Depan arrow Artikel arrow Kolom arrow GIS Untuk Kesehatan: Kenapa Baru Sekarang?
GIS Untuk Kesehatan: Kenapa Baru Sekarang? Cetak E-mail
Oleh Musnanda Satar   
Jumat, 16 Desember 2005

Musnanda SatarKalau dibilang bangsa ini latah, banyak orang pasti protes tapi pasti banyak juga yang akan mengiyakan. Latah ini bukan ternyata juga muncul ketika wabah penyakit (flu burung, SARS, HIV, dll) bermunculan di negeri tercinta ini. Salah satu latah yang muncul adalah mulai terpikirkan (mungkin sudah terpikir lama tetapi belum punya dana) untuk membuat yang namanya GIS untuk mengatasi/mengurangi/mencegah penyakit menular. Latah ini bagus kalau tidak hanya sebatas wacana, tetapi diwujudkan dengan membangun sebuah sistem.

Kajian geografi dalam bidang kesehatan bukan merupakan hal baru. Memetakan penyakit menular bukan sudah dilakukan dari jaman dahulu, banyak sekali ahli epidemiologi bekerja untuk memetakan lokasi penyebaran penyakit menular, mempelajari pola penyebaran secara spatial sebagai bahan analisis untuk mencegah penyebaran penyakit menular tersebut.

Secara tradisional ahli epidemiologi menggunakan peta dalam menganalisa hubungan antara lokasi, lingkungan dan penyakit. Kemudian akhirnya GIS digunakan sebagai alat bantu pemantauan dan monitoring dari penyebaran penyakit melalui wadah vektor, air, kondisi lingkungan serta analisis lain yang lebih kompleks seperti faktor kebijakan, perencanaan kesehatan sampai digunakan juga untuk menyimpulkan serta membuat hipotesis bagi penyelesaian masalah kesehatan.

GIS sebagai alat bantu mampu membantu peneliti kesehatan dalam menentukan area yang rentan terjangkit, kelompok masyarakat yang juga rentan serta digunakan juga sebagai alat identifikasi alokasi sumberdaya dalam rangka penyelesaian masalah penyakit menular. Seorang ahli epidemiologis dengan seorang geografer bisa bekerjasama dan saling membantu dalam masalah penyebaran serta penanggulangan penyakit menular.

Beberapa kasus belakangan ini yang terjadi di Indonesia mulai dari flu burung (avian influenza), antrax, dll mampu menyedot perhatian pemerintah bahwa negeri ini rentan terhadap serangan penyakit menular. Belum lagi dengan penyakit 'tahunan' seperti demam berdarah, malaria, diare, dll. Heboh ini dipicu juga oleh ketakutan beberapa organisasi kesehatan yang mengkhawatirkan virus-virus ini menyebar ke seluruh dunia. Coba saja buka situs WHO yang terus memantau kejadian-kejadian penyakit menular di dunia (www.who.org).

Kalau kemudian pemerintah untuk mencari solusi dalam penyelesaian masalah penyebaran penyakit menular, kita semua harus membantu. Sumbangan komunitas geografi adalah analisis spasial yang mampu menjadi bahan dalam pengambilan keputusan dalam penyelesaian masalah penyakit menular, solusi termudah adalah "mengompori" pemerintah membuat suatu sistem terpadu secara spatial (tentunya dengan GIS sebagai alat bantu) dalam memetakan, memantau kejadian penyakit menular, menganalisa lokasi rentan, menganalisa faktor-faktor lingkungan, cuaca serta modus bepergian masyarakat. Sebelum terjebak ke penjelasan detik teknis GIS, penulis merasa bahwa membangun sebuah sistem ini sangat mudah, dengan SDM yang ada, dengan sumber keuangan yang ada, dengan dukungan hardware atau software yang ada tentu saja semua tujuan pembangunan system ini akan terwujud.

Mundur ke belakang adalah pilihan yang paling bagus dalam mewujudkan sebuah Kerangka Kerja yang lebih lengkap, melibatkan semua pihak, melibatkan semua daya dan kemampuan yang ada dalam membangun sebuah sistem berbasis spasial yang mampu memberikan masukan bagi penanggulangan masalah penyakit menular. Mundur ke belakang ini terdiri atas beberapa langkah; pertama adalah memetakan siapa sudah berbuat apa (stakeholders mapping), kedua mendata siapa akan berbuat apa; ketiga adalah menilai dari mana harus melangkah.

Dari langkah mundur ini, baru langkah ke depan ditentukan; pertama membangun komitmen bersama; kedua adalah menentukan prioritas; ketiga adalah membangun sistem yang berkelanjutan (sustainable). Langkah mundur tadi mampu menjegah beberapa hal mubazir seperti adanya inisiatif pengulangan atau kadang orang bijak sering menyebut "DO NOT RE-INVENTING THE WHEEL", mencegah kegiatan yang hanya menyokong kepentingan segelintir kelompok. Di sinilah peran pemerintah dituntut lebih, lebih sebagai organisatoris, lebih sebagai pemimpin, lebih sebagai penjamin bahwa semua sistem yang dibangun akan didukung oleh kebijakan yang sifatnya jangka panjang.

Pada tahapan pelaksanaan geografer mampu menyumbangkan banyak pikiran, mampu memberikan banyak solusi. Analisis spasial yang mampu menghasilkan masukan berharga bagi bidang kesehatan khususnya penyakit menular ini bukan hanya sekedar teori tetapi bisa dilakukan di neger ini. Meskipun sempat bergumam dalam hati 'kenapa baru sekarang!!!??' paling tidak beberapa pemikiran untuk mulai mengaplikasi ilmu geografi dalam bidang kesehatan bisa menjadi langkah terbaik dalam menanggulangi permasalahan di negeri tercinta ini.

Mudah-mudahan dengan aplikasi GIS bidang kesehatan tidak akan ada lagi peta 'buruk rupa' seperti yang bisa di download dari situs Depkes seperti gambar berikut

Peta dari Depkes

* Penulis pemerhati masalah GIS, lulusan Geografi FMIPA UI tahun 1996, lulusan Program Pascasarjana Planologi ITB (2005).

Komentar
GIS untuk kesehatan
Oleh Alamat e-mail dilindungi dari bot spam, anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihat alamat ini pada 2006-02-23 00:39:51
Sudah ada kok Pak, yang lebih baik dari yang ditampilkan di situs Depkes tsb. P2M Depkes pernah membangun suatu Sistem Informasi Geografis mengenai penyebaran penyakit menular. Kalau tidak salah bekerjasama dengan Indonesia CDC. Tapi sekarang udah gak jalan lagi, karena faktor SDM dan kebiasaan buruk kita yaitu gak bisa maintenance nya !!! Faktor utamanya sebenarnya SDM dan ketersediaan software dan hardware. Karena menurut hemat mereka software dan hardwarenya mahal jadi gak masuk prioritas. Apalagi buat beli petanya juga mahal, anggarannya gak ada or gak mencukupi. Saya sendiri sekarang banyak bermain di GIS kesehatan, mulai dari pemetaan penyebaran penyakit, penyebaran vektor penyakit, tata guna lahan daerah endemis, dan banyak lagi.
GIS untuk kesehatan HARUS ADA dan DIDUKU
Oleh Alamat e-mail dilindungi dari bot spam, anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihat alamat ini pada 2006-02-25 16:23:11
Saya sangat mendukung jika pemerintah harus meningkatkan pemberdayaan GIS untuk kesehatan (khususnya untuk PENYAKIT MENULAR). Hal ini penting agar pemerintah tidak kalang kabut dalam melihat pola penularan yang ada. Contoh saja pada kasus FLU BURUNG dan ANTRAKS. Seolah-olah kita hanya akan berbuat jika kasus itu sudah mulai gawat, padahal dengan GIS, kita mampu memiliki database yang lebih akurat (apalagi untuk mengetahui pola penyebaran spora antraks yang bisa bertahan berpuluh-puluh tahun).  
Masalah SDM sebenarnya dah banyak, tinggal bagaimana keprofesionalan kita dan kerendahan hati kita semua (yang berasal dari bidang yang berlainan) untuk mampu bekerja sama demi tujuan dan kemuliaan bersama.
geografis kesehatan: tidak hanya untuk p
Oleh Alamat e-mail dilindungi dari bot spam, anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihat alamat ini pada 2006-05-15 08:38:48
Saya sangat setuju bahwa sektor kesehatan perlu dibangunkan agar lebih melek terhadap GIS. Saya pernah ketemu dengan beberapa teman dari dinas kesehatan yang sudah sangat menguasi tentang GIS (seperti di NTT, Kendari dan beberapa daerah lain). Bahkan teman dari NTT sekarang malah sedang mengambil S3 di Griffith Australia. Namun, masih banyak juga yang belum aware. Beberapa waktu yang lalu saya memberikan pengantar sederhana tentang GIS di Dinkes Jatim, menggunakan Epimap (software free dari CDC) dan mereka sudah cukup bangga bisa membuat peta tematik sederhana dan memadukannya dengan data rutin yang mereka miliki. Di tingkat pusat, Pusdatin Depkes sudah membeli software ArcIMS untuk platform web-GIS tetapi sampai sekarang belum didayagunakan (kapan mas Yudi?). Kami juga pernah membantu Depkes dan WHO untuk membuat webgis sederhana (menggunakan UMN Mapserver) di http://map.depkes.go.id. Sekarang, kita mungkin perlu memperkuat sosialisasi pemanfaatan GIS hingga ke tingkat pemanfaatan data/informasinya untuk pengambilan keputusan, terutama berkaitan dengan alokasi sumber daya kesehatan serta pelayanan kesehatan, tidak hanya pemetaan morbiditas dan mortalitas saja khan? Saya angkat jempol untuk Bakosurtanal yang sudah membuat peta spasial nasional di http://202.155.86.41/kpk/TableProv.asp semoga dapat terus ditingkatkan kualitasnyaSistem Informasi Spasial Nasional
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com