|
Kawan saya tertawa ketika saya katakan bahwa persoalan bangsa kita cukup sederhana, yaitu: tidak bisa membagi. “Kamu mengada-ada. Itu tidak ilmiah!” katanya. Sampai kemudian, berita soal protes pembagian uang “Program Cepek” (Dana Subsidi BBM Langsung sebesar Rp100 ribu) ramai sekaligus lucu, tersiar ramai di media massa.
Dalam berita, banyak kantor kepala desa berujung malang dirusak massa karena tak rela tak kebagian jatah “cepek”. Ada juga aparat yang panas dingin diteror SMS. Ada “orang kaya” yang kebagian, lalu karena ketahuan dalam “sidak” aparat gabungan termasuk BPS, dia marah-marah di depan pesawat televisi. “Apa? Apa? Aku miskin! Miskin!” katanya. Juga ada aparat desa yang terus terang “menyunat” dana itu dengan alasan “untuk dibagikan ke warga lain yang belum dapat”.
Yang lucu rupanya terjadi di suatu kantor pos di Bogor. Ribuan warga yang antri tiba-tiba berdesak-desakan dan merangsek berebutan masuk ke loket. Kursi dan meja ambruk. Ibu tua renta yang takut tak kebagian tiba-tiba lupa usia, beradu nafsu dengan orang muda. Ya, ambruk. Konon ada yang kelewat iseng membuat isu bahwa uang yang ada di kantor pos itu akan habis, siapa cepat dia dapat. Jadilah chaos tadi.
Nah, tontonan itu rupanya mengingatkan kawan saya tadi soal perkataan saya sebelumnya. Ia menelepon saya. “Kamu benar,” katanya. Tapi, selain sedih ia juga mengaku senang. Sedih karena pembagian dana “Program Cepek” dan antrian serta kericuhan itu telah menambah daftar panjang sebutan bagi Indonesia, yaitu “bangsa pengemis”. Dan senang karena penyakit BPS terbongkar. Nah lo!
Kembali soal membagi dan menambah di atas, iseng-iseng saya memang pernah mengujinya dengan cara yang sangat sederhana. Saya ambil kalkulator. Coba 1 + 2 hasilnya 3. Lalu 3 + 100.000 hasilnya 100.003. Pikir saya, jika angkanya sudah miliar, biasanya itu semakin cepat hitungnya. Iseng saya tanya isteri saya. “Mah, 20 persen dari 30 miliar berapa?” Tidak lama, tanpa kalkulator dia langsung menjawab. “Itu ‘upeti’ untuk pejabat anu untuk satu tahun mata anggaran ya Pah!” Glek! Saya tanya lagi, “ 20 persen dari Rp30 miliar ditambah 10 persen dari “sampingan”, berapa ya Mah.” Dia bilang, “Kalau masih ditambah 10 persen, itu namanya sudah kemaruk, Pah!” Aku hampir tidak bisa bernafas mendengar jawaban itu.
Masih dalam pengujian itu, giliran anak saya, yang masih sekolah di TK saya tanya. “Nak, 2 + 2 berapa?”. Dia jawab, “Empat.”. Bagus, kata saya. “Kalau 1.000.000 : 10?”, entah kenapa anak saya itu langsung menjawab “Yah cuma seratus rebu”. Dan memang, sekali lagi, jika Anda gunakan kalkulator pun, setiap kali misalnya suatu bilangan dibagi dua saja (apalagi dibagi sekampung) secara terus menerus berapa pun angkanya akan menjadi melorot bahkan sampai nol.
Itulah yang terjadi. Sudah terbentuk mindset yang cinta-rindu menambah dan benci membagi dalam masyarakat kita. Bukti lain adalah lihat saja di berbagai perguruan tinggi, tidak ada satupun yang tidak membuka jurusan akuntansi. Mulai dari negeri sampai swasta, akuntansi tetap menjadi pavorit. Tak usah jauh-jauh, adik saya empat semuanya akuntansi, belum lagi dengan keponakan-keponakan. Kalah jauh dari geografi, misalnya, yang cuma satu-dua perguruan tinggi yang mengadakan pendidikannya.
Apa konsekuensinya? Ya itu tadi. Kantor pemerintahan hingga swasta dipenuhi oleh pejabat-pejabat yang excellent dalam menjumlah, menjumlah, menjumlah. Penarikan subsidi BBM yang jumlahnya ratusan triliun, merupakan bagian dari kemampuan akuntansi ini. Tak heran begitu cepat angka bantuan dana subsidi yang belasan triliun itu dihasilkan. Tak heran pula jika target pajak tahunan, termasuk bea cukai, dapat dipenuhi, sebab konon angka-angka itu “bisa dikontrol” seperti mengatur ketinggian pintu air Manggarai. Mau Istana Negara banjir, boleh, mau kering juga boleh, tergantung pesanan saja.
Kepintaran menjumlah ini pula yang menyebabkan gudang-gudang atau “tempat persembunyian” menjadi marak. Bensin, solar, minyak tanah ditumpuk saja. Pertamina bilang stok cukup, tapi faktanya warga kalang-kabut antri. Pakai kuota plus kupon lagi, mirip jaman perang. Minyak tanah yang harusnya milik rakyat jelata, dipakai untuk mengoplos solar. Lainnya, BBM diselundupkan, sebab setelah dijumlah-jumlah maka untungnya jelas jauh lebih besar dan bisa bikin cepat kaya.
Cobalah lagi soal pembagian. Ternyata bukan main susahnya itu. Ketika bencana tsunami melanda Aceh dan Sumut terjadi akhir tahun lalu, bantuan (salah satu akibat kepintaran menjumlah) datang bejibun. Eh ketika giliran mendistribusikannya, payah sekali, sampai-sampai tak sedikit bantuan yang “sengsara” dan membusuk. Dalam banyak kasus penyaluran bantuan bencana lain seperti di Maluku, Poso, Papua, NTT, tak jarang kita dengar bantuanya malah “ditilep” oknum (yang juga pintar menjumlah, tapi tak rela membagi).
Barangkali kita memang kurang memahami Indonesia, dengan puluhan ribu pulaunya, ribuan suku dan adat istiadat serta bahasa dan agama. Kita tak mampu mengenali kekayaan sumber daya yang kita miliki, serta berbagai keterbatasan lain dalam penyediaan infrastruktur. Sayangnya, kita malah terlalu terhipnotis dengan otonomi, yang konon kita percaya dulu sebagai “tool” utama dalam upaya distribusi pembangunan bagi kesejahteraan masyarakat di daerah-daerah. Entah dimana salahnya, kok yang muncul lima tahun terakhir ini adalah penguasa-penguasa daerah yang kekuasaannya sangat hebat, sedangkan rakyatnya tetap saja masih susah.
Terlepas dari berbagai kelemahannya, pada pemerintahan lalu, kita masih mendengar trilogi pembangunan dan “delapan jalur pemerataan”, yang sangat menaruh perhatian besar terhadap upaya pembagian, sama pentingnya dengan “penjumlahan” dalam arti peningkatan laju pertumbuhan ekonomi. Sekarang, semua itu tidak terdengar lagi. Persis seperti lagu melankolis zaman dulu, “Mana suaramu lagi… mana senyummu lagi… masihkah aku ada di dalam hatimu….”
Ada pepatah bagus soal pentingnya "membagi" atau "mendistribusikan" ini. Katanya, air yang tidak terbagi atau tidak mengalir itu akan tergenang. Dan air yang tergenang hanya akan menghasilkan bau busuk dan segala macam penyakit. Termasuk demam berdarah dengue (DBD). Ihh sereemm … Powered by AkoComment! |