Depan arrow Topik arrow Wisata arrow Perlu Riset dan Koordinasi Antisipasi Dampak Perubahan Iklim terhadap Pariwisata
Perlu Riset dan Koordinasi Antisipasi Dampak Perubahan Iklim terhadap Pariwisata Cetak E-mail
Rabu, 05 April 2006
Buana Katulistiwa- Perubahan iklim menunjukkan peningkatan risiko bagi industri pariwisata, bagi wisatawan dan ekonomi, kata Sekjen World Tourism Organization (WTO) Francessco Frangialli.

Berbicara pada konferensi World Meteorological Organization (WMO), belum lama ini, Frangialli menyebut bahwa berbagai kegiatan bisnis parwisata akan sangat tergantung pada iklim dan kebijakan jaminan keamanan atas bencana alam, informasi cuaca yang akurat dan peramalan kejadian iklim ekstrim.

Seperti dikutip dari Majalah UNWTONEWS, belum lama ini, Frangialli mengatakan, untuk menghadapi serangan ini, diperlukan lebih banyak lagi riset dan koordinasi yang lebih erat antara pemerintah dan private sector, untuk mengantisipasi kemungkinan kejadian tersebut ke dalam kebijakan kepariwisataan dan rencana pengembangan dan manajemen.

"Apapun kejadian lingkungan, pariwisata tidak dapat diisolasi," katanya. "Perubahan utama dalam pola penerimaan pariwisata akan memberikan dampak yang semakin luas dalam berbagai kebijakan ekonomi dan sosial."

Destinasi pantai, resor sport musim dingin dan seluruh kegiatan wisata luar ruang selalu "sangat tergantung pada kondisi iklim," kata Frangialli.

Kondisi cuaca ekstrim, seperti badai dan banjir, serangan kesehatan dan keamanan antara wisatawan dan penduduk lokal, dianggap akan dapat merusak infrastruktur utama di sebuah destinasi. Ketika hal ini terjadi, citra kerusakan saja dapat mempengaruhi potensi pariwisata, dan mengurangi jumlah kunjungan yang akan mempengaruhi ekonomi destinasi.

Perubahan iklim juga dapat mempengaruhi lingkungan alam di destinasi, kerusakan pantai, terumbu karang dan eskosistem sensitif lainnya atau terbatasnya salju di wilayah pegunungan, akan mempengaruhi layanan dasar bagi wisatawan seperti pasokan air, khususnya pada musim puncak kunjungan.

"Di wilayah pegunungan, permintaan wisata musim dingin akan terpengaruh," katanya. "Musim akan semakin pendek, kesempatan bagi para pemula untuk belajar olahraga akan terbatas begitu pula permintaan terhadap resor-resor di ketinggian akan berkurang.

Resor-resor di tepi pantasi juga akan mengalami kesulitan, karena pantai akan lebih panas dari biasanya pada musim panas, sehingga tak membuat nyaman para wisatawan. (bj)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com