|
Buana
Katulistiwa- Indonesia memutuskan untuk memasang
sebuah sistem peringatan dini tsunami yang dibangun peneliti Jerman yang
mengklaim teknologinya lebih baik dibanding model AS saat ini di Pasifik.
Awal minggu ini
diberitakan bahwa Indonesia, negara yang terkena dampak terburuk oleh tsunami
26 Desember lalu, memutuskan memakai sistem peringatan dini tsunami yang
dibangun Pusat Riset Bumi di Potsdam, Jerman.
Berdasarkan
konsep yang dijelaskan peneliti Potsdam, sistem peringatan dini akan dipasang
di Indonesia dan Sri Lanka. Kemudian, jaringannya akan diperluas hingga
menjangkau seluruh wilayah Samudera Hindia.
Rolf Emmerman,
kepala Institut Riset Potsdam, seperti dilansir www.dw-world.de
mengatakan, untuk tahap awal pembangunan sistem ini memakan biaya
sekitar 25 juta Euro, dan keseluruhan biaya mencapai 45 juta Euro.
Pelampung
pertama akan dipasang Oktober tahun ini, ujar Emmerman. Ia menambahkan bahwa
sistem tersebut akan digunakan dan berkerja satu setengah tahun dan akan mampu
menyampaikan peringatan via internet dan email semudah SMS (pesan singkat
telepon).
“Saya heran
sendiri dengan kemajuan pesat alat ini padahal belum diadakan konfrensi hingga
pertengahan Maret ini” jelasnya.
Kementerian
Riset Jerman mengatakan akan menandatangani perjanjian sistem peringatan dini
dengan Jakarta saat konferensi Maret nanti. “Kemudian, kita langsung
menjalankannya”.
Lebih
cepat dan efisien
Berdasarkan
penjelasan Menteri Riset Jerman Edelgard Bulmahn, kelebihan dari sistem
peringatan dini Jerman ini ialah dapat berhubungan dengan sistem lain yang ada.
Hingga kini, hanya ada satu sistem peringatan dini tsunami di Samudera Pasifik
yang dioperasikan Amerika Serikat dan Jepang.
Sistem Jerman
dan Amerika, pada dasarnya keduanya berkerja dengan prinsip yang sama: sensor
tekanan dipasang dan merekam setiap gelombang besar dan gempa dasar laut dan
disampaikan melalui pelampung dan satelit ke pusat peringatan tsunami di darat.
Kemudian data diolah dan penduduk diingatkan jika terjadi bahaya.
Namun, menurut
peneliti Potsdam, model mereka lebih cepat dan efisien sehingga menurunkan
tingkat kesalahan peringatan.
“Pada sistem Amerika dan Jepang di
Pasifik, proses disimulasi oleh komputer dan karenanya pengukuran gempa
biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama” jelas Emmerman.”Kami kira apa yang
kami tawarkan lebih baik teknologinya,”
Peter Herzig,
Direktur Institut Leibnitz untuk Oseanografi yang ikut serta membangun sistem
ini, menyetujui pendapat tersebut.
“Sensor tekanan
kami lebih dapat diandalkan dan dapat –dibanding sistem Pasifik—membedakan
latar belakang gelombang tsunami” kata Herzig.”Dengan kombinasi pelampung dan
satelit yang dilengkapi GPS (global
positioning system) kita dapat langsung mengamati permukaan lautan secara
langsung dengan posisi yang tepat”lanjutnya. Sistem ini juga dapat membantu
para ahli membedakan gelombang tsunami dengan gelombang tinggi lain. (dw-world.de/dn) Powered by AkoComment! |