Sampai akhir tahun 2000, jumlah penduduk Indonesia telah mencapai lebih dari 210 juta orang. Setiap
penduduk akan mengkonsumsi pangan setiap hari. Setiap penduduk atau individu adalah seorang konsumen, karena melakukan kegiatan konsumsi baik pangan, non pangan maupun jasa.
Jakarta sebagai Ibu Kota Indonesia merupakan kota terbesar di Indonesia, dengan jumlah penduduk sebesar 7.818.573 orang (BPS, 1999) dan dikelilingi daerah-daerah urban Botabek (12.922.906 orang). Dengan penduduk yang besar tersebut, Jakarta merupakan pasar yang besar bagi pemasaran produk-produk barang dan jasa, terutama industri makanan.
Semakin tingginya angkatan kerja di Indonesia terutama di daerah Jabotabek menyebabkan terjadinya berbagai perubahan-perubahan pada pada perilaku masyarakat Indonesia terutama di perkotaan. Salah satu perubahan tersebut adalah pada pola makan yang berubah yang menyebabkan makin berkembangnya usaha restoran.
Usaha restoran yang terutama berkembang adalah usaha restoran fast food atau siap saji. Hal ini terutama disebabkan karena
masyarakat yang bekerja memiliki waktu yang terbatas karena tugas-tugas kantor mereka. Sehingga mereka menuntut restoran yang dapat menyediakan makanan secara cepat dan praktis.
Keadaan perekonomian di DKI Jakarta yang
menyumbang sekitar 17 persen terhadap perekonomian nasional, tampak masih tumbuh negatif walau dapat ditekan dibawah minus 3 persen. Struktur ekonomi DKI Jakarta tahun 1999 tetap didominasi oleh 3 sektor utama yaitu sektor Industri Pengolahan dengan sumbangan 20,02 persen, Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran dengan andil 23,99 persen serta sektor keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan dengan sumbangan 28,19 persen.
Menurut Sumarwan (1997), perilaku konsumen adalah kegiatan, tindakan, serta proses psikologis yang mendorong tindakan tersebut pada saat membeli, ketika membeli, menggunakan, menghabiskan produk dan jasa setelah melakukan hal-hal di atas atau kegiatan mengevaluasi. Schiftmann dan Kanuk (2000) mengemukakan bahwa studi perilaku konsumen adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumberdaya yang tersedia (waktu, uang, usaha dan energi).
Hidangan khas Sumatera Barat atau Padang dapat dijumpai di hampir setiap pelosok Indonesia dan di luar negeri yang menyajikan hidangan lengkap masakan Padang yang lebih dikenal dengan rumah makan Padang. Rumah makan Sederhana merupakan salah satu rumah makan Padang yang giat melakukan ekspansi outletnya di bebagai tempat, untuk mendukung
ketepatan dan efisiensi pengembangan outlet tersebut perlu diadakannya Riset Konsumen untuk melihat perilaku konsumen terhadap
konsumen rumah makan Sederhana.
Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan alat untuk menyimpan dan memanipulasi informasi geografis pada komputer, pengguna dapat menanyakan mengenai database dan kemudian dapat memanipulasi, menganalisis dan menampilkan informasi geografis dengan cepat.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukan diatas, perumusan masalah adalah sebagai berikut: (1) Bagaimana pola perilaku konsumen rumah makan Sederhana, (2) Apakah lokasi outlet rumah makan Sederhana sekarang sesuai dengan kebutuhan dan kemudahan konsumen untuk datang, (3) Bagaimana penyebaran konsumen secara spasial dari outlet rumah makan Sederhana di lokasi Perkantoran, Pasar, dan Perumahan.
Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengetahui pola konsumsi
konsumen rumah makan Sederhana, (2) Mengetahui penyebaran konsumen
rumah makan Sederhana, (3) Menentukan karakteristik konsumen rumah
makan Sederhana untuk mendukung ketepatan dan efisiensi pengembangan
outlet menggunakan Sistem Informasi Geografi, (4) Memberikan
rekomendasi terhadap untuk pengembangan outlet baru. Sedangakn ruang
lingkup penelitian meliputi: (1) Penelitian dilakukan di rumah makan
Padang Sederhana pada daerah DKI Jakarta, (2) Penelitian ini meneliti
perilaku konsumen yang berada di wilayah DKI Jakarta tersebut.
Metode yang digunakan
dalam penelitian adalah metode studi kasus pada rumah makan Sederhana
yang berada di daerah DKI Jakarta. Rumah makan Sederhana dipilih
dalam penelitian karena giat melakukan ekspansi outletnya di berbagai
tempat. Dalam menentukan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja,
karena daerah DKI Jakarta merupakan daerah yang memiliki pertumbuhan
dan perkembangan ekonomi yang tinggi. Penelitian dilakukan dengan
mengambil sampel konsumen yang makan di rumah makan Sederhana.
Database konsumen tersebut kemudian diolah sebagai data atribut peta
dalam Sistem Informasi Geografi.
Penyebaran konsumen
dilakukan berdasarkan tingkat Kelurahan/RW tempat konsumen tinggal.
Lokasi rumah makan Sederhana dan penyebaran konsumen secara spasial
ditampilkan di dalam komputer. Pengelolaan data tabular sebagai
atribut peta dalam SIG akan mampu mengelola dua jenis data (tabular
dan keruangan) secara bersamaan. Kemudian dianalisa dengan cara
melihat posisi relatif konsumen dengan outlet rumah makan Sederhana.
Dalam penelitian ini teknik penarikan sampel dilakukan secara non
peluang atau dilakukan secara kebetulan terhadap konsumen yang berada
di wilayah DKI Jakarta sebanyak 86 orang.
Dalam penelitian ini teknik penarikan sampel dilakukan secara non
peluang atau dilakukan secara kebetulan dimana dilakukan dengan
menyebarkan kuesioner kepada konsumen yang sedang makan di rumah
makan Sederhana. Konsumen diminta untuk mengisi kuesioner dengan
selengkap-lengkapnya. Data kuesioner yang diperoleh melalui survey
dianalisa berdasarkan karakteristik demografi konsumen, data sekunder
mengenai kependudukan DKI Jakarta dan data spasial DKI Jakarta
kemudian dijadikan database SIG.
Analisa SIG dilakukan
untuk melihat karakteristik konsumen terhadap outlet rumah makan
Sederhana di daerah perkantoran, perumahan, dan pasar. Kemudian
ditentukan lokasi outlet rumah makan Sederhana dan penyebaran
responden konsumen secara spasial.
Dari hasil penelitian tidak terlihat perbedaan perilaku yang
mencolok antara konsumen rumah makan Sederhana Rawamangun yang
berlokasi di daerah perumahan dan pasar (Pasar Sunan Giri, Jakarta
Timur) dengan rumah makan sederhana yang berlokasi dekat perkantoran
dan perumahan (Menteng, Jakarta Pusat).
Dari kedua lokasi
tersebut masing-masing outlet rumah makan memiliki profil konsumen
yang sama. Citarasa merupakan alasan utama responden untuk datang ke
rumah makan Sederhana baik di Rawamangun maupun Gondangdia, konsumen
datang umumnya 1 kali seminggu sampai dengan 2 – 3 kali
seminggu. Pada rumah makan sederhana Rawamangun konsumen datang
banyak dengan keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa lokasinya
berdekatan dengan perumahan serta lebih banyak datang pada akhir
pekan (Sabtu, Minggu). Konsumen di Gondangdia banyak datang dengan
teman karena lokasinya dekat dengan perkantoran dan datang untuk
makan pada saat makan siang. Baik responden di Rawamangun dan
Gondangdia mengenal rumah makan Padang lain dan juga mengenal
restoran asing.
Penyebaran konsumen
rumah makan sederhana Sederhana Rawamangun terbanyak pada daerah
Jakarta Timur karena posisi rumah makan Sederhana Rawamangun berada
pada wilayah Jakarta Timur. Alamat rumah konsumen yang berada pada
wilayah Jakarta Timur sebesar 50,0% (20 orang) sedangkan alamat
kantor konsumen yang berada pada wilayah yang sama sebesar 30,0% (12
orang).
Lokasi rumah makan
Sederhana Rawamangun yang terletak pada daerah perumahan memungkinkan
konsumen yang bertempat tinggal di daerah tersebut untuk datang.
Disini terlihat kedekatan lokasi rumah makan dengan tempat konsumen
tinggal dan bekerja berpengaruh pada keputusan konsumen untuk datang,
selain rasa dan selera yang juga menentukan.
Rumah makan Sederhana
Gondangdia penyebaran alamat konsumen juga mengikuti keadaan yang
ditemukan di rumah makan Rawamangun, alamat rumah konsumen menyebar
di Jakarta Pusat sebesar 26,0% (12 orang) dan alamat kantor konsumen
di Jakarta Pusat sebesar 37,0% (17 orang). Pada rumah makan
Gondangdia ini alamat rumah konsumen yang terbesar adalah 28,0%
tinggal di Jakarta Selatan. Karena lokasi yang dekat dengan daerah
perkantoran, menyebabkan banyaknya konsumen yang berkantor di daerah
tersebut datang ke rumah makan Sederhanan Gondangdia.
Terlihat kecenderungan
bahwa semakin jauh dari titik pusat (outlet) jumlah konsumen
masing-masing outlet rumah makan Sederhana semakin berkurang dengan
bertambahnya jarak. Konsumen rumah makan Sederhana Rawamangun
berjarak 0 – 6 km dari titik pusat outlet berdasarkan alamat
rumah sebesar 55% (22 orang) dan alamat kantor sebesar 37,5% (12
orang). Sedangkan konsumen di Gondangdia berjarak 0 – 6 km dari
titik pusat outlet berdasarkan alamat rumah sebesar 36,9% (17 orang)
dan alamat kantor sebesar 52,5% (24 orang).
Dari hasil tersebut
terlihat bahwa daerah Rawamangun mempunyai daerah primer 0 – 6
km berdasarkan hasil alamat rumah konsumen sebesar 55%, sedangkan
berdasarkan alamat kantor konsumen pada jarak tersebut, jumlah
konsumen sebesar 37,5%. Pada daerah Gondangdia mempunyai daerah
primer 0 - 6 km berdasarkan hasil alamat rumah konsumen sebesar
36,9%, sedangkan berdasarkan alamat konsumen kantor konsumen pada
jarak tersebut, jumlah konsumen sebesar 52,5%.
Strategi pemilihan
lokasi untuk pengembangan outlet rumah makan Sederhana dapat dilihat
dari kondisi outlet yang sudah ada dengan melihat perilaku dan
penyebaran konsumen. Data yang diperoleh dapat dijadikan database
untuk diolah dengan teknologi Sistem Informasi Geografi untuk melihat
penyebaran konsumen secara spasial.
Hasil survey konsumen
yang dilakukan pada rumah makan Sederhana, memberikan hasil
penyebaran konsumen yang tersebar di DKI Jakarta secara spasial.
Hasil tersebut memperlihatkan bahwa konsumen yang bekerja atau
bertempat tinggal cenderung akan mendatangi outlet rumah makan
Sederhana yang terdekat.
Pemanfatan SIG untuk
melihat penyebaran konsumen secara spasial dapat digunakan oleh
manajemen untuk mengambil keputusan dalam pengembangan (ekspansi)
outlet. Namun pemanfaatan teknologi ini harus didukung oleh
kelengkapan database konsumen yang harus dibangun dalam waktu yang
bertahap.
Untuk meningkatkan
ketepatan pemilihan lokasi outlet rumah makan Sederhana strategi
bauran pemasaran yang direkomendasikan adalah: Kualitas citarasa
masakan agar tetap dipertahankan dan ditingkatkan; Harga tiap outlet
diseragamkan; Promosi khusus bagi konsumen yang datang bersama
keluarga atau relasi bisnis; Lokasi outlet baru difokuskan ke daerah
perkantoran, pasar dan pusat perbelanjaan; dan dalam pengembangan
outlet radius sekitar lokasi outlet diperluas dari 3 km menjadi 6 km.