|
Dirjen Geologi Sumber Daya Mineral Departemen Pertambangan dan Energi Simon F Sembiring,
"Mengenai early warning system (sistem peringatan dini), Simon mengatakan jangan terlalu latah karena biayanya sangat mahal. Jangan berfikir dapat dibeli dengan dimasukkannya ke dalam daftar isian proyek (DIP), sebenarnya cukup menggunakan budaya daerah seperti kentongan."
Saya sangat tertarik untuk mendukung pernyataan tersebut.
Selain Indonesia negara yang belum berkecukupan, sebenarnya kita memiliki perangkat komunikasi tradisional (termasuk sistem budayanya) yang masih bisa dihidupkan lagi. Di kehidupan masyarakat kita sejak dulu secara langsung atau tidak langsung sebenarnya sudah mempersiapkan fenomena alam apa yang harus dihadapi di lingkungannya.
Hanya dekade modernisasi mengubur kearifan budaya tersebut. Untuk selalu mengikuti dan memiliki perangkat modern pada akhirnya terbentur dengan kebutuhan-kebutuhan pembangunan yang lebih prioritas. Sebagai contoh sudah dibahas dalam berita Buana Katulistiwa 6 Juli 2005. Dalam tulisan tersebut mengisaratkan bahwa sistem peringatan dini sejak dulu sudah ada seperti "kentongan".
Kentongan sebagai perangkat tradisional yang berfungsi sebagai alat komunikasi (dalam jarak jangkau terbatas dan dilakukan secara partisipatif dengan sistem yang sudah dipakemkan). Dalam menghadapi bencana alam (gunung meletus, banjir, angin ribut, hujan es, tanah longsor dll), juga bencana sosial (perampokan, pemerkosaan, "Bithen" (bahasa Jawa yang artinya perang antar kampung, melaporkan anak hilang).
Dan sebenarnya tidak hanya berfungsi dalam menghadapi bencana saja misalnya untuk undangan perkawinan (warga betawi dengan menggunakan petasan yang sekarang diganti dengan petasan kembang api atau petasan bambu, meskipun sebagian masih juga dengan petasan), selain itu juga berfungsi untuk mengirim berita ke pusat-pusat "Kerajaan" atau sebaliknya ke wilayah "terpencil" kala itu. Seperti penggunaan semapur (pramuka biasa memakainya) sehingga dari antar perahu/kapal, kapal dengan pelabuhan terdekat dll).
Banyak jenis yang digunakan sebagai alat komunikasi sebelum dan sesudah datangnya teknologi modern (morse, Rado, TV, Telegram, Telepon/hp, hingga satelit).
Saya mencoba melontar ide tersebut supaya ada yang melakukan penelitian baik sebagai skripsi maupun sebagai tesis terutama penggemar ilmu budaya.
Budaya penggunaan alat-alat komunikasi tradisional apa saja di Indonesia yang bisa di gali atau dihidupkan lagi dalam mendukung sistem peringatan dini. Dinamisasi masing-masing daerah dalam menggunakan alat komunikasi tradisional tentu saja ada perbedaan, inilah kebhinnekaan budaya (mungkin hanya dapat diperuntukkan secara lokal, tetapi juga mungkin dapat diambil sebagai masukan yang bersifat kebutuhan nasional atau yang lebih luas.
Ok nanti saya sambung lagi...... Powered by AkoComment! |