Sejak dulu Indonesia dikenal memiliki kekayaan yang luar biasa, baik itu kekayaan alam maupun kekayaan budayanya, yang membuat banyak bangsa di dunia ini yang datang untuk melihat, menikmati, bahkan berusaha untuk menguasainya. Kemudian muncullah para penjajah dari berbagai bangsa bergantian menguasai negeri ini untuk merampas kekayaan yang ada.
Namun selain merampas kekayaan yang ada di Indonesia, para penjajah ini juga melakukan publikasi ke negara asalnya mengenai keadaan Indonesia yang memiliki keanekaragaman kekayaan alam dan budayanya yang bisa menjadi daya tarik untuk dikunjungi.
Setelah Indonesia merdeka dan penjajahan di dunia dianggap tidak manusiawi lagi, maka kunjungan bangsa-bangsa asing ke Indonesia hanya berupa kunjungan wisata dengan tujuan untuk melihat dan menikmati keindahan dari kekayaan alam dan budaya Indonesia. Keindahan pantai hingga ke pegunungan, sawah dan hutan
yang luas, beranekaragam tarian dan kerajinan tangan diolah menjadi daya tarik untuk mendatangkan wisatawan dari luar negeri juga yang ada di dalam negeri sendiri untuk berkunjung ke berbagai daerah yang ada di Indonesia. Para wisatawan yang berkunjung ke berbagai daerah tujuan wisata yang di Indonesia bertujuan untuk menikmati sesuai dengan keinginannya, ada yang berwisata pantai, ada yang berwisata budaya, dan lain-lain, sehingga ada beberapa tempat dikenal sebagai daerah tujuan wisata pantai seperti di Bali.
Saat ini terjadi fenomena menarik mengenai daerah tujuan wisata, yaitu daerah yang mengalami bencana alam atau bencana kemanusiaan menjadi daya tarik untuk untuk dikunjungi. Tetapi kunjungan para wisatawan ini bukan bermaksud untuk menikmati daerah tersebut, tapi biasanya hanya untuk lihat-lihat keadaan saja agar bisa menjadi saksi atas bencana yang terjadi, namun ada juga yang melakukan kegiatan kemanusiaan untuk menolong para korban bencana yang ada di daerah tersebut.
Mereka biasanya berkunjung ke daerah bencana setelah mengetahuinya dari media massa, karena bencana yang terjadi merupakan suatu obyek yang tiba-tiba ada, bukan seperti obyek wisata yang sudah ada sehingga bisa ditawarkan atau dipromosikan oleh suatu daerah atau perusahaan jasa perjalanan. Makin besar bencana yang terjadi dan makin gencar pemberitaan media massa, maka makin tinggi daya tarik daerah itu untuk dikunjungi. Bisa dikatakan pemberitaan media massa menjadi media promosi untuk menyebarkan informasi mengenai daerah bencana tersebut.
Di Indonesia fenomena tentang daerah tujuan wisata bencana bisa dimulai dari pusat pariwisata Indonesia yaitu Bali. Bencana Bom Bali I sangat menyita perhatian dunia, karena sebenarnya Bali sudah menjadi tempat wisata yang terkenal di seluruh dunia akan keindahan alam dan budayanya, dan juga banyak dikunjungi oleh wisatawan dari seluruh dunia. Bencana kemanusiaan tersebut merenggut banyak korban jiwa sehingga menimbulkan rasa simpati masyarakat dunia.
Berdatanganlah orang-orang dari seluruh dunia terutama negara yang warga negaranya menjadi korban dalam bencana tersebut dan juga masyarakat Indonesia yang ada di luar Bali untuk datang ke Bali dengan maksud memberikan
bantuan kemanusiaan atau sekedar hanya ingin melihat-lihat keadaan yang ada di Bali. Begitu pula ketika Bom Bali II terjadi, namun daya tariknya tidak sebesar dengan Bom Bali I.
Selain itu bencana yang sering menimpa daerah-daerah di Indonesia adalah bencana alam. Gunung meletus, gempa bumi, banjir, tanah longsor merupakan bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Bencana alam gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Aceh dan Nias bisa jadi yang paling banyak menarik perhatian dunia
internasional. Setelah bencana terjadi, media massa baik nasional dan internasional tak henti-hentinya meliput apa yang terjadi dengan Aceh dan Nias. Liputan yang tak henti-hentinya bagaikan media promosi yang sangat ampuh untuk menarik para calon wisatawan baik dari dalam atau luar negeri untuk berkunjung ke sana.
Milyaran rupiah uang yang akan dibawa oleh para calon wisatawan tersebut yang digunakan untuk melakukan kegiatan mereka selama disana baik yang bersifat kemanusiaan ataupun bukan. Pada saat itu belum ada yang berpikir untuk melayani
tamu-tamu yang akan datang tersebut karena masih berpikir bagaimana bisa bertahan hidup, bahkan muncul kecurigaan atas kedatangan mereka tersebut.
Bencana alam yang terjadi di Aceh dan Nias menimbulkan kehancuran yang luar
biasa tetapi bila dilihat dari sisi ekonomis masuknya dana yang cukup besar baik dari dalam maupun luar negeri yang dibawa para wisatawan ini bisa menjadi motor untuk menjalankan kembali kehidupan yang ada menjadi normal atau bahkan lebih baik bila dikelola dengan benar.
Bencana menimbulkan hal-hal yang negatif pada suatu daerah, tetapi bukan berarti tidak bisa menghasilkan hal yang positif. Dahulu Indonesia bangga sebagai daerah tujuan wisata karena keindahan yang ada, namun apakah Indonesia harus menolak bila dikatakan sebagai daerah tujuan wisata bencana? Itu tergantung bagaimana
bangsa ini menyikapinya. Ketika orang melakukan kegiatan wisata sebagian besar pasti ingin melihat keindahan untuk memenuhi keinginan batinnya namun ada juga orang yang berwisata ke daerah yang tertimpa bencana untuk mewujudkan
rasa kemanusiaan kepada sesamanya. Bila Indonesia dikatakan sebagai daerah tujuan wisata bencana, maka bangsa ini harus mampu mengakomodir para wisatawan tersebut yang akan datang berkunjung layaknya seperti berkunjung seperti para wisatawan yang berkunjung ke daerah tujuan wisata yang lainnya.
Namun untuk mampu melakukannya kita mesti menjawab pertanyaan di atas; apakah Indonesia harus menolak bila dikatakan daerah tujuan wisata bencana?
Penulis adalah lulusan Departemen Geografi UI, mendalami bidang geografi pariwisata, khususnya di Indonesia.
Powered by AkoComment! |