Depan arrow Topik arrow Teknologi arrow Biak Pangkalan Peluncuran Satelit, RI-Rusia Teken Kerjasama Januari 2006?
Biak Pangkalan Peluncuran Satelit, RI-Rusia Teken Kerjasama Januari 2006? Cetak E-mail
Rabu, 14 Desember 2005
Buana Katulistiwa - Sudah lama Russia melirik Biak, Papua, sebagai pangkalan peluncuran satelit mereka. Sempat mendapat “lampu hijau” masa kepemimpinan Megawati Soekarnoputri, kemudian tenggelam oleh pergantian kepemimpinan, keinginan itu rupanya baru bisa tercapai sekarang.

Keinginan Rusia untuk menggunakan Biak sebagai peluncuran satelit, kembali mengemuka dalam Forum Bisnis Rusia-ASEAN Ke-2 yang diadakan di Kuala Lumpur, Selasa (13/12). Presiden Air Launch Aerospace Corporation Anatoly Karpov kepada kantor berita DPA menyebut bahwa Rusia dan Indonesia sudah merampungkan persetujuan pemerintah dengan pemerintah (G to G) mengenai kerja sama dalam eksplorasi antariksa bagi keperluan bisnis.

Menurut dia, penandatanganan persetujuan itu pada bulan Januari 2006, sebagai sebuah usaha patungan.

Biak, menurut Karpov, merupakan tempat terbaik bagi peluncuran satelit di ekuator. Dengan posisi timur Biak yaitu hamparan laut dengan ribuan mil jauhnya, maka jika terjadi suatu kesalahan dan satelit jatuh ke bumi akan relatif “aman”.

Peluncuran satelit adalah usaha yang penuh risiko. Rusia sendiri berencana akan meluncurkan lebih dari 100 satelit setiap tahun.

Pada tahun 2003, Gubernur Papua ketika itu Jaap Salossa pada bulan November menyebut bahwa pihaknya menyambut baik rencana Rusia tersebut.

Menurut Salossa, Pemerintah Rusia sudah melakukan stusi di Biak untuk tujuan itu. Namun belum ada kejelasan dari lokasi mana di Biak secara pasti Rusia akan meluncurkan satelitnya.

Salossa juga menyebut bahwa pihaknya telah meminta untuk membuka kembali penerbangan internasional dari Biak-Honolulu-Los Angeles, serta berharap adanya renovasi dari Bandara Frans Kaisiepo di Biak bagi peningkatan investasi asing dan wisatawan.

Pada tahun 2003 itu juga, Presiden Megawati dan Menristek Hatta Radjasa saat melakukan perjalanan ke Rusia, juga dibahas masalah kerjasama penggunaan Biak sebagai pangkalan peluncuran satelit ini. Kepada Rusia, pihak Indonesia juga melakukan kemungkinan kerjasama pembangunan reaktor nuklir untuk memenuhi kebutuhan listrik khususnya di Gunung Muria dengan kapasitas 1,000MW.

Tak hanya itu, Indonesia pada tahun itu juga melakukan deal untuk pembelian sejumlah pesawat Sukhoi, serta komponen dalam pengadaan alat utama sistem pertahanan (Alutsista), karena pada saat itu Indonesia menghadapi kesulitan akibat embargo militer yang masih diberlakukan oleh Amerika Serikat. (ss)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com