tahun 1972 s.d 30 September 1999, Dinas Pengawasan Pembangunan Kota, Jakarta.
  2. Anonymous, Peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta No 4 Tahun 1975 tentang Ketentuan Bangunan Bertingkat Di Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Dinas Tata Kota, Jakarta, 1975.
  3. Anonymous, Peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta No 7 tahun 1991 tentang Bangunan Dalam Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Dinas Tata Kota, Jakarta, 1991.
  4. Anonymous, Dinamisasi Perencanaan Kota, Publikasi Penerangan Rencana Kota, Dinas Tata Kota, Jakarta, 1999.
  5. Anonymous, Ikhtisar Rencana Rinci Tata Ruang Wilayah (RRTRW) Kecamatan, Publikasi Penerangan Rencana Kota, Dinas Tata Kota, Jakarta, 1999.
  6. Anonymous, Kawasan Segitiga Emas, Publikasi Penerangan Rencana Kota, Dinas Tata Kota, Jakarta, 1999.
  7. Anonymous, Peran Partisipasi Masyarakat Dalam Perencanaan Kota, Prosedur Pelayanan Ketatakotaan, Publikasi Penerangan Rencana Kota, Dinas Tata Kota, Jakarta, 1999.
  8. Anonymous, Prosedur Pelayanan Ketatakotaan, Publikasi Penerangan Rencana Kota, Dinas Tata Kota, Jakarta, 1999.
  9. Anonymous, Prosedur Penyesuaian Rencana Peruntukan, Publikasi Penerangan Rencana Kota, Dinas Tata Kota, Jakarta, 1999.
  10. Anonymous, Reorientasi Metoda Penyusunan Rencana Tata Ruang, Publikasi Penerangan Rencana Kota, Dinas Tata Kota, Jakarta, 1999.
  11. Anonymous, Peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta No 6 tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah Khusus Ibukota, Pemda DKI, Jakarta, 1999.

Diskusikan artikel/tulisan ini dalam forum. (0 entri)

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com