Depan Artikel Makalah Keterkaitan Keberadaan Bangunan Air terhadap Karakteristik Lingkungan DAS Ciliwung Masa Kolonial -2
|
Keterkaitan Keberadaan Bangunan Air terhadap Karakteristik Lingkungan DAS Ciliwung Masa Kolonial -2 |
|
|
|
Makalah
|
|
Senin, 11 Oktober 2004 |
Bagian II - Habis
Oleh Taqyuddin, 2003.
Berdasarkan informasi yang didapatkan tersebut awal
pembangunan untuk bangunan air yang dibuat dan digunakan pada masa
kolonial pengelolaan air yang dilakukan pada Bagian DAS hulu dan bagian
hulu tersebut masih dipandang sebagai satu kesatuan Aliran sungai.
Kemudian Belanda membangun bangunan air di bagian hilir dan bagian
tengah. Adapun keseluruhan bangunan mengacu pada keberadaan sungai
utama belum mengantisipasi pengaruhpengaruh dari subsub DAS yang ada di
bagian DAS hulu maupun bagian DAS tengah. Belanda membangun belum
memperhatikan bahwa aliran Ciliwung memiliki karakteristik fisik antara
bagian timur aliran utama dan bagian barat aliran utama dimana fakta
menunjukkan besar volume aliran Ciliwung tidak seimbang antara bagian
timur dan dagian barat aliran sungai utama, Lebih besar bagian timur
dibandingkan bagian barat.
Sifat air berasal dari tempat yang lebih tinggi.
Sifat ini seharusnya dapat sebagai dasar dalm pengelolaan DAS Ciliwung.
Aliran sungai bagian hulu berpola aliran dendritik dapat menunjukkan
bahwa limpahan curah hujan yang sangat tinggi yang dapat membentuk pola
aliran tersebut. Di bagian hululah seharusnya mendapat perlakuan yang
lebih. Tetapi Belanda memfokuskan pembangunan bangunan air sebagian
besar untuk pengelolaan air yang memang sudah melimpah di hilir.
Bagian DAS Tengah menunjukkan bentuk aliran yang
berkelok dan makin ke hilir kelokannya makin tajam atau meander yang
makin lebar. Informasi tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk dasar
pengelolaan bagian DAS tengah maupun hilir. Meander yang ada
menunjukkan perubahanperubahan sudut ketajamannya dengan mengerosi
secara horizontal selain mengendapkan material hasil erosi di bagian
dalam meander. Makin tajamnya kelokan meander di bagian hilir dalam
keseimbangan pembentukan meander selalu diikuti bagian sungai sebagai
lokasi pengendapan.
Hal ini berlaku pada setiap meander. Jika disisi
luar meander tererosi secara lateral diikuti bagian dalam menader
sebagai lokasi pengendapan. Terganggunya satu sisi dalam meander akan
mengganggu keseimbangan daya serap yang di bagian pengendapan pada
sebuah meander.Kondisi yang terjadi perkembangan penggunaan lahan di
bagian hilir mengindikasikan mengganggu bagian ini ?masyarakat
mendirikan bangunan di lahan tersebut.
Wilayah-wilayah pengendapan inilah memiliki potensi
menyerap air sangat tinggi. Pengidentifikasian wilayah pengendapan
meandermeander yang ada di bagian tengah dan hilir jika direkonstruksi
alirannya dapat memberikan peluang lebih besarnya air sungai yang
terserap sebagai air tanah. Adapun yang terjadi bahwa pergerakan
meander sungai Ciliwung pada bagian sisi wilayah pengendapan dibebani
dengan bangunanbangunan berat sehingga sifat tanah endapan yang
porositasnya tinggi menjadi padat dan kurang menyerap air. Jika hal ini
diabaikan maka keseluruhan aliran sungai Ciliwung akan menjadi aliran
permukaan atau tidak terjadinya proses peresapan air sungai untuk
mengisi air tanah.
Hal ini merupakan adaptasi yang tidak memperhatikan
karakteristik fisik daerah aliran sungai. Dengan demikian upaya yang
dilakukan pada masa kolonial dengan memilih lokasi pembangunan bangunan
air tidak disertai dengan tindakan penanggulangan berdasarkan sistim
yang berlaku dalam mencapai keseimbangan. Memang dalam melakukan
adaptasi terhadap lingkungan dapat menimbulkan dampak keseimbangan baru
dan keseimbangan baru secara alamiah inilah kadang diterima oleh pelaku
budaya kadang tidak diterima oleh pelaku budaya atau dianggap bencana,
meskipun sebenarnya dengan kacamata sistemik pelaku budayapun mencapai
keseimbangannya sendiri terhadap lingkungannya.
Apalagi terbukti penggunaan lahan di bagian hulu
mendapat gangguan atas terbukanya lahanlahan perkebunan yang setiap
tahunnya makin meluas dan makin meningkat setelah diberlakukannya
peraturan hak sewa tanah oleh swasta yang ditandai dengan masuknya
modal asing dalam usaha perkebunan. Dengan demikian beban yang
ditanggung bagian hilir DAS Ciliwung makin berat terbukti dengan
meningkatnya ratarata debit air tahunan. Dan hal tersebut secara
sistematis peningkatan erosi di bagian hulu. Hasil erosi berupa endapan
terbawa di bagian DAS tengah hingga bagian DAS hilir. Endapan yang
terakumulasi di bagian hilir akan mengurangi daya tampung badan sungai
alami. Sehingga limpahan air yang datang dari hulu dan tengah DAS
keluar dari sistem aliran semula. Dan bagian hilir yang merupakan
dataran aluvial yang sudah jenuh air maka terjadilah banjir di beberapa
tempat di bagian hilir.
Dataran di bagian hilir DAS Ciliwung merupakan kota
yang terus berkembang, terjadi perubahanperubahan pemanfaatan lahan
yang awalnya lahan tersebut sebagai tujuan akhir air mengalir yaitu
rawarawa. Setelah terjadi perubahan pemanfaatan maka air yang melimpah
dari sungai Ciliwung hilir makin sempit sehingga yang terjadi banjir
makin tinggi.
Bukti-bukti arkeologis keberadaaan bangunan air pada
masa kolonial menunjukkan proses adaptasi atas dasar budaya tindakan
penanggulangan bukan atas dasar budaya tindakan pencegahan. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa pelaku budaya secara sistemik tidak
selaras dan seiring dengan keseimbangankeseimbangan baru secara alami
di DAS Ciliwung. Untuk di masa mendatang bagian DAS Ciliwung bagian
hilir selalu menghadapi masalah dengan aliran sungai Ciliwung yang
semakin lama semakin jauh dari keseimbangan lingkungannya.
Perlu diketahui bahwa penelitian ini terfokus pada
kawasan tangkapan air Ciliwung. Di wilayah hilir DAS Ciliwung yang
relatif datar sebagai satu sistem dataran yang luas dari timur ke barat
sebagai wilayah pesisir utara teluk Jakarta. Sehingga Perubahan yang
terjadi di DAS Ciliwung tidak sepenuhnya hanya diterima oleh bagian
hilir Ciliwung, begitu juga sebaliknya bahwa bagian hilir Ciliwung
tidak hanya menerima dari DAS Ciliwung saja, tetapi bisa juga dari luar
Ciliwung dimana ada 13 sistem sungai yang sampai di wilayah datar
tersebut.
Pengelolaan DAS Ciliwung akan efektif jika dilakukan
atas dasar budaya pengelolaan pencegahan. Tindakan pencegahan dapat
dilakukan pada setiap bagian DAS baik hulu, tengah maupun hilir dengan
memperhatikan karakteristik alaminya baik faktorfaktor indogin yang
mengalasinya, faktor -faktor permukaan dan faktorfaktor eksogen yang
bekerja atas DAS Ciliwung. Perubahan penggunaan lahan perkotaan yang
cepat merupakan indikator mulainya pengelolaan budaya
pencegahanpencegahan sebagai representasi adaptasi dengan lingkungan
dalam menghadapi sistem alami DAS yang melalui kota tersebut agar
mendekati keseimbangan sistem alaminya.
Peneliti menyadari sudut pandang arkeologis pada
penelitian ini sangat dangkal yaitu belum mengungkap detail dari
bangunan air sebagai obyek arkeologis dengan menggunakan analisis
bentuk, gaya, teknologis. Secara teknis penelitian ini akan lebih
maksimal jika penggunaan alat Sistem Informasi Geografis (SIG) sampai
tahap pemodelan aplikasi arkeologis keruangan. Peneliti hanya
memanfaatkan alat SIG sebagai tahap pemasukan data dijital keruangan,
melakukan manipulasi matematis sederhana serta proses kartografis dari
datadata keruangan.
Hasil penelitian ini semoga dapat dikembangkan oleh
peneliti yang akan datang, baik di DAS Ciliwung maupun DAS DAS lain
sebagai penelitian yang lebih tajam yang semakin dapat menjawab
relevansi kebutuhan kehidupan sekarang dan masa yang akan datang. (habis)
Diskusikan artikel/tulisan ini dalam forum. (0 entri) |
|
|
|
|
|