Depan arrow Topik arrow Teknologi arrow Catatan 2005 (1): Revolusi Google Earth, Ancaman atau Tantangan?
Catatan 2005 (1): Revolusi Google Earth, Ancaman atau Tantangan? Cetak E-mail
Rabu, 28 Desember 2005
Buana Katulistiwa- Google Earth telah melakukan revolusi yang dianggap begitu liar dan hampir-hampir tak bisa dipercaya akan terjadi dalam saat diluncurkan Juni tahun ini. Sebuah sumber terbuka informasi geospasial berbasis web yang di berbagai negara dianggap barang mahal, kini hanya barang murah yang bisa didapat kapan saja. Terlalu cepat, begitu komentar banyak kalangan, sebab apa yang dilakukan selama dua dekade belakangan, digempur hanya dengan beberapa bulan oleh Google.

Lihat saja apa yang sudah mereka lakukan. Dalam satu klik di earth.google.com Anda bisa berkelana mengelilingi bumi, dengan kualitas warna citra satelit yang spektakuler dan juga dalam 3D yang disebut ?3D interface to the Planet? yang benar-benar nyata dalam opsi-opsi sederhana ?Zoom In/Out?, ?Fly To?, ?Search?. Menawarkan lebih dari 35 layer tematik, memberikan pilihan untuk overlay batas politik, grid lintang dan bujur, memasukkan simbol tempat, mengukur jarak.

Efek visual spektakuler ini ditampilkan dari Shuttle Radar Telemetry Mission (SRTM) level 1, dengan citra satelit dari EarthSat: data NaturalVue dari Landsat TM Sensor dengan resolusi 30mt. Digital Globe: warna Natural, 60cm Pan penajaman data dari satelit Quick Bird. Sanborn: foto udara digital.

Dan, semua fasilitas ini, membuka peluang sekaligus ancaman. Peluang karena berbagai perusahaan dapat memanfaatkannya dengan sangat mudah bagi banyak keperluan mulai dari arsitektur, konstruksi, real estate, perencanaan kota, manajemen risiko, penelusuran aset, untuk membantu tugas kepolisian melacak kejahatan, membantu petugas kesehatan untuk mencari lokasi insiden, dalam bidang kepariwisataan untuk menemukan lokasi hotel, destinasi dan lainnya, untuk keperluan penanganan bantuan bencana dan seterusnya, karena fasilitas Google juga menyediakan analisis yang memungkinkan penggunaan data geospasial dalam proses perencanaan dan pemasaran, tanpa menghabiskan banyak waktu dan uang, apalagi Google Earth diintegrasikan dengan GPS dan sistem RFID.

Namun begitu, sajian Google Earth juga dihadapkan pada pesimisme dan bahkan kritik tajam. Pertama, kritik tajam karena berbagai kelemahannnya, sedangkan yang kedua adalah kritik tajam atas bahaya yang dinilai telah mengancam industri geospasial tradisional yang kini masih banyak hidup di berbagai negara.

Mengenai kelemahan Google Earth, pertama, mengenai tidak disebutkannya tanggal pengambilan citra yang ditampilkan dan pengguna mungkin tidak pernah menyadari bahwa dirinya telah menggunakan citra yang sudah usang. Kedua, pemberian koordinat yang diberikan kepada resolusi yang tidak didukung oleh akurasi, sehingga menyebabkan pengguna juga terjebak pada ketidakakuratan. Bagi pengguna ini bisa berbahaya. Pengguna memang didorong untuk tidak perlu diberikan informasi geometrik, tapi hanya ?apa yang terlihat?.

Nah untuk urusan yang kedua, meski dengan beberapa kelemahan, Google telah dicurigai akan mematikan industri geospasial tradisional, sekaligus membahayakan keamanan suatu tempat atau negara karena sudah tidak ada lagi keamanan data geospasial.

Para penyokong kecurigaan ini mengacu pada kenyataan bahwa citra satelit selalu menjadi bagian dari perangkat keamanan dan kelembagaan, dan ada semacam aturan untuk memasukkan peta-peta dan data satelit kepada kepentingan publik. Apalagi peta hingga kini merupakan bagian dari proses pembangunan.

Namun begitu diantara banyak ulasan dewasa ini, masih lebih banyak yang agaknya menyebut bahwa upaya yang dilakukan Google memberikan sumbangsih positif. Bahkan mengandung tantangan besar bagi setiap perusahaan maupun negara untuk segera melakukan pembenahan dalam urusan data geospasial mereka mengikuti langkah besar yang sudah diawali oleh Google Earth.

Ada pula yang berpendapat bahwa pertumbuhan yang sangat hebat dalam menampilkan data geospasial berbasis web seperti Google Earth, juga apa yang ditampilkan MSN Visual Earth, Maps and Amazon?s A9, NASA - World wind maupun ESRI - ARC GIS Explorer, bukanlah untuk ?menghajar? industri geospasial melainkan hanya merebut pasar konsumen ruang ?pencarian? dalam era yang dikenal sebagai ?search wars?. Google dan saingannya yang lain bahwa dianggap sebagai ?kawan? yang sukses semakin mempopulerkan penggunaan citra dan peta bagi pengguna di dunia, dimana pihak industri geospasial belum sanggup untuk melakukannya, bahkan telah menjadi jembatan jurang pemisah antara ?citra? dan ?GIS? dari industri ini. Apalagi apa yang disajikan oleh Google Earth tidak cukup memadai menyediakan aplikasi dan teknologi geospasial yang dibutuhkan untuk menjawab permasalahan bisnis.

Namun, diantara pesan yang muncul atas perkembangan baru Google Earth dan pesaingnya yang lain adalah tantangan dan kesempatan bagi para komunitas geospasial tradisional untuk melakukan dua hal. Pertama, membuat teknologi geospasial lebih sederhana dan lebih mudah untuk digunakan dan diintegrasikan dengan teknologi yang dekat secara geospasial. Kedua, memberdayakan komunitas pengguna lama dan baru sehingga mereka lebih manaruh perhatian pada geospasial. (tim bk/bj/ss/dari berbagai sumber)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com