Depan arrow Topik arrow Sosial arrow Studi “Suburban” Tiba-tiba Digemari Berbagai Kampus
Studi “Suburban” Tiba-tiba Digemari Berbagai Kampus Cetak E-mail
Senin, 05 Desember 2005
Buana Katulistiwa - “Suburban” (pinggiran kota) mungkin tidak cool. Tapi di kampus-kampus Amerika, minat untuk mempelajari suburban dewasa ini sedang meningkat. Suburban sendiri selain dianggap sebagai kekuatan ekonomi juga politik. Percaya atau tidak, Presiden Bush mendapat dukungan kuat dari daerah pinggiran ini.

“Tak masalah bila Anda mungkin beranggapan bahwa suburban itu tidak eksis, mereka memang ada, dan mereka sedang mengendalikan ekonomi,” kata Profesor David Lenegran dari Macalester College.

Seperti dilansir pioneerpress.com akhir November lalu, secara nasional, pusat studi maupun pemikir suburban sudah dibuka, seperti Center for Suburban Studies pada Hofstra University di New York, dan Center for Sustainable Suburban Development pada University of California, Riverside.

Studi suburban juga memiliki majalah, Opolis, yang diluncurkan empat bulan lalu. Editor Pelaksana Andy McCue menyebut suburban mungkin akan menjadi “sukses ekspor Amerika berikutnya setelah rock ‘n’ roll”.

“Ini bukan hanya menyangkut St Paul atau Kalifornia. Suburban juga ada di Manila, Paris,” kata McCue.

Di atas mejanya di Riverside, Kalifornia, terlihat sebuah gambar pemukiman Tepi Barat baru di Israel, dengan “cul-de-sack”, “dua garasi mobil”, “lapangan rumput” dan lainnya. “Ini kemungkinan suburban Atlanta,” katanya. “Format suburban ada di seluruh dunia.”

University of Minnsota telah memulai kelas studi suburban pada tahun 1998. Sejak itu terus bertambah, termasuk untuk tahun depan. Begitu pula dengan kursus-kursus yang dibuka menjadi pertanda baik untuk topik ini.

Profesor John Archer, profesor studi budaya yang mengajarkan suburban mengatakan, “Keliru jika sampai mengesampingkan separuh Amerika.” Menurut dia, “Hanya menyebut suburban buruk, salah, terbelakang atau apapun tidak dapat menggeser panjangnya perdebatan.”

Selama dua genarasi, budaya pop disangkal suburban. Akademik memperlakukannya seperti penyakit, kanker yang berkembang di seluruh sudut negeri. Menurut Archer, tahun 1950-an, kalangan akademik khawatir tentang “korupsi estetik” atas pengidentikan suburban.

“Ini terjadi selama Perang Dingin dan penyeragaman pengulangan mengingatkan mereka apa yang dibangun di belakang Tirai Besi,” katanya. “Mereka menyangka bahwa jika kita tinggal di suatu tempat yang mirip, kita akan menjadi mirip seperti itu.”

Alasan lain, menurut Profesor dari Macalester, Lanegran, adalah politik. Dia mengacu kepada sebuah studi yang menyebut bahwa wilayah kota merupakan wilayah “kekuasaan” Partai Demokrat. Karena itu orang-orang Demokratrat memberikan perhatian pada isu-isu kriminalitas, keberagaman dan kemiskinan.

“Mereka cenderung menolak suburban dimana merupakan basis dari Partai Republik,” katanya. Presiden George W Bush yang terpilih sebagai presiden untuk kedua kalinya, merupakan tokoh yang mendapat dukungan kuat dari suburban ini.

“Ada kekuatan besar berbasis di suburban,” kata Roger Miller, seorang profesor geografi dan pakar pembangunan kota, orang yang menyebut bahwa sepertiga kelas tempat dia mengajar menunjukkan betapa minat belajar suburban sangat kuat.

“Mahasiswa senang berbicara mengenai diri mereka sendiri, dan kebanyakan mereka memang berasal dari suburban,” tambah Tim Mennel, seorang lulusan yang akan mulai mengajar kelas baru yang disebut “Dunia Suburban” pada bulan Januari 2006 nanti.

Miller menyebut bahwa suburban sangat memiliki arti penting secara ekonomi. Dia melakukan studi dari tahun 1970-an bahwa Interstate 494 di Bloomington memiliki banyak bisnis retail daripada pusat kota Minneapolis atau St Paul. Suburban mendominasi pedagang eceran dan wilayah ekonomilainnya, kecuali hiburan dan restoran.

“Suburban merupakan mesin dahsyat untuk menciptakan kesejahteraan,” kata Miller, karena ada banyak rumah keluarga tunggal yang memberikan penghargaan pada nilai.

Nilai kepemilikan yang tinggi merupakan bagian dari budaya suburban. “Anda mendengar lebih dan lebih – kita harus menjaga kepemilikan. Kita tidak ingin bertaruh,” kata Miller.

“Saya tidak menyebut bahwa belajar suburban itu cool, tapi memang penting,” kata Jeff Rosenberg, seorang mahasiswa jurusan studi urban, yang kini mengambil tiga kelas dengan topik suburban. (ss)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com