Depan arrow Artikel arrow Berita Dunia arrow Indonesia Impor Model Peringatan Tsunami Jerman
Indonesia Impor Model Peringatan Tsunami Jerman Cetak E-mail
Jumat, 04 Pebruari 2005

Buana Katulistiwa- Indonesia memutuskan untuk memasang sebuah sistem peringatan dini tsunami yang dibangun peneliti Jerman yang mengklaim teknologinya lebih baik dibanding model AS saat ini di Pasifik.

    Awal minggu ini diberitakan bahwa Indonesia, negara yang terkena dampak terburuk oleh tsunami 26 Desember lalu, memutuskan memakai sistem peringatan dini tsunami yang dibangun Pusat Riset Bumi di Potsdam, Jerman.

    Berdasarkan konsep yang dijelaskan peneliti Potsdam, sistem peringatan dini akan dipasang di Indonesia dan Sri Lanka. Kemudian, jaringannya akan diperluas hingga menjangkau seluruh wilayah Samudera Hindia.

    Rolf Emmerman, kepala Institut Riset Potsdam, seperti dilansir www.dw-world.de mengatakan, untuk tahap awal pembangunan sistem ini memakan biaya sekitar 25 juta Euro, dan keseluruhan biaya mencapai 45 juta Euro.

    Pelampung pertama akan dipasang Oktober tahun ini, ujar Emmerman. Ia menambahkan bahwa sistem tersebut akan digunakan dan berkerja satu setengah tahun dan akan mampu menyampaikan peringatan via internet dan email semudah SMS (pesan singkat telepon).

    “Saya heran sendiri dengan kemajuan pesat alat ini padahal belum diadakan konfrensi hingga pertengahan Maret ini” jelasnya.

    Kementerian Riset Jerman mengatakan akan menandatangani perjanjian sistem peringatan dini dengan Jakarta saat konferensi Maret nanti. “Kemudian, kita langsung menjalankannya”.

 

Lebih cepat dan efisien

    Berdasarkan penjelasan Menteri Riset Jerman Edelgard Bulmahn, kelebihan dari sistem peringatan dini Jerman ini ialah dapat berhubungan dengan sistem lain yang ada. Hingga kini, hanya ada satu sistem peringatan dini tsunami di Samudera Pasifik yang dioperasikan Amerika Serikat dan Jepang.

    Sistem Jerman dan Amerika, pada dasarnya keduanya berkerja dengan prinsip yang sama: sensor tekanan dipasang dan merekam setiap gelombang besar dan gempa dasar laut dan disampaikan melalui pelampung dan satelit ke pusat peringatan tsunami di darat. Kemudian data diolah dan penduduk diingatkan jika terjadi bahaya.

    Namun, menurut peneliti Potsdam, model mereka lebih cepat dan efisien sehingga menurunkan tingkat kesalahan peringatan.

    “Pada sistem Amerika dan Jepang di Pasifik, proses disimulasi oleh komputer dan karenanya pengukuran gempa biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama” jelas Emmerman.”Kami kira apa yang kami tawarkan lebih baik teknologinya,”

    Peter Herzig, Direktur Institut Leibnitz untuk Oseanografi yang ikut serta membangun sistem ini, menyetujui pendapat tersebut.

    “Sensor tekanan kami lebih dapat diandalkan dan dapat –dibanding sistem Pasifik—membedakan latar belakang gelombang tsunami” kata Herzig.”Dengan kombinasi pelampung dan satelit yang dilengkapi GPS (global positioning system) kita dapat langsung mengamati permukaan lautan secara langsung dengan posisi yang tepat”lanjutnya. Sistem ini juga dapat membantu para ahli membedakan gelombang tsunami dengan gelombang tinggi lain. (dw-world.de/dn)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com