Depan Artikel Kolom Dag, Dig, Dug?
|
Dag, Dig, Dug? |
|
|
|
Oleh Jones Sirait
|
|
Jumat, 07 Januari 2005 |
PM Thailand Thaksin Sinawatra telah membuat keputusan yang cukup mengagetkan yaitu memecat Kepala Departemen Meteorologi Thailand Suparerk Tansriratanawong. Alasannya adalah Suparerk Tansriratanawong dan departemennya telah gagal memberikan peringatan akan terjadinya gempa yang menimbulkan tsunami dan menewaskan 5.187 orang, termasuk diantaranya lebih dari 2.500 warga asing, dan 240 warga mancanegara yang belum jelas kebangsaannya.
Masih dari kabar yang terdengar, Supaperk terkesan terlalu menganggap enteng persoalan dengan berkata kepada media bahwa Thailand tidak dilanda tsunami selama lebih dari 300 tahun dan tidak ada alasan untuk mengkhawatirkannya. Bahkan, media juga merekam pernyataan dia yang bernada membenarkan diri dengan menyebut bahwa lembaganya memang sengaja tak membuat peringatan dengan alas an ramalan itu bisa merusak industri pariwisata Thailand, yang ketika itu memang memasuki peak season akhir tahun.
Bukan bermaksud meledek, di Indonesia, Kepala BMG atau Dirjen dan Direktur di Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau instansi yang punya "lisensi" untuk meramal tampaknya masih tenang-tenang saja. Walau ketika peristiwa gempa bumi itu terjadi Indonesia hanya bisa melansir sebuah angka yang fantastis mengenai kekuatan gempa, yaitu cuma 6,7 skala Richter. Angka yang jauh lebih rendah dari angka yang diberikan BMG Amerika Serikat 8,9 skala Richter, plus tidak adanya peringatan awal.
Untunglah, peralatan deteksi gempa di kita itu sudah "usang" tidak lengkap pula, sehingga bisa dijadikan kambing hitam. Pecat-memecat ala Thailand pun bisa dihindarkan.
Tapi, sekali lagi bukan bermaksud meledek, keanehan demi keanehan memang telah datang dari sumber instansi peramal kita justru setelah angka "6,7 Richter" itu diberitakan ke media. Pertama, ketika para peramal termasuk para pakar geologi dan ahli-ahli di LIPI, BPPT dan lainnya berkumpul dan menjelaskan kejadian bencana itu dalam sebuah konferensi pers dua hari setelah kejadian. Bla bla bla? lalu muncul ramalan baru, katanya kemungkinan masih akan muncul gempa baru yang menyerang bagian utara Aceh. Gemparlah para warga yang sebelumnya sudah "sekarat" menyelamatkan diri ke pengungsian. Kepanikan melanda dan banyak warga di sekitar Banda Aceh dan tempat-tempat lain ambil langkah seribu untuk hengkang ramai-ramai dari sana. Melihat itu, muncul pula ramalan mendadak yang sumbernya entah dari mana yang menyebut jaminan bahwa tidak akan ada gempa baru apalagi tsunami di Aceh. Dan bahwa jikapun ada gempa takkan mungkin melewati 6 skala Richter.
Kedua, muncul ramalan yang dilansir oleh kantor BMG di daerah yang menyebut bahwa kemungkinan terjadi gempa dan tsunami yang melanda Jawa Barat, Banten dan Jawa Timur. Ramalan inipun membuat kepanikan. Maklum menjelang liburan akhir tahun, akan banyak pelancong akan menyerbu destinasi di pinggir-pinggir pantai. Jelas, pengusaha pariwisata akan protes termasuk pemda. Kepala BMG pun kemudian merilis bantahan. Itu tidak ada, katanya. Jangan dipercaya. Saya tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau pada masa-masa ini gempa dan tsunami memang benar menerjang daerah-daerah itu, BMG akan bagaimana?
Ketiga, isu yang sama juga melanda Sumatera Barat. Konon di sana muncul berita bahwa BMG meramal akan munculnya gempa dan tsunami yang akan menerjang daerah ini. Rakyat resah, pemda resah. Kepala BMG pun membuat rilis bantahannnya yang kedua. BMG tak pernah mengeluarkan ramalan seperti itu, katanya.
Keempat, per tanggal 6 Januari lalu, telah terjadi dua kali kejadian gempa susulan berkekuatan 6,2 skala Richter (catatan ramalan AS, ada yang menyebut 6,5). Rilis terakhir ini amat bertentangan dengan rilis sebelumnya oleh BMG yang menyebut bahwa pasca gempa takkan ada gempa baru yang berkekuatan lebih dari 6 skala Richter sehingga warga tak perlu panik!!
Lucu sekali, ternyata sebuah ramalan telah menjadi semacam ledekan di sini. Bantahan demi bantahan itupun bukan malah membantu, tapi malah membuatnya menjadi semakin lucu. Maaf saja, jika saya Kepala BMG, saya tidak akan mau membuat bantahan-bantahan. Lha iya, seperti disebutkan tadi, bagaimana kalau kemudian hal itu betul terjadi? Bukankah selama ini juga ramalan resmi kita juga sering sekali meleset? Artinya bantahan atas ramalan itu juga punya kemungkinan juga untuk meleset juga bukan?
Tapi, apa iya pula ada tekanan-tekanan yang dialamatkan para dunia usaha dan pemerintah daerah yang membuat munculnya bantahan itu? Dalam kasus Thailand, Kepala BMG Thailand membenarkannya, tapi Thaksin agaknya tak mau industri pariwisata dikait-kaitkan dengan tidak adanya peringatan dini itu. Makanya dia dipecat. Di sini, ada kecurigaan bahwa paniknya BMG justru terpengaruh oleh kepanikan warga atas ramalan itu.
Duh!
Semoga saja gempa dan tsunami tak terjadi dalam waktu dekat ini. Dan saya tahu, para pejabat BMG menjadi pihak yang sangat degdeg-an saat ini. Dag.. dig.. dug? Powered by AkoComment! |
|
|
|