Depan Artikel Makalah Keterkaitan Keberadaan Bangunan Air terhadap Karakteristik Lingkungan DAS Ciliwung Masa Kolonial -1
|
Keterkaitan Keberadaan Bangunan Air terhadap Karakteristik Lingkungan DAS Ciliwung Masa Kolonial -1 |
|
|
|
Makalah
|
|
Senin, 04 Oktober 2004 |
Oleh: Taqyuddin, 2003.
Pendekatan yang mengaitkan aspek budaya manusia melalui penelaahan
bukti budaya berupa bangunan air dengan aspek sumberdaya alam atau
lingkungan fisik di wilayah daerah aliran sungai Ciliwung atau disebut
pendekatan arkeologi ekologi (cultural ecology secara terbatas dari Ashmor dan Sharer ) dengan metode arkeologi keruangan (spatial archaeology, Mundardjito).
Penelitian ini mengkaji demensi bentuk (form), demensi ruang (spatial) dan demensi waktu (temporal)
dalam satu kesatuan analisis. Pengkajian dimensi bentuk yaitu dari
artefak bangunan air yang secara lebih rinci menurut budaya pelakunya
menjadi bangunan air yang sepenuhnya dibuat dan dipakai, bangunan air
alami yang mengalami penambahan dan bangunan air alami yang hanya
dipakai.
Pengkajian demensi ruang yaitu wilayah daerah aliran
sungai Ciliwung sebagai kawasan budaya yang lebih detail berdasarkan
karakteristik lingkungannya atau ekologisnya sebagai satuan analisis
keruangan. Dan demensi waktu pada dipilih pada babagan masa kolonial
1830 - 1942 yang terbagi menjadi tiga babak waktu yaitu babagan waktu
1930 - 1970, 1970 - 1910 dan 1910 - 1942 yang masing-masing menurut
data sejarah diawali dengan puncak-puncak budaya yaitu diawali sistim
tanam paksa, diawali dengan sistem perdagangan liberal dan diawali
tingginya laju penanaman dan pertumbuhan tanaman perkebunan.
Kesemuanya ini memiliki konsekuensi meluasnya
penggunaan lahan perkebunan. Penulis hanya mampu mendapatkan data
sejarah dari perubahan penggunaan tanah secara umum yang sebenarnya
lebih relevan menggunakan data perubahan penggunaan lahan di daerah
aliran sungai (DAS) Ciliwung.
Demikianlah peneliti dengan sadar atas sifat
keterbatasan data sejarah yang memiliki orientasi geografis yang dapat
dianalisis dengan metode keruangan. Begitu juga mengenai keterbatasan
informasi waktu (dating) pada temuan bangunan air, sehingga
penulis mengupayakan sebagian bangunan air dengan menunjukkan skala
waktu relatif (bukan skala absolut).
Penelitian ini berupaya secara logis dan eksplisit
menerangkan (melakukan eksplanasi) atas artefak yang tidak bergerak (unmoveble) pada kondisi in situnya serta tanpa melakukan metode penggalian (non digging archaeology)
diarahkan dapat memberikan perhatian dalam pengelolaan sumberdaya air
yang menunjukkan pengelolaan yang menuju keseimbangan lingkungan hidup
dan kebutuhan kebudayaan yang terjadi pada budaya kolonial di wilayah
DAS Ciliwung dan sekitarnya. Pengangkatan topik tersebut dengan tujuan
penelitian ini memiliki relevansi dengan permasalahan yang dihadapi di
wilayah penelitian khususnya bagian hilir (Jakarta dengan banjirnya
yang semakin meluas).
Kesimpulan fungsional dari bangunan air di DAS
Ciliwung ditafsirkan dari hasil analisis dalam konteks associated finds
di dalam suatu ruang atau menggunakan pendekatan conjunctive
(WW Taylor). Dengan demikian disiplin ilmu lain yang membantu
menguatkan hasil penelitian archaelogis ini yaitu ; geografi,
hidrologi, geologi, klimatologi dan agroklimatologi (persyaratan hidup
tanaman perdagangan), geomorphology.
Hasil penelitian ini selanjutnya diarahkan dapat
memberikan masukan untuk melakukan penelitian lanjutan yang dapat
memberi dasar kepada pengelolaan sumberdaya air di masa yang akan
datang di Wilayah DAS Ciliwung dan sekitarnya. Untuk mendapatkan
penjelasan buktibukti budaya dalam pengelolaan sumberdaya air berkaitan
dengan pemanfaatan sumberdaya air yang ada di daerah aliran sungai
Ciliwung.
Hasil penelitian
Secara bertahap peneliti menemukan keterkaitan
antara keberadaan bangunan air dengan aspek-aspek lingkungan alam dan
lingkungan buatan serta menurut babagan masa kolonial dalam penelitian
ini adalah melalui pemecahan masalah yang peneliti ajukan yaitu :
Bangunan air yang fungsi dan manfaatnya berkaitan
dengan sistim pengelolaan sumberdaya air di wilayah DAS Ciliwung
meliputi ketiga kategori budaya pelakunya dimana di bagian DAS hilir
lebih banyak kategori dibangun dan dimanfaatkan dibandingkan di tengah
lebih banyak bangunan alami yang dipakai dan di bagian hulu hanya ada
dua bangunan air yang dibuat dan dipakai. Dan berdasarkan temuan
ternyata keseluruhan bangunan air pada babagan kolonial terakhir.
Kalaupun ada sebelumnya belum mengindikasikan pengelolaan yang intensif.
Keberadaan Bangunan air di bagian hulu terdapat di
sekitar Puncak Pass (Telaga warna, Situ Ciburial), di sekitar Gadog
(Bendung Gadog, Terowongan irigasi Gadog) di Katulampa (Bendung
Katulampa). Dan keberadaan di bagian DAS tengah berlokasi di sekitar
Depok (Bendung Depok, Situ Pondokcina, Situ Babagan, Situ Kalibata) dan
di bagian Hilir terdapat di sekitar Manggarai (Pintu air Manggarai,
Terowongan Pintu Air Manggarai, Menara air Manggarai, Saluran dan
terowongan Minangkabau, Saluran kanal Barat (Kali Malang), Dan lebih ke
utara lagi yaitu Pintu Air Istiqlal, Saluran Juanda, Saluran Gajah
Mada, Saluran Pasar Baru, Saluran Gunung Sahari, Pintu air di depan
Hotel Jayakarta, dan pintu air Pasar Ikan di dekat Pelabuhan Sunda
Kelapa.
Karakteristik fisik lingkungan daerah aliran sungai
Ciliwung yang memiliki pola aliran dendritik di bagian hulu dan
memanjang utara selatan berpola paralel. Daerah aliran sungai Ciliwung
memiliki gradien yang sangat kontras, curam di bagian hulu dibandingkan
bagian tengah dan hilir DAS.Adapun kondisi iklimnya keseluruhan bagian
hulu termasuk kategori hujan tinggi tanpa bulan kering sehingga
merupakan wilayah yang sangat basah. Bagian tengah dengan curah hujan
sebagian wilayah sedang dengan musim kering yang singkat dan sebagian
bercurah hujan basah. Dan untuk bagian hilir termasuk bercurah hujan
rendah sebagian basah dan sebagian wilayahnya memiliki musim kering
yang lebih panjang..
Karakteristik jaringan sungai DAS Ciliwung bagian
hulu suplai air sungai utama berasal dari sisi barat dan timur, tetapi
bagian tengah selain dari hulu mendapat tambahan aliran air dari sisi
timur saja dan kesemuanya (hulu dan tengah) tertumpah ke hilir.
Kerapatan jaringan sungainya untuk daerah aliran sungai yang sempit
dibandingkan sungaisungai yang mengalir ke utara di pulau Jawa, indeks
kerapatannya tinggi. Kerapatan sungai mengindikasikan bahwa DAS
Ciliwung berbatuan cukup lunak dan beriklim basah. Dengan indeks
kerapatan sungai tinggi tanah DAS Ciliwung memiliki daya serap air
besar. Dari sintesa analogis ini dapat dikatakan bahwa aliranaliran
permukaan di DAS Ciliwung memberikan gambaran bahwa permukaan tanah di
DAS Ciliwung memiliki kapasitas infiltrasi atau daya serap air yang
besar sehingga berperan penting dalam pengisian kembali airair tanah di
DAS Ciliwung sendiri. Sedangkan debit air sungai Ciliwung dari tahun ke
tahun menunjukkan trend peningkatan, terutama di bagian hilir. (*)
Diskusikan artikel/tulisan ini dalam forum. (0 entri) |
|
|
|
|
|