|
Buana Katulistiwa ? Jumlah penduduk Jerman terus menurun sejak 1972. Akankah orang Jerman menjadi langka? Ahli demografi Jerman mengingatkan dampak yang mungkin terjadi akibat kecenderungan ini, seperti diberitakan Reuters, awal minggu ini.
Pertama kalinya sejak era Nazi, Pemimpin Jerman mengangkat masalah tingkat kelahiran sebagai masalah utama dalam agenda politik, dan dua partai berkuasa tengah bersaing melalui kebijakan-kebijakan yang pro-keluarga.
Jumlah penduduk Jerman - di Berlin - telah menurun 3,2 juta dalam 30 tahun terakhir ini, namun perhatian demografer sering diabaikan hingga sekarang di negara yang terluka oleh tekanan hasil kejahatan Nazi ini.
"Jerman berada dalam ancaman hilang jika kecenderungan ini berlanjut", ucap Harald Michel, direktur pengelola Institut untuk Demografi Terapan. Ia mengkhawatirkan penduduk Jerman akan menurun dari 75 juta menjadi 50 juta di tahun 2050, bahkan lebih jauh setelahnya.
"Tingkat kelahiran berada di bawah tingkat pergantian (replacement rate) dalam 35 tahun ? sebuah pembangunan mematikan", tambahnya. "Orang Jerman bisa menjadi langka. Itu hipotesis sekarang, namun kita harus memperkirakan bagaimana bila disuatu saat akan ada istilah ?orang Jerman terakhir?. Masalahnya kini adalah memadukan tiap generasi. Jika 30 tahun lalu tidak ada anak-anak yang lahir, maka bisa dipastikan, saat ini tidak akan ada anak-anak lagi."
Tenggelam Perlahan
Jerman telah lama berada di tingkat terendah tingkat kelahirannya di Uni-Eropa. Dengan 1,3 anak per wanita, jumlah tersebut masih jauh dibawah "tingkat pergantian" yaitu 2,1, yang dibutuhkan untuk menjaga jumlah penduduk stabil dan sekitar setengah laju pada 40 tahun lalu.
Lebih dari 30 persen dari Jerman Barat dan Timur yang lahir antara 1960 hingga 1967 tidak memiliki anak. Diantara penduduk Jerman yang berpendidikan tinggi, tingkat tidak punya anak bahkan lebih dari 38 persen.
"Tiap generasi telah berkurang sekitar sepertiganya," ujar Norbert Walter, kepala ahli ekonomi di Bank Jerman.
"Konsekuensinya dapat diperkirakan," tambahnya. Berdasar pada masalah finansial, sebuah penurunan populasi dapat menyebabkan suatu daerah menurun daya belinya dan turunnya nilai properti.
"Saya kira sangat berlebihan bila mengatakan Jerman "tidak eksis". Namun, ketika sebuah negara yang pernah memiliki lebih dari 80 juta orang dan berakhir hanya dengan 60 juta di suatu titik di perjalanannya, ya, itu memang negara yang berbeda sekali."
Penurunan penduduk selama ini telah tertutupi oleh imigran. Namun ekonomi Jerman tidak lagi menjadi magnet dan penduduk keseluruhan, termasuk 7 juta orang asing, telah menurun secara nyata di tahun-tahun terakhir ? dari puncaknya 82.536.680 pada tahun 2002 menjadi 82.500.489 pada tahun 2004.
Promosi Nazi, Kini Hal Tabu
Masalah rendahnya tingkat kelahiran juga dialami negara lain seperti Italia, Rusia, dan Jepang, seperti dikatakan Harian Yomiuri
bulan lalu, rata-rata jumlah kelahiran anak dari seorang wanita sepanjang hidupnya menurun pada tahun 2005.
Demografer Jerman mengatakan masalah ini memburuk karena sekian lama diabaikan. Di negara industi terdepan lain seperti Amerika Serikat, Inggris dan Perancis, tingkat kelahiran telah mendekati replacement rate.
"Mengapa kita tidak memberi perhatian dalam 40 tahun terakhir ketika kita berubah dari sebuah republik kaya dengan anak menjadi negara kekurangan anak?" tanya mantan kanselir Gerhard Schroeder, tahun lalu.
Saat ini, perhatian telah meningkat. Pemerintahan Kanselir Angela Merkel ? dibentuk akhir tahun lalu ? akhir-akhir ini setuju untuk memberi gaji pada tiap ibu baru selama setahun. Rencana untuk menghilangkan biaya untuk taman kanak-kanak pun telah dikemukakan.
"Ini pertama kalinya sejak 1945 pemerintah Jerman meninjau kebijakan penduduk lama." tulis surat kabar Berliner Zeitung. "Kebijakan keluarga kini mulai elegan."
Meski dukungan keuangan negara sebanyak 150 miliar Euro (180 miliar dolar AS) per tahun untuk program pendukung anak-anak, termasuk subsidi bulanan 154 Euro per anak, banyak orang Jerman tidak tertarik memulai sebuah keluarga akibat dari dinginnya sikap terhadap anak-anak.
Orang tua dengan anak kecil, acap kali dibuat merasa tidak diterima dengan baik di restoran, perusahaan pun biasanya membuat perjanjian untuk pekerja yang memiliki anak kecil, perhatian anak pra-sekolah di beberapa tempat sulit ditemukan dan biayanya jauh lebih mahal dibanding biaya untuk universitas. Banyak sekolah juga tutup di siang hari, membuat sulit para orang tua yang bekerja.
"Ini adalah isu yang amat kompleks," ujar Walter. "Topik yang rumit dan menjadi sensitif di Jerman, dimana tak dapat ditangani seperti di negara normal."
Meski 60 tahun berlalu, metode Nazi untuk mendorong wanita memiliki anak untuk memperkuat kemampuan tentara masa depan Hitlers telah menjadi pemahaman masal.
Nazi memberikan wanita sebuah "Mutterkreuz" atau "gelar kehormatan ibu" dan sebuah sertifikat ucapan terimakasih yang ditandatangani Hitler "atas nama rakyat Jerman."
Sebuah perunggu "Mutterkreuz" diberikan pada wanita dengan empat hingga lima anak, perak untuk enam hingga tujuh dan emas untuk lebih dari delapan anak.
"Sejarah itu masih berlaku di Jerman," ujar Michel."Kebijakan masalah penduduk telah menjadi sebuah topik yang tabu."
Michel mengatakan ia tidak yakin pembicaraan mengenai kebijakan mendukung perhatian anak-anak dan rencana meningkatkan tingkat kelahiran akan berubah banyak.
"Kita dalam kecenderungan penurunan penduduk; itu tidak dapat dihentikan," katanya. "Kita akan tiba pada masa tenggelamnya penduduk Jerman." (dp)
Powered by AkoComment! |