|
Siapa bilang kata "lokasi" atau "dimana" bukan magic? Kata-kata itu tak hanya sakti bagi pengembang properti yang haus tanah dengan jargon "lokasi, lokasi, lokasi"-nya, tapi sudah jauh melesat menjadi industri yang mengglobal dan boleh disebut sedang in dewasa ini, mengalahkan industri kimia, industri farmasi, industri pariwisata, industri pertanian. Nama industri itu, "industri dimana", atau jika Anda setuju kita sebut saja "industri geo", sebuah nama pendek dari panjangnya istilah yang sudah umum dipakai seperti geoinformation industry, geospatial information industry (terus terang saya juga termasuk orang yang pusing dengan istilah-istilah ini!), dengan salah satu pilarnya adalah teknologi (Geo-Tech?).
Saya bukan orang yang paham tentang teknologi, apalagi teknologi yang terkait dengan "geo". Tapi saya cukup heran dengan "kebisingan" yang terjadi dalam bidang ini, khususnya dari berita-berita yang saya dapat baca antara lain di website ini.
Coba lihat pertengkaran yang terjadi antara Perancis dan Jerman, entah itu antara raksasa Inmarsat (Inggris), Thales (Perancis), Alcatel (Perancis), Finmeccanica (Italia), Hispasat (Spanyol) dan lainnya, dalam memperebutkan proyek monumental Galileo, yang konon mengandung pesan konkrit untuk menghela dominasi Amerika Serikat yang telah melesat dengan industri GPS-nya, baik untuk tujuan sipil maupun politik atau pertahanan.
Lihat bagaimana di tengah perseteruan itu, Radarsat International, terus merambah pasar mereka termasuk manajemen sumber daya alam dan monitoring lingkungan, pemetaan es, agrikultur, deteksi pelayaran, pemetaan dan survey, dengan satelit RADARSAT-1, ENVISAT, ERS, LANDSAT, IKONOS, QuickBird, EROS A, RESOURCESAT-1 dan IRS. Dan perusahaan Jerman, Siemens, merambah ke bisnis GPS yang melesat tidak hanya merangsek ke Inggris tapi juga pasar di Timur Tengah.
Lihat lagi betapa ramainya persaingan di sektor pembuatan perangkat lunak komputer atau pendukung sistem informasi geografis, yang datang dari segala arah, dan selalu bersaing dalam mengeluarkan produk baru, seperti Amerika Serikat, Kanada, bahkan hingga produk dari China, Jepang dan negara-negara lain.
Lihat pula persaingan ketat antara Microsoft, Google, Yahoo dan Amazon.com dalam urusan satellite-mapping untuk program pencarian lokal.
Bukan main perkembangan teknologi ini. Sayang sekali, kita di sini, Indonesia, agaknya hanya akan tetap menjadi penonton dan pemakai. Tukang GIS, tukang GPS, tukang peta atau apa namanya. Terus terang, hati kita trenyuh juga dengan China, yang di tengah serangan teknologi luar itu, mereka masih memikirkan bagaimana cara membangun perangkat lunak sendiri, lalu membangkitkan kesadaran bahwa mereka harus menjaga dengan baik data-data informasi geografis mereka. Bahkan ketika India dengan percaya diri membangun sistem peringatan dini tsunami sendiri dan menolak keterlibatan asing di dalamnya, kita menarik nafas lega, betapa masih ada semangat kepercayaan diri di antara negara-negara dalam membentengi diri mereka dari kekuatan asing.
Saya tak bermaksud untuk menjadikan kita terpaut pada teknologi. Saya kira bagi disiplin ilmu yang berkait dengan "Geografi", teknologi itu adalah alat, bukan tujuan. Bagi orang teknik, tentu saja itu tujuan, tapi bagi kita tidak. Maka, seperti kata orang banyak, adalah mengherankan kalau orang geografi, orang geologi, orang geodesi, orang geofisika dan meteorologi, orang planologi itu jadi tukang GIS atau tukang GPS. Tapi, ? nah ada tapinya. Semua orang harus mengakui pula bahwa perkembangan GIS dan GPS memang telah melambungkan geografi di satu sisi, sehingga dapat mencuri perhatian banyak orang dewasa ini. Dan, meskipun hanya sekadar "alat", tapi teknologi itu tidaklah bisa dinafikkan begitu saja.
Tapi, tulisan ini bukan bermaksud untuk membahas itu secara panjang lebar. Saya disini hanya sekadar menyampaikan keluh kesah mengapa Indonesia tidak menaruh aspek persaingan teknologi geo ini sebagai aspek penting yang juga harus dikejar, setidaknya untuk mengurangi ketergantungan dari luar? Apa yang salah?
Suka atau tidak, harus diakui bahwa ada imbas dari pendidikan kita di sini, yang memang tidak membuka link antara ilmu-ilmu geo dengan teknologi sebagai sebuah jurusan atau program studi. Saya memberi contoh apa yang terjadi di sektor pertanian. Bagaimana seorang mahasiswa yang memahami pertanaman tebu dapat membuat teknologi tebu jika si mahasiswa tidak didekatkan pada teknologi? Seharusnya yang bisa memahami kebutuhan teknologi tebu adalah mahasiswa pertebuan tadi. Jika kurikulum hanya membahas cara menanam, memupuk dan memanen tebu dari semester ketiga hingga lulus, bagaimana teknologi diciptakan? Berharap kepada orang teknik akan sulit sebab dia pun tidak paham bagaimana tebu itu.
Saya tidak tahu bagaimana, tapi kurikulum harus dibuat fleksibel dalam departemen/fakultas itu sendiri. Tidak harus semua mahasiswa dalam satu angkatan digiring ke teknologi semua, tapi mungkin yang menonjol saja, yang kesukaannya memang ke-teknikan. Kelak, mahasiswa ini pun bisa memahami pembuatan perangkat lunak, bahkan ke tingkat lebih tinggi, misalnya pembuatan mesin atau perangkat keras yang berkaitan dengan geo. Dan, dia tak perlu pindah jurusan/departemen/fakultas, dia tetap di tempatnya semula, hanya dia diberi akses untuk menjadi ahli di bidang teknologi. Atau mungkin ada peminatan khusus yang diberi mata kuliah geo-tek (entah itu dari sisi TI [tekonologi informasi], teknik elektro, teknik mesin dan lainnya), dalam satu atap?
Ini tentu tidak mudah, sebab tak cukup waktu empat-lima tahun. Mungkin perlu S-2 atau S-3 atau hanya sekadar kursus atau pelatihan, entahlah. Tapi formulanya harus ada yang membuka akses itu. Sebab berharap mahasiswa sendiri akan ngelmu dengan uang sendiri, lha dari mana uangnya? Dan, pemerintah saya kira harus memberi jalan bagi terwujudnya hal ini. Jika ingin industri informasi geografis atau "Geo-Tech" kita kuat, harus dilakukan itu. Atau mungkin ada dari pihak BUMN terkait atau swasta yang bergerak di bidang telekomunikasi, teknologi informasi mau menginvestasi untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang handal dalam bidang ini?
Hewan dan tanaman saja ada kawin silang, masa kawin ilmu tidak boleh? Begitu kira-kira? Powered by AkoComment! |