|
Tahun 1867, jauh sebelum berbagai aspek globalisasi dibicarakan orang, Karl Andree - seorang ahli geografi ekonomi Jerman menulis sebuah catatan, tentang kursi kayu mahogany asal Honduras yang sedang didudukinya, di atas hamparan karpet wool Kidderminster buatan Inggris yang mungkin dibawa oleh pelaut dari River Plate atau New South Wales. Ditemani secangkir teh asal China dalam porselen buatan Berlin, serta semangkuk kopi dari "Java" yang dibubuhi gula dari Brazil, Cuba, atau mungkin dari Saxony. Ada tembakau Puerto Rico di dalam
cangklong ukiran negeri Thuringia. Tangkai cangklong itu berasal dari Hongaria, berlapis perak pada sisi kiri dan kanan - hasil tambang perak di Erzgebirge, Harz, atau mungkin dari Potosi (Peru).
Ada rentang waktu yang begitu jauh antara generasi Karl Andree dan Paul Krugman - mahaguru ekonomi internasional terkemuka dari MIT. Peta sosial, politik, ekonomi dan teknologi China, "Java" (Indonesia) dan negeri-negeri lain mungkin telah berubah sama sekali, namun catatan Karl Andree yang menyiratkan fenomena globalisasi, keunggulan kompetitif dan komparatif pada zamannya, pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan globalisasi di era modern. Globalisasi adalah femomena yang sarat dengan dimensi geografis atau ruang (space) produksi, konsumsi, akumulasi modal, dan perdagangan intra dan antarbangsa, serta implikasinya bagi struktur ruang nasional.
Walaupun gagasan Krugman tentang perlunya wawasan "geografi ekonomi baru" (the new economic geography) dalam kebijakan pembangunan ekonomi sebenarnya merupakan barang lama dengan kemasan baru, namun Krugman seperti menegaskan untuk memperhatikan kembali secara tersurat aspek spasial dalam strategi pembangunan. Pahamilah perekonomian regional, sebelum memahami perekonomian nasional dan internasional. Ruang ekonomi nasional bukanlah ruang homogen tak berbatas (wonderland of no dimensions).
Transisi pembangunan ekonomi China pasca Mao dari ekonomi komando menuju ekonomi pasar - yang mereka sebut sebagai "ekonomi pasar sosialis", antara lain adalah dengan membuka kawasan ekonomi khusus (special economic zone -SEZ) di sepanjang pantai selatan Provinsi Guandong (Shenzen, Zhuhai, Shantou) dan Fujian (Xiamen) pada 1979.
Belakangan terbukti bahwa politik pintu terbuka pada 1978 yang diambil oleh petinggi China pada 1978 menunjukkan kaitan erat antara faktor geografi dengan kemajuan ekonomi China. Daya saing produk China yang lebih tinggi dari negara ASEAN adalah salah satu buah keberhasilan reformasi ekonomi China yang sudah lama menjadi bahan perbincangan di media massa nasional.
Model kuantitatif yang dilakukan Bao, Chang dan Jeffrey Sachs (2002) menunjukkan bahwa faktor geografis menjelaskan 60 persen variabilitas perkembangan ekonomi China yang bertumbuh rata-rata 9 persen selama periode 1978-1998. Model tersebut membuktikan hipotesis Sachs (1997) bahwa efektivitas kebijakan pembangunan ekonomi tergantung pada kondisi geografis - yang mendorong masuknya investasi asing (FDI). Setiap 1 dollar AS nilai produksi kawasan khusus, ekonomi domestik memperoleh manfaat (backward linkage) sebesar 19 sen, dan terus meningkat hingga 22 sen dollar.
"Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China" - pesan yang bernuansa religius, dalam konteks ini menjadi pesan yang bersifat universal, bahwa dalam beberapa hal China dapat dijadikan tempat belajar. Pertama, reformasi China melalui kebijakan pintu terbuka dilakukan secara bertahap, berbeda dengan reformasi "big-bang" Soviet tahun 1990-an yang kebablasan dan terasa dipaksakan dalam menuju ekonomi pasar. Liberalisasi di sektor finansial kita melalui Pakto'88 adalah reformasi "big-bang" yang tidak terkait dengan permintaan sektor penghasil barang, sementara sektor pertanian dan manufaktur masih terseok-seok.
Kedua, di tengah kemiskinan sebagian besar penduduknya, China tidak terperangkap oleh utang luar negeri sehingga tidak perlu harus berurusan dengan IMF. Kita belajar untuk menegakkan kembali jati diri bangsa, tidak mudah goyah diombang-ambingkan arus globalisasi. Kita juga harus belajar pandai meniti buih, dan belajar dari kegagalan kebijakan "penyesuaian struktural" (structural adjustment policy) yang "dipaksakan" oleh institusi Bretton Woods, khususnya oleh IMF di Amerika Latin dalam menuju tata dunia yang lebih adil.
Ketika cermin kita telah retak sehingga nyaris tidak mengenal lagi diri, bahkan banyak yang beranggapan wajah kita telah menjadi buruk rupa, cermin China yang sederhana dan murah mungkin bisa dipakai berkaca untuk menemukan kembali wajah kita yang sebenarnya, yang sesungguhnya tidak kalah menarik dan indah dari China. Cukup sekali kita berkaca, bak kata pepatah China: "sekali melihat, jauh lebih berarti dari seratus kali mendengar".
Biarlah kita menjadi Indonesia dengan ke-Indonesia-an kita dalam pengertian positif, dengan konsep kita sendiri yang berangkat dari keunggulan kompetitif dan komparatif kita sendiri. Globalisasi dan liberalisasi hendakya dilihat secara lebih arif, tanpa terperangkap oleh dikotomi yang tajam antara yang anti dan mendukung tanpa reserve.
Sebagaimana Janus - dewa berkepala dua dalam mitologi Yunani, globalisasi dan liberalisasi mempunyai watak jahat dan baik. Dalam konteks yang lebih luas, bukankah Bung Karno suatu kali pernah mengingatkan: "jas merah", jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.
-----
* Penulis adalah peneliti dan pengajar di LPEM-FEUI dan Program Pasca Sarjana FEUI. Lulus dari Jurusan Geografi FMIPA UI (1984), MS (1992) dan PhD (2002) Economic Geography dan Regional Science diraih dari University of Illinois at Urbana-Champaign- USA. Powered by AkoComment! |