Tahun 1989, sewaktu belum lama memulai karir sebagai dosen geografi,
saya bertemu dengan seorang pemuda di usia awal kuliahnya, dalam suatu
kesempatan pertemuan di kampung. Dia hadir sebagai anggota baru.
“Kuliah apa dan di mana, Mas?”, tanyanya untuk memulai berbasa-basi.
“Geografi UGM”, jawab saya tanpa mengatakan bahwa saya sudah mengajar di lembaga itu.
“Wah, geografi? Jadi guru dong, sebentar lagi”, tanyanya lagi sambil tersenyum, namun masih sopan.
Dosen
memang guru. Dan guru adalah pekerjaan mulia. Meskipun tidak
tersinggung, secara spontan keluar keisengan saya. “Ya bisa guru, bisa
maling, bisa juga pelawak!”
Si pemuda ini memandang saya dengan tatapan aneh, dan tampaknya dia
menduga bahwa saya tersinggung. Akibatnya, pembicaraan pun
terputus. Jawaban saya, meskipun iseng, tidaklah
mengada-ada. Kebetulan senior saya memang ada yang menjadi
pelawak terkenal, namun ada pula rekan saya yang pernah masuk bui
gara-gara mencuri. Ada beberapa geografer yang menjadi rektor
perguruan tinggi ternama di Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Mei 2003, saya mengalami masalah kecil di Bandara Brisbane, ketika
petugas imigrasi menjumpai ketidak-cocokan antara nama yang tertera
pada paspor dengan nama pada visa saya. Sambil mempersilakan saya
menunggu proses penyelidikan, seorang petugas keamanan yang sudah
berumur mengajak saya menepi dan menanyai kegiatan saya di
Australia. Ketika dia tahu saya peneliti bidang geografi, sambil
tersenyum dia mengatakan bahwa nilai pelajaran geografinya sewaktu SD
selalu bagus. Selanjutnya, dia bertanya dengan aksen
Australianya, “What’s the capital city of Kalimantan?”
Pertanyaan
itu tolol. Namun saya tidak bisa mengatakan hal itu kepadanya.
Saya agak bingung untuk memulai: dari substansi kajian geografi –tetapi
menjelaskan hal itu tampaknya juga menunjukkan bahwa saya sama
tololnya; atau menjelaskan bahwa Kalimantan tidak punya ibukota.
Saya hanya bisa senyum sambil geleng-geleng kepala.
Terus terang, masalah paspor itu membuat saya tidak bisa berpikir
tangkas. Untunglah, panggilan kembali dari petugas imigrasi
menyelamatkan saya.
Peluang kerja sarjana geografi adalah guru. Begitulah cara orang
mengasosiasikan bidang ilmu dengan profesinya. Materi yang
diajarkan adalah hafalan nama-nama kota, sungai dan tempat penting di
dunia. Di sisi lain, banyak sarjana pendidikan geografi lulusan
IKIP/ FKIP mengeluh, karena mereka kesulitan untuk mengajar sesuai
dengan bidang keahliannya. Memang, pelajaran geografi di sekolah
menengah tidak jarang diberikan oleh guru dengan latar belakang
pendidikan yang sama sekali berbeda, misalnya ekonomi, PMP, atau bahkan
olah raga.
Kehadiran seorang sarjana (pendidikan) geografi sebagai guru baru
kadangkala bisa mengganggu ‘kenyamanan’ si guru geografi lama ini,
sehingga tak jarang pula sang pendatang baru dialihkan mengajar bidang
lain. Bidang lain ini, banyak guru ogah melaksanakannya:
bimbingan-konseling, PKK (jaman dulu) atau apa pun yang tidak
berhubungan dengan geografi. Barangkali, hal semacam ini pula
yang menyebabkan materi pelajaran geografi gagal disampaikan secara
efektif kepada para siswa sekolah. Sebagus apa pun pembekalan
materi geografi di universitas/IKIP, kesempatan alumninya untuk bisa
mengajar sesuai bidang ternyata tidak begitu luas.
Bagaimana halnya ketika geografer menekuni bidang lain di luar
pendidikan? Banyak yang menaruh iba ketika banyak geografer
menempati posisi sebagai marketing representative di perusahaan asuransi, wartawan, multilevel marketing,
dan bahkan bisnis jamu. Komentar orang biasanya berkisar pada
sulitnya geografer memperoleh pekerjaan yang layak sesuai bidang.
Tetapi, ketika sarjana bidang teknik (rekayasa) menjadi reporter
mingguan terkenal, atau bekerja di LSM yang menggeluti isu jender dan
pendidikan, serta para dosennya memasuki Departemen Pendidikan Nasional
sebagai teknokrat, reaksi masyarakat cenderung positif. Insinyur
–terutama lulusan PTN ternama-- seperti mempunyai privilese untuk
menempati sembarang posisi, karena mereka “pada dasarnya cerdas dan
dididik untuk bisa mengerjakan apa saja”, begitu kata banyak orang.
Pendek kata, kalau yang melakukannya adalah geografer, maka itu salah
tempat dan patut dikasihani. Sebaliknya, kalau yang
menjalankannya adalah sarjana bidang lain (khususnya teknik,
kedokteran, atau ekonomi), maka itu mengagumkan. Persepsi keliru
masyarakat selama bertahun-tahun juga telah membentuk budaya rendah
diri di kalangan mahasiswa geografi. Merasa sial, bodoh, dan
rendah diri ketika berdebat dengan mahasiswa bidang lain merupakan hal
yang umum dijumpai hingga pertengahan dekade 80-an.
Lucunya, kepercayaan diri mahasiswa cenderung meningkat ketika mereka
suatu saat bisa berkata, “saya mahasiswa hidrologi”, atau “ saya
mengambil penginderaan jauh dan sistem informasi geografis”, atau
bahkan “saya menekuni bidang kependudukan.” Bidang ilmu
geografinya biasanya tidak disebut. Ada apa di balik fenomena ini?
Semasa masa awal pemerintahan Orde Baru, jargon ‘pembangunan’ telah
merasuki benak banyak orang. Pertumbuhan ekonomi dikejar,
kesenjangan kaya-miskin melebar, cepat kaya dan hidup enak menjadi
dambaan utama. Masyarakat cenderung memuja profesi hard sciences
yang mampu melahirkan produk kasat mata dan instan seperti pabrik,
jembatan, pasar, sarana kesehatan. Alasan mereka, “kontribusinya
nyata”. Sebaliknya, profesi bidang soft sciences seperti
filsafat, sosiologi, dan (setidaknya menurut persepsi masyarakat)
geografi merupakan pilihan karir yang tidak bermasa-depan, tidak
menghasilkan apa-apa yang jelas dan bisa dinikmati. Dengan menyebutkan
identitas diri di bidang teknis, geografer berharap untuk lebih mudah
diterima oleh pasar.
Dalam 15 tahun terakhir, meningkatnya kompleksitas masalah pembangunan
memaksa banyak orang berpikir komprehensif, lintas sektoral, dan lintas
disiplin. Geografer dipandang mampu memberikan kontribusi penting dalam
memahami masalah secara holistik. Namun, ketika kebutuhan akan
tenaga geografer meningkat, sudah terlanjur banyak geografer bekerja
secara teknis belaka di bidang hidrologi, pemetaan, dan
demografi. Lupa pada geografinya. Untunglah, tidak semua
geografer sukses berpikir demikian. Ketika posisi bidang teknis
sudah dirasa ‘aman’, mulailah mereka membuka jati dirinya dan
kadang-kadang mampu merekomendasikan perlunya posisi geografer dalam
daftar lowongan pekerjaan.
Sekarang ini, era desentralisasi telah dimulai. Kebijakan
penanganan sumberdaya kewilayahan telah terfragmentasi ke dalam
satuan-satuan kabupaten dan kota, demi otonomi daerah. Bencana alam
datang susul-menyusul. Dalam lingkup yang lebih luas, masalah
lingkungan hampir dapat dipastikan sulit diatasi tanpa koordinasi
antar-wilayah. Untuk itu, basis data kewilayahan menjadi semakin
penting. Begitu pula geografernya.
Ironisnya, ketika ‘masalah yang membawa berkah’ bagi geografer ini
datang, berbondong-bondong pula para pendatang baru yang tergiur dengan
sihir ‘penginderaan jauh’ dan ‘sistem informasi geografis’.
Berbekal ketrampilan operasi software dan pemrograman,
tiba-tiba mereka mengaku sebagai geografer. Tiba-tiba pula
geografi tereduksi menjadi sekadar ketrampilan teknis di atas meja,
dengan seperangkat komputer dan softwarenya. Dan tiap orang
bisa melakukannya, seperti halnya mengajar geografi di sekolah.
Persaingan memang sesuatu yang lazim. Masalahnya, siapkah geografer menghadapi perkembangan semacam ini?