|
AGAKNYA cukup memprihatinkan jika hingga pada hari
ini banyak diantara kita yang masih berkutat pada pertanyaan “what is
it that geographers do?” dan “why do we need geography?” Bagi saya, hal
ini sungguh mengenaskan, sebab sejak saya menjadi mahasiswa geografi,
16 tahun lalu, pertanyaan itu sudah ada dan ternyata tidak ada
perubahan saat ini. Ataukah pertanyaan semacam ini memang sesuatu yang
tidak akan pernah selesai dan akan ada terus sampai kapanpun? Saya membaca tulisan seseorang di sebuah website
yang tergelitik dengan pertanyaan yang disampaikan anggota non-geografi
di National Academy of Sciences (NAS), yang bertanya agak meledek, “kalau kita sudah mengetahui ‘dimana’ sesuatu itu, lantas untuk apa lagi kita memerlukan geografi?” Sebagai
geografer, Anda pasti juga tertarik untuk memberikan pembelaan. Bahwa
pemikiran orang-orang di NAS itu merefleksikan adanya miskonsepsi,
sebab kebanyakan orang, hingga saat ini sepertinya memiliki gambaran
yang sudah usang soal geografi. Geografi masih dianggap hanya sebagai
studi “what is where”, yaitu pengetahuan tentang “danau, teluk, gunung
tertinggi, kota terbesar”. Itu pemikiran 60 tahun
lalu. Padahal, geografi sekarang sudah berubah dari sesuatu yang
hanya “declarative” (atau penemuan fakta) kepada intelektualisme
yang mengeksplorasi ilmu keruangan (spatial science). Lebih dari
60 tahun, geografi telah berhasil mengembangkan teori mengenai lokasi,
distribusi, interaksi dan proses; dan telah pula menemukan suatu metoda
analisis mengenai ruang dan inovasi yang merepresentasikan multi-modal.
Sebuah disiplin ilmu yang menerapkan pemikiran “Place-based” untuk
memecahkan berbagai permasalahan yang berkenaan dengan kaitan
human-environment. Hasilnya adalah hari ini kita temukan para geografer
melakukan banyak hal yang tak terduga sebelumnya. Saya baru saja kembali dari Amerika Serikat pekan lalu. Saya cukup terkesan dengan “geography minded” yang
demikian kuat yang ditunjukkan setiap instansi pemerintahan, NGO,
perusahaan-perusahaan, media massa maupun organisasi-organisasi lain
mulai di Washington DC hingga negara-negara bagian. Saya mengunjungi
Departmenf of Homeland Security, Department of Health and Human
Services, Department of State, Department of Defence, Department of
Justice, dan menemukan bahwa soal keahlian analisis keruangan sudah
menjadi bagian yang tak terpisahkan dari department ini. Mereka
berbicara dengan peta, bukan dengan “mulut”. Dan keberadaan orang yang ahli dalam bidang GIS, misalnya, suatu keharusan. Di
Department of Health and Human Services, mereka memantau hari ke hari
perkembangan suatu penyakit di seluruh belahan dunia melalui monitor
televisi, internet dan saluran lain di sebuah pusat media. Berita flu
burung di Asia, misalnya, dengan cepat dipetakan, diplot pergerakannya
dan membuat laporan untuk mengambil kebijakan cepat. Begitu pun kasus
Anthrax, kasus influenza di dalam negeri maupun internasional. Di
koran Washington Post, saya tergelitik menanyakan hal yang sama,
bagaimana mereka mengerjakan tampilan peta yang mereka terbitkan
sebagai visualisasi dari berita. Mereka juga memiliki tim visual yang
ahli dalam pemetaan, seperti juga dimiliki The New York Times. Di
Kansas City, Missouri, saya menemukan Palang Merah (Red
Cross) maupun NGO semacam MARC (Mid America Regional Council)
menjadikan GIS sebagai salah satu bagian yang tak terpisahkan dari
sebuah project mereka. Dan, kesan saya, pemahaman
tentang ruang dan kemampuan analisisnya, telah membuat mereka tak hanya
lebih percaya diri, tapi juga lebih “berkuasa” daripada
negara-negara lain. Bagaimana dengan kita? Saya
tahu, naïf sekali jika memperbandingkan kita dengan AS AS bukan
Indonesia dan tidak ada alasan untuk memaksa kondisi kita harus seperti
mereka. Hanya saja, seperti dipertanyakan dalam bagian awal tulisan
ini, apa sebab geografi kita sepertinya tidak “bergigi”? Kenapa geography minded itu seperti tetap jauh dari harapan, bahkan setelah lebih dari 16 tahun atau bahkan 20 tahun? Ini
bukan pertanyaan sepele, tapi sangat besar. Dan mungkin keliru jika ada
yang berpendapat geografi kita tidak memiliki kemajuan. Setidaknya,
masih cukup banyak proyek yang dikerjakan oleh institusi geografi saat
ini, khususnya di perguruan tinggi, dan agaknya cukup memberikan fulus
besar. Sayangnya, proyek-proyek itu ternyata tak punya cukup kekuatan
untuk “memasarkan” geografi lebih agresif. Instansi
pemerintah tak cukup kenal dengan pekerjaan geografi, apalagi dengan
instansi swasta maupun organisasi lain dan publik. Padahal, sosialisasi
geografi yang semakin kuat di masyarakat, sebenarnya sama dengan upaya
meningkatkan nilai jual geografi secara keseluruhan, termasuk memberika
keuntungan pada adanya nilai tawar terhadap permintaan kerja bagi para
mahasiswa kita di pasar kerja. Jadi bukan sekadar nilai proyek yang
tentatif sifatnya. Lalu salahnya dimana? Saya
lihat bagian ini bukan tugas dua-tiga orang, satu-dua lembaga atau
dua-tiga kegiatan. Ini pekerjaan seluruh geografer dan perangkatnya di
seluruh Indonesia. IGI perlu memberikan kontribusi besar, setidaknya
harus berbuat sesuatu, setidaknya sebagai kekuatan “politis” untuk
mereposisi peran geografi secara nasional. Asosiasi
geografer di Amerika dan belahan dunia lain, patut dicontoh. Jurusan
atau departemen/fakultas geografi di berbagai perguruan tinggi harus
memberikan perhatian yang sungguh-sungguh bagi perkembangan mahasiswa,
termasuk kurikulum yang membuat mahasiswa “berdaya”. Buka kerja sama
yang erat dengan lembaga-lembaga pendidikan geografi internasional
dalam kerja sama penelitian, proyek bersama maupun pertukaran
mahasiswa, dosen, kuliah umum internasional dan lainnya. Lembaga-lembaga
masyarakat yang dengan tulus hati memberikan perhatiannya untuk
sosialisasi dan pertumbuhan geografi harus diberikan perhatian dan
bantuan. Buana Katulistiwa, misalnya, harus disokong. Bila perlu harus
ada mekanisme bantuan tetap yang diberikan IGI,
departemen/jurusan/fakultas geografi se-Indonesia, untuk menyokong
kegiatannya. Harus ada sokongan bagi pembukaan akses media informasi
publik lebih jauh. Jangan puas diri atau terkurung dalam
tempurung, melainkan perlu agresifitas untuk mempromosikan diri. Masyarakat
Geografi Indonesia atau organisasi-organisasi lain, misalnya, juga
harus diberi tempat berkiprah, tak perlu dicurigai apalagi dimusuhi.
Lembaga-lembaga masyarakat lain dalam bidang geografi biarkan bertumbuh
subur, sebab mereka itu juga adalah “agen” geografi di bidangnya
masing-masing. Jangan menanggap persaingan adalah
permusuhan. Kita adalah sahabat, dan misi serta visi yang sama. Itu
sebabnya kita harus bersama-sama… Powered by AkoComment! |