Pembangunan perkotaan yang demikian pesat, ternyata telah ikut membuat penderitaan bagi anak-anak. Ruang-ruang di setiap sudut kota digantikan gedung-gedung tinggi atau fasilitas lain yang lebih berorientasi bisnis, sesuai dengan main mahalnya harga tanah. Akibatnya, anak-anak ini pun ”tergusur” dari tempat bermainnya. Sampai kapan anak-anak harus dikorbankan?
Terus terang, iri juga melihat negara-negara maju mengakomodasi kepentingan anak-anak ini dalam penataan ruang kota mereka. Lebih jauh lagi, misalnya, bagaimana negara bertanggung jawab untuk urusan hidup anak secara keseluruhan. Ambil contoh di Jerman, mulai lahir saja anak sudah mendapat tunjangan 1000 Euro, untuk biaya bersalin, makanan dan susunya. Sekolah juga mendapat tunjangan negara. Seluruh transportasi kota juga gratis untuk anak sampai umur tiga tahun.
Mengenai tempat bermain, tak perlu ditanya, semua tersedia di setiap blok appartemen. Sudah menjadi tanggung jawab penata kota harus selalu menyediakan taman bermain anak-anak ya ayunan, ya panjatan, ya seluncur, ya kereta-keretaan, titian, tempat duduk orang tuanya/pengasuhnya. Dan untuk keamanannya dasar tempat tersebut bukan rumput atau beton tetapi pasir tebal dan bersih. Kalau dihitung banyaknya taman untuk anak ya sebanyak blok yang terbangun ditambah taman-taman khusus Taman kanak-kanak (Kindergarten). Jadi mengajak jalan-jalan kemanapun di kota tersebut selalu menarik buat anak-anak karena tempat bermain anak-anak banyak dan selalu terbuka untuk umum.
Saya berpikir, bagaimanakalau konsep tata ruang di Indonesia juga memperhatikan kebutuhan anak untuk menikmati masa kanak-kanaknya. Atau fasilitas ini sebagai tanggung jawab negara. Barangkali orang-orang kaya tidak perlu membuat taman sendiri untuk anaknya yang anak orang lain tidak boleh menggunakannya. Tentunya lengkap dengan program perawatannya dan monitoringnya.
Tapi Jakarta sudah terlanjur tidak ada tempat untuk bermain anak-anak. Alhasil, apa yang terjadi adalah anak-anak bermain playstation berjam-jam di depan tv, di tempat dingdong. Matilah kreatifitas dan lemahlah fisiknya karena malas makan karena tidak capek. Hal ini perlu dirubah sebelum generasi lemah tersebut akan datang. Para planolog jangan lupakan kebutuhan anak akan ruang tempat bermain yang difasilitasi negara. Anak sehat generasi yang akan datang sehat-sehat.
Tetapi juga perlu diperhatikan di salah satu Kindergarten yang ada di Berlin melakukan pengembangan program untuk meningkatkan kreativitas anak-anak dengan cara tiga bulan anak-anak sekolah tanpa mainan. Apa yang terjadi, sangat menakjubkan, terutama sikap sosial anak-anak dari berbagai bangsa di dunia ini menjadi dibina sedini mungkin. Si May Lin dari Tiongkok yang tadinya sibuk dengan mainannya sendiri sekarang mau tidak mau bergendong-gendongan dengan Myrta dari Brazilia, si Viko si besar dari Kenya yang tadinya selalu menang-menangan bermain mainan yang dia mau, sekarang mau-tidak mau belajar dari Biong Jong dari Korea yang selalu berkreasi dengan kertas yang dilipat-lipat dan di gulung-gulung menjadi bola.
Bermain terus juga tidak baik, tidak ada mainan juga ada baiknya.
Yang menarik lagi soal anak-anak ini adalah mengenai perlindungan hukum. Anak-anak di Berlin atau mungkin di Uni Eropa mendapat perlindungan secara hukum yang bertanggung jawab. Biarpun itu anak sendiri kalau ketahuan orang tuanya memukul maka orang tuanya akan dihukum sebagai penganiayaan anak.
Pernah terjadi seperti ini: Namanay anak Indonesia meskipun sudah berumur 4-5 tahun cengengnya masih kental. Sekali waktu di rumahnya yang berupa kamar-kamar di appartemen yang notabene berdempetan tembok dengan tetangganya, dia menangis dengan kencangnya dan tidak mau berhenti entah apa yang dimintanya atau dia tidak mau disuruh apa oleh orang tuanya.
Tidak lama kemudian ada yang mengetuk pintunya, dibukalah pintunya oleh ibunya ternyata yang di balik pintu dua orang Polisi yang mendapat laporan ada penganiayaan anak di kamar tersebut. Kagetlah bapak dan ibunya harus dibawa ke kantor Polisi. Apa yang terjadi anak tadi makin menangis nggak ketulungan melihat polisi membawa Bapak ibunya, polisinya bengong karena dibalikin oleh orang tua anak tersebut sebagai penganiaya anaknya. Akhirnya mereka dibebaskan atau mereka saling memahami.
Memang, Indonesia dan Jerman itu berbeda. Tingkat kesejahteraannya, tingkat pendidikannya, iklimnya, budayanya dan seterusnya, memang tak sama. Bahkan cengengnya anak Berlin dengan cengengnya anak Indonesia saja beda. Anak Berlin sama polisi biasa saja, anak Indonesia sama Polisi ”jijik/takut” kecuali bapak atau ibunya polisi. Tapi soal penghargaan kepada anak, harusnya tidak ada perbedaannya. Bukan begitu?