Depan arrow Topik arrow Sosial arrow Rusia Khawatirkan Kerusuhan Perancis Terjadi di Rusia
Rusia Khawatirkan Kerusuhan Perancis Terjadi di Rusia Cetak E-mail
Rabu, 23 November 2005
Buana Katulistiwa - Pasca kerusuhan yang melanda Perancis belum lama ini, sebuah pertanyaan terlontar di sejumlah media di Rusia. Moskow cemas imigran legal takkan pernah meninggalkan Rusia lalu menuntut keadilan sosial. Akankah mereka melakukan pengetatan keimigrasian?

Yuri Filippov, pengamat politik dalam komentarnya untuk RIA Novosti, belum lama ini mengungkapkan bahwa kalangan politisi dan sejumlah media di Rusia melihat adanya kesamaan antara aksi vandalisme yang dilakukan oleh para remaja di pinggiran Perancis dengan situasi di kota-kota besar Rusia, yang menurutnya memiliki jumlah imigran mendekati 10 persen.

“Saya berpendapat bahwa situasi di Rusia, yang tidak mengontrol imigran pada pertengahan tahun 1990-an belum akan menimbulkan konsekuensi, hal ini berbeda jauh dengan kejadian di Perancis dan negara-negara lain di Uni Eropa,” kata Yuri Filippov.

Perancis kini menikmati buah dari kebijakan imigrasi mereka yang tidak efektif, dimana otoritas mereka telah lengah selama beberapa dekade.

Penduduk pinggiran Perancis telah dirampas oleh anak-anak imigran yang datang ke Perancis dari Afrika Utara pada tahun 1960-an hingga 1980-an setelah Perancis memutuskan diri untuk keluar dari Algeria. Ayah dari remaja-remaja ini tidak pernah diberikan bangku sekolah, yang menyarapi Eropa dan AS pada tahun 1960-an dalam sebuah “revolusi oranye” yang gagal.

Imigran Arab dan Afrika ingin menetap di Eropa, wilayah yang mengalami pertumbuhan ekonomi, mencari kerja dan mendapat apa kehidupan yang baik bagi mereka. Mereka tidak diharapkan menjadi pengangguran, sebab tidak ada pengangguran dalam pertumbuhan ekonomi Barat yang tinggi era 1960-an. Akibatnya, tidak ada peraturan sosial yang memberikan kesempatan bagi pengangguran untuk meributkan masalah penganggurannya pada waktu itu dan permintaan keadilan sosial dengan membakar kendaraan-kendaraan pada malam hari.

Menurut Yuri Filippov, situasi ini sangat mirip dengan Rusia saat ini. Bagaimanapun banyak kejadian kriminal dan kejahatan para hooligan terjadi di antara imigran di Rusia, kebanyakan dari mereka datang untuk stabilitas dan keadilan sosial dengan bantuan “Molotov cocktails”. Mereka datang untuk mendapatkan uang, bahkan untuk pekerjaan pembantu rumah tangga dari imigran Uzbek dan Tajik.

Moskow dan St Petersburg beberapa dari antara kota yang terkenal sebagai kota yang sangat mahal, namun, menurut Yuri Filippov, sebagian orang ini datang ke sini berharap bisa menjadi kaya di desa-desa Asia Tengah dan Caucasus Selatan. Televisi Rusia belum lama ini menunjukkan sebuah rumah Gadji, seorang pedagang pasar di Moskow, membangun di pinggiran Baku, Azerbaijan. Halamnya 600 meter persegi, sebagaimana pemerintah Soviet membagikan bagi penduduk Moskow umumnya untuk sebuah dacha.

Moskow khawatir bahwa imigran ilegal tidak akan pernah meninggalkan Rusia dan akan menuntut keadilan di jalanan, yang akhirnya menimbulkan masalah di kemudian hari. Sebenarnya agak sulit bagi para imigran untuk menetap di Rusia, karena tingginya biaya hidup. Tapi dengan uang mereka dapat membuat diri mereka disambut di rumah atau akan memberikan kemampuan bagi mereka untuk menjamin masa depan anak-anak mereka.

Ada satu lagi perbedaan penting jika dibandingkan dengan Perancis. Bulevar Marx dan Jalan Lenin, dimana kendaraan-kendaraan dibakar merupakan peningkatan budaya dari tradisi sosial Perancis, kesejahteraan menyatu ke dalam upaya imigran Afrika Utara untuk menjadi bagian dari Perancis.

Rusia modern, sudah terpisah dari sosialisme dengan cepat. Pencegahan keuntungan dan tarnsisis kompetisi dan makanisme pasar distribusi menunjukkan ketergantungan sosial sudah dapat diminimalisir di Rusia. Negara sedang bekerja keras untuk membantu para warga Rusia yang pengangguran, dan tidak ada waktu atau uang untuk imigran.

Sergei Mironov, Juru Bicara Federation Council (upper house of the parliament), menatakan baru-baru ini: “Kita harus menciptakan kondisi untuk mempersiapkan wanita kita memiliki banyak anak, dan kemudian kita tidak perlu pekerja lain.”

Tapi, menurut Yuri Filippov, apakah wanita Rusia – atau Perancis, Jerman dan wanita Eropa lainnya, menginginkan anak banyak? Siapa yang akan tumbuh menjadi negeri “kelas pekerja”? Statistik demografis menunjukkan bahwa mereka juga akan menjadikan anak-anak mereka menjadi ekonom, pengacara, wartawan, bisnismen, manajer, spesialis minyak dan gas, staf kantor, pejabat pemerintahan dan spesialis keamanan. Tidak ada yang salah atau mengejutkan di situ.

Seperti Perancis, dan kebanyakan dunia Barat, Rusia sedang bergerak menjadi tahap pembangunan “post-industrial”, dimana pekerja manual menjadi tidak dipentingkan dan menjadi kebutuhan kedua.

alangan ekonom telah menghitung bahwa jika pelaku bisnis Rusia memberikan Eropa Barat upah dan paket keuntungan lengkap dari staf mereka, kebanyakan dari mereka akan menjadi bangkrut. Ini bukan koinsiden dengan Barat memindahkan basis produksi yang dimintakan ke Asia Pasifik, dimana pekerja dapat didapatkan dengan murah. Rusia yang ingin menjadi kompetitiv dan mempromosikan ekonomi dengan pengeluaran minimum, dengan mengimpor pekerja murah dari Caucasus Selatan dan Asia Tengah.

Jadi, sejauh ini Rusia tampaknya masih aman. Diperkirakan Rusia baru akan menghadapi seperti yang dialami Perancis beberapa dekade ke depan, namun, tentunya, apabila Rusia tidak belajar dari kekeliruan Perancis sebelumnya. (ss)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com