Saya pernah melihat di panduan kurikulum nasional 1994 untuk mata pelajaran geografi SMU(A), materi tentang GIS dan penginderaan jauh (PJ) diberikan bersama dengan kartografi pada caturwulan pertama kelas 1!. Saya tidak tahu bagaimana sekarang (kurikulum yang baru). Apa yang pernah saya lihat itu menggambarkan ketidakpahaman perancang kurikulum geografi untuk sekolah menengah. Bagi mereka, GIS dan PJ hanyalah alat untuk membantu menggambar peta dengan komputer.
Memang tidak ada salahnya kalau masalah produksi peta dijelaskan dengan menyinggung serba sedikit kontribusi teknologi komputer, termasuk kartografi digital, PJ dan GIS. Tapi pokok bahasan yang ada di sana malah menggunakan buku teks Prof.Sutanto, yang sebenarnya dirancang untuk mahasiswa S1 dan S2. Tentu saja ini malah membuat siswa SMA bingung. Akan lebih baik kalau bahasan PJ dan GIS (meskipun tidak banyak) diberikan di bagian akhir pelajaran geografi SMA --baik aspek sosial maupun fisiknya, untuk menunjukkan manfaat (dan sekaligus keterbatasan) teknologi tersebut dalam memecahkan berbagai masalah yang terkait dengan geografi dan lingkungan.
Sebaiknya kurikulum geografi di SMA dirancang sebagai pembekalan untuk memahami berbagai masalah lingkungan secara terintegrasi & interdisipliner; baik fisik, biologis, maupun sosial. Guru juga sebaiknya mampu menjelaskan bagaimana prinsip-prinsip dasar (dasar saja, tidak usah terlalu jauh) yang dipelajari di Biologi, Kimia, Fisika, Sosiologi-Antropologi dan Ekonomi dipertemukan dalam kajian geografi. Ini akan membuat materi pelajaran geografi jadi hidup. Masalahnya, apa ya gurunya mampu?
Silakan login dulu untuk mengirim pertanyaan atau tanggapan.