Depan Artikel Makalah Multi Displin Ilmu Dalam Penanganan Bencana dengan Pendekatan Geografi
|
Multi Displin Ilmu Dalam Penanganan Bencana dengan Pendekatan Geografi |
|
|
|
Oleh Widya Wirawan
|
|
Senin, 31 Januari 2005 |
Bencana alam yang terjadi di Aceh dan Sumatera Utara merupakan salah
satu bencana yang terbesar terjadi di millennium ketiga, sudah
semestinya dapat ditangani secara modern atau setidaknya perlu adanya
manajerial dalam penanganannya. Berita yang ada, baik dikoran maupun
media elektronik menggambarkan bahwa pasca bencana yang sudah memasuki
seminggu lebih ini belum menunjukkan adanya koordinasi yang tepat atau
efisiensi penanggulangan bencana.
Memang kualitas dan kuantitas dampak dari bencana ini jauh dari yang
sudah pernah terjadi sebelumnya. Namun di era komputerasi yang serba
digital ini mestinya penanganan bencana haruslah lebih mampu untuk
menangani problema yang terjadi setelah bencana secara efektif dan
efisien, dengan bantuan berbagai disiplin ilmu.
Masalah-masalah yang kemudian timbul setelah bencana diantaranya yaitu:
- Langkah apa yang mesti diambil oleh pemerintah atau lembaga berwenang sebagai pemegang kendali pemerintahan di negara ini.
- Bagaimana hirarki & struktural pemegang koordinasi tim relawan,
mulai dari yang tertinggi, kemudian tingkat propinsi, kabupaten hingga
yang paling rendah yang berada di lapangan.
- Bagaimana sebaiknya pendistribusian bantuan mulai dari air,
makanan, obat-obatan, tim medis, tim sukarelawan, pakaian serta bahan
bantuan lain yang mendukung dan sangat dibutuhkan.
- Bagaimana metode evakuasi yang tepat untuk setiap wilayah yang terkena bencana
- Bagaimana pembagian tugas dan koordinasi seluruh relawan yang
dikirim, sehingga setiba di lapangan mereka sudah mempunyai gambaran
apa yang akan mereka kerjakan disana, dan tidak ada lagi yang merasa
paling berperan atau mempunyai posisi yang lebih tinggi dari yang lain,
sehingga para relawan tahu batas kewajibannya di lapangan dan dapat
menjalankan perannya masing-masing.
- Bagaimana perencanaan, pelaksanaan restrukturisasi/perbaikan
infrastruktur di wilayah bencana, dengan mendata kerusakan akibat
bencana terlebih dahulu.
Perbaikan sarana dan prasarana dilaksanakan setelah pengevakuasian dan
penyelamatan korban selesai, namun ada beberapa sarana dan prasarana
umum yang harus segera ditangani/perbaiki, seperti jaringan
telekomunikasi dan listrik, jalan utama dan jembatan, rumah
sakit/puskesmas dan sarana-prasarana umum penting lainnya, seperti
posko baik kesehatan, pengungsian, bantuan, dan lainnya.
Melihat contoh bencana yang terjadi di Aceh, dampak bencana, kerusakan
dan jumlah korban yang sedemikian besar membutuhkan penanganan yang
cepat, efesien dan terkoordinasi. Indonesia sudah semestinya mempunyai
satu kementerian setingkat departemen, yang tugasnya sebagai pemegang
kendali tertinggi dalam penanganan setiap adanya bencana nasional.
Bencana nasional yang terjadi di Aceh bukan tidak mungkin akan kembali
terjadi mengingat negara kepulauan Republik Indonesia memiliki tingkat
kerawanan bencana alam yang tinggi. Dari lima pulau besar Indonesia,
hanya pulau Kalimantan yang relatif stabil dari bencana alam.
Kelembagaan
Saat ini, lembaga atau badan yang mengkoordinasi penanggulangan pasca
bencana, adalah Bakornas PBP (Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan
Bencana dan Penanganan Pengungsi), Basarnas (Badan Search and Resque
Nasional), dan PMI (Palang Merah Indonesia). Beberapa pihak biasanya
turut membantu seperti Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia),
organisasi pecinta alam (Wanadri, Mapala UI, dan lainnya), serta
sejumlah Partai Politik beserta LSM (kemanusiaan, kesehatan dan
lingkungan). Besarnya potensi bantuan yang diberikan
lembaga/organisasi/masyarakat umum baik dalam negeri maupun luar negeri
serta pihak-pihak lain dalam menangani bencana alam, seperti yang kita
lihat akhir-akhir ini bantuan untuk Aceh, membutuhkan koordinasi yang
kuat dan bersih agar bantuan dapat sampai sesuai dengan tujuannya.
Koordinasi yang baik dan bersih terlihat pada posko bantuan Aceh
melalui Media Group, dimana bantuan tercatat, diaudit dan disalurkan
sesuai dengan kondisi di lapangan. Surya Paloh, pimpinan Media Group
juga menjadi pemegang kendali posko bantuan dan ikut terjun ke lapangan
untuk melihat kondisi langsung dan sekaligus membuka mata dan telinga
pemirsa mengenai bencana di Aceh dan Sumut melalui berita-berita di
televisi. Tulisan ini bertujuan untuk menggugah segenap komponen
bangsa, agar mau mengkonsolidasikan secara bersama untuk dimasa
mendatang, apakah sebaiknya Pemerintah mendirikan Depertemen
Penanggulangan Pasca Bencana Nasional untuk mengatasi bencana demi
bencana yang datang menimpa negara kita atau cukup ditangani lembaga
semacam Bakornas dan Basarnas.
Ilmu yang berperan dalam pengambilan langkah-langkah penanggulangan
bencana diantaranya:
- Interpretasi Foto Udara, Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra
Digital:
Gambar foto yang diambil melalui Pesawat ataupun Satelit, terutama yang
sebelum dan sesudah bencana, dapat memperkirakan luasan wilayah yang
rusak maupun hilang tenggelam. Melalui foto udara, dapat dihitung
perkiraan jumlah korban, infrastruktur yang rusak dan kondisi terakhir
jaringan jalan, telekomunikasi, listrik dan saluran air minum dan air
pembuangan serta tempat-tempat penting lainnya. Selai itu dapat pula
ditentukan dimana sebaiknya segera didirikan Posko Utama, Posko Cabang,
Posko Sub Cabang dan Posko anak cabang di lapangan, sehingga
koordinasinya jelas, terstruktur dan terencana.
- Statistik dan Demografi
Penghitungan statistik secara komputerisasi dapat menghitung jumlah
penduduk sebelum dan sesudah bencana. Kondisi terkini data kependudukan
dari wilayah yang terkena bencana bisa diakses dengan cepat, mudah,
dimana saja dan kapan saja. Data tersebut meliputi jumlah penduduk,
persebaran dan kepadatan Penduduk, jenis mata pencaharian penduduk,
jumlah pelabuhan laut dan bandara baik yang besar maupun yang kecil,
jumlah dan persebaran sarana dan prasarana penting, seperti jembatan,
rumah sakit/puskesmas, jaringan jalan dan data sarana infrastruktur
lainnya.
- Kedokteran, Psikologi, Ilmu Keperawatan dan Ilmu Kesehatan
Masyarakat
Penanganan korban luka baik yang ringan, berat hingga yang mengalami
goncangan jiwa pasca bencana pastilah tinggi. Korban luka-luka
sebaiknya ditangani langsung oleh seorang tenaga medis untuk mencegah
luka semakin parah dan infeksi. Dengan mengetahui perkiraan jumlah
korban, maka jumlah tenaga medis yang diperlukan di wilayah bencana
dapat dihitung, sehingga korban luka-luka dapat segera ditolong. Untuk
Penanganan masalah sanitasi lingkungan guna menjaga kesehatan korban
selamat dibutuhkan tenaga kesehatan masyarakat dan lingkungan untuk
mengurus kebersihan & kesehatan, sistem pembuangan limbah,
penguburan korban yang tewas. Untuk jangka panjang, penangan kesehatan
jiwa dan mental korban selamat yang mengalami trauma yang perlu
diperhatikan. Perlu adanya pembangunan crisis centre untuk menangani
masalah psikologi korban.
- Teknik Sipil, Arsitek, Plannologi dan Ekonomi Pembangunan
Kerusakan infrastruktur di wilayah bencana harus segera didata,
dianalisa kondisinya sebelum dan sesudah bencana. Apa yang harus segera
diperbaiki dan dengan metode apa perbaikannya. Teknik sipil dan arsitek
berperan dalam pelaksanaan perbaikannya. Untuk penataan kembali suatu
wilayah yang terkena bencana, maka planologi berperan untuk memberi
masukan dalam mengambil keputusan untuk kebijakan pembangunan kembali
wilayah bencana. Agar perbaikan yang dilakukan, baik yang sifatnya
sementara maupun permanen dapat dimanfaatkan untuk efisiensi penanganan
bencana dan perbaikan/pembangunan wilayah yang terkena bencana. Ilmu
Ekonomi Pembangunan berperan dalam pembangunan kembali wilayah yang
terkena dampak bencana agar terencana, terarah, terawasi dan terbuka
dalam pelaksaanaannya. Pendekatan geografi
Pendekatan dengan menggunakan ilmu Geografi dimaksudkan untuk membuat
sistem terpadu dalam penanganan bencana. Sistem ini disebut Sistem
Informasi Geografis Penanggulangan Bencana Alam. Secara umum sistem ini
akan memuat data dan informasi antara lain:
1. Identifikasi wilayah dampak bencana, meliputi:
a. Luas wilayah yang terkena dampak bencana
b. Klasifikasi wilayah kerusakan akibat bencana
c. Distribusi kerusakan infrastruktur di setiap klasifikasi wilayah
kerusakan
2. Distribusi korban jiwa, luka dan selamat di wilayah bencana,
meliputi:
a. Distribusi jumlah penduduk yang tewas di setiap klasifikasi wilayah
b. Distribusi jumlah penduduk yang mengalami luka parah dan luka ringan
c. Distribusi jumlah penduduk yang selamat baik yang mengalami gangguan
kejiwaan (depresi) maupun yang tidak.
3. Penanganan pasca bencana:
a. Penanganan darurat/segera, seperti:
- Evakuasi penduduk yang selamat, baik yang luka maupun yang tidak.
- Penguburan masal untuk mayat penduduk korban bencana,
- Pengiriman bantuan (yang terdiri dari; tim sukarelawan, air,
makanan, obat & tim medis, pakaian, bahan bantuan penting lainnya),
- Perbaikan/pembangunan infrastruktur vital (seperti; jembatan
penghubung, jalan utama, listrik & telekomunikasi di rumah
sakit/puskesmas, bandara, pelabuhan, posko-posko dan sarana &
prasarana penting lainnya).
b. Penanganan pasca bencana untuk Pembangunan di setiap klasifikasi wilayah kerusakan, seperti:
- Pendataan penduduk pasca bencana (meliputi; jumlah penduduk,
kepadatan dan distribusinya berdasarkan usia, jenis kelamin, mata
pencaharian), hal ini berguna dalam menentukan arah kebijakan dan visi
dari masing-masing wilayah atau daerah yang bersangkutan
- Perencanaan pembangunan di setiap wilayah atau daerah (untuk
mengurangi tindak penyelewengan dana alokasi pembangunan, sehingga
dapat dievaluasi dan diawasi pengeluaran dana negara dalam pembangunan
di wilayah tersebut)
- Penentuan alokasi dana pembangunan dan prioritas wilayah yang akan segera dibangun.
- Pengawasan pelaksanaan pembangunan secara spatial baik dana yang dikeluarkan maupun hasil yang dicapai.
Secara umum pendekatan geografi dalam penanganan pasca bencana
bertujuan dalam pengwilayahan penanganan bencana secara terukur,
efektif dan efisien, sehingga permasalahan yang terjadi di wilayah yang
terkena dampak bencana dapat teratasi dengan mengedepankan aspek
kemanusiaan dalam penanggulangan bencana.
|
|
|
|