Depan arrow Artikel arrow Kolom arrow Geografi Kita
Geografi Kita Cetak E-mail
Oleh Jones Sirait   
Senin, 14 Maret 2005

AGAKNYA cukup memprihatinkan jika hingga pada hari ini banyak diantara kita yang masih berkutat pada pertanyaan “what is it that geographers do?” dan “why do we need geography?” Bagi saya, hal ini sungguh mengenaskan, sebab sejak saya menjadi mahasiswa geografi, 16 tahun lalu, pertanyaan itu sudah ada dan ternyata tidak ada perubahan saat ini. Ataukah pertanyaan semacam ini memang sesuatu yang tidak akan pernah selesai dan akan ada terus sampai kapanpun?

Saya membaca tulisan seseorang di sebuah website yang tergelitik dengan pertanyaan yang disampaikan anggota non-geografi di National Academy of Sciences (NAS), yang bertanya agak meledek, “kalau kita sudah mengetahui ‘dimana’ sesuatu itu, lantas untuk apa lagi kita memerlukan geografi?”

Sebagai geografer, Anda pasti juga tertarik untuk memberikan pembelaan. Bahwa pemikiran orang-orang di NAS itu merefleksikan adanya miskonsepsi, sebab kebanyakan orang, hingga saat ini sepertinya memiliki gambaran yang sudah usang soal geografi. Geografi masih dianggap hanya sebagai studi “what is where”, yaitu pengetahuan tentang “danau, teluk, gunung tertinggi, kota terbesar”.

Itu pemikiran 60 tahun lalu. Padahal, geografi sekarang sudah berubah dari sesuatu yang hanya  “declarative” (atau penemuan fakta) kepada intelektualisme yang mengeksplorasi ilmu keruangan (spatial science). Lebih dari 60 tahun, geografi telah berhasil mengembangkan teori mengenai lokasi, distribusi, interaksi dan proses; dan telah pula menemukan suatu metoda analisis mengenai ruang dan inovasi yang merepresentasikan multi-modal. Sebuah disiplin ilmu yang menerapkan pemikiran “Place-based” untuk memecahkan berbagai permasalahan yang berkenaan dengan kaitan human-environment. Hasilnya adalah hari ini kita temukan para geografer melakukan banyak hal yang tak terduga sebelumnya.

Saya baru saja kembali dari Amerika Serikat pekan lalu. Saya cukup terkesan dengan “geography minded” yang demikian kuat yang ditunjukkan setiap instansi pemerintahan, NGO, perusahaan-perusahaan, media massa maupun organisasi-organisasi lain mulai di Washington DC hingga negara-negara bagian. Saya mengunjungi Departmenf of Homeland Security, Department of Health and Human Services, Department of State, Department of Defence, Department of Justice, dan menemukan bahwa soal keahlian analisis keruangan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari department ini. Mereka berbicara dengan peta, bukan dengan “mulut”. Dan keberadaan orang yang ahli dalam bidang GIS, misalnya, suatu keharusan.

Di Department of Health and Human Services, mereka memantau hari ke hari perkembangan suatu penyakit di seluruh belahan dunia melalui monitor televisi, internet dan saluran lain di sebuah pusat media. Berita flu burung di Asia, misalnya, dengan cepat dipetakan, diplot pergerakannya dan membuat laporan untuk mengambil kebijakan cepat. Begitu pun kasus Anthrax, kasus influenza di dalam negeri maupun internasional.

Di koran Washington Post, saya tergelitik menanyakan hal yang sama, bagaimana mereka mengerjakan tampilan peta yang mereka terbitkan sebagai visualisasi dari berita. Mereka juga memiliki tim visual yang ahli dalam pemetaan, seperti juga dimiliki The New York Times. Di Kansas City,  Missouri, saya menemukan Palang Merah (Red Cross)  maupun NGO semacam MARC (Mid America Regional Council) menjadikan GIS sebagai salah satu bagian yang tak terpisahkan dari sebuah project mereka.

Dan, kesan saya, pemahaman tentang ruang dan kemampuan analisisnya, telah membuat mereka tak hanya lebih  percaya diri, tapi juga lebih “berkuasa” daripada negara-negara lain.

Bagaimana dengan kita? Saya tahu, naïf sekali jika memperbandingkan kita dengan AS AS bukan Indonesia dan tidak ada alasan untuk memaksa kondisi kita harus seperti mereka. Hanya saja, seperti dipertanyakan dalam bagian awal tulisan ini, apa sebab geografi kita sepertinya tidak “bergigi”? Kenapa geography minded itu seperti tetap jauh dari harapan, bahkan setelah lebih dari 16 tahun atau bahkan 20 tahun?

Ini bukan pertanyaan sepele, tapi sangat besar. Dan mungkin keliru jika ada yang berpendapat geografi kita tidak memiliki kemajuan. Setidaknya, masih cukup banyak proyek yang dikerjakan oleh institusi geografi saat ini, khususnya di perguruan tinggi, dan agaknya cukup memberikan fulus besar. Sayangnya, proyek-proyek itu ternyata tak punya cukup kekuatan untuk “memasarkan” geografi lebih agresif.

Instansi pemerintah tak cukup kenal dengan pekerjaan geografi, apalagi dengan instansi swasta maupun organisasi lain dan publik. Padahal, sosialisasi geografi yang semakin kuat di masyarakat, sebenarnya sama dengan upaya meningkatkan nilai jual geografi secara keseluruhan, termasuk memberika keuntungan pada adanya nilai tawar terhadap permintaan kerja bagi para mahasiswa kita di pasar kerja. Jadi bukan sekadar nilai proyek yang tentatif sifatnya.

Lalu salahnya dimana? Saya lihat bagian ini bukan tugas dua-tiga orang, satu-dua lembaga atau dua-tiga kegiatan. Ini pekerjaan seluruh geografer dan perangkatnya di seluruh Indonesia. IGI perlu memberikan kontribusi besar, setidaknya harus berbuat sesuatu, setidaknya sebagai kekuatan “politis” untuk mereposisi peran geografi secara nasional.

Asosiasi geografer di Amerika dan belahan dunia lain, patut dicontoh. Jurusan atau departemen/fakultas geografi di berbagai perguruan tinggi harus memberikan perhatian yang sungguh-sungguh bagi perkembangan mahasiswa, termasuk kurikulum yang membuat mahasiswa “berdaya”. Buka kerja sama yang erat dengan lembaga-lembaga pendidikan geografi internasional dalam kerja sama penelitian, proyek bersama maupun pertukaran mahasiswa, dosen, kuliah umum internasional dan lainnya.

Lembaga-lembaga masyarakat yang dengan tulus hati memberikan perhatiannya untuk sosialisasi dan pertumbuhan geografi harus diberikan perhatian dan bantuan. Buana Katulistiwa, misalnya, harus disokong. Bila perlu harus ada mekanisme bantuan tetap yang diberikan IGI, departemen/jurusan/fakultas geografi se-Indonesia, untuk menyokong kegiatannya. Harus ada sokongan bagi pembukaan akses media informasi publik lebih jauh. Jangan  puas diri atau terkurung dalam tempurung, melainkan perlu agresifitas untuk mempromosikan diri.

Masyarakat Geografi Indonesia atau organisasi-organisasi lain, misalnya, juga harus diberi tempat berkiprah, tak perlu dicurigai apalagi dimusuhi. Lembaga-lembaga masyarakat lain dalam bidang geografi biarkan bertumbuh subur, sebab mereka itu juga adalah “agen” geografi di bidangnya masing-masing.

Jangan menanggap persaingan adalah permusuhan. Kita adalah sahabat, dan misi serta visi yang sama. Itu sebabnya kita harus bersama-sama…

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com