|
Buana Katulistiwa - Kekhawatiran miskinnya pengetahuan geografi kalangan generasi muda Amerika Serikat (AS) kembali mengemuka. Hanya kurang dari 20 persen usia 18-24 tahun yang dapat mengenali Afghanistan, Irak atau Israel pada peta. Sebuah langkah besar harus dilakukan, tulis sebuah media.
Dalam editorial berjudul Map of illiteracy / Geo-challenged Americans lack a sense of place, Harian Pittsburgh Post-Gazette pada 13 November 2005 menyarankan pentingnya dukungan individu dalam meningkatkan pemahaman geografi ini. "Tidak ada jalan yang terbaik untuk memulainya kecuali dengan membaca peta, dan membacakannya kepada anak-anak dan cucu Anda," tulis Pittsburgh Post-Gazette.
Dikatakan, negara-negara seperti Afghanistan, Israel, Irak dan Timor Timur selalu ada dalam berita media. Tapi dimanakah letak negara-negara ini? Jika pertanyaan ini diajukan kepada penduduk AS, menurut koran ini, sulit sekali untuk memperoleh jawaban yang benar.
"Pada sebuah studi terhadap generasi muda di 10 negara tahun 2002, contohnya, ditemukan bahwa generasi mudah kita (AS) memiliki pengetahuan geografi yang lebih miskin di banding generasi muda negara lain kecuali Meksiko. Hanya kurang dari 20 persen dari usia 18-24 tahun, yang mengenali Afghanistan, Irak atau Israel pada peta. Lalu, mengapa kita tidak memberikan generasi muda pengetahuan tentang hal ini?"
Dengan persentase yang mengkhawatirkan, generasi muda itu juga tidak dapat menemukan lokasi Samudera Pasifik (29 persen), Jepang (58 persen), Perancis (65 persen) atau Inggris (69 persen). Bahkan, 11 persen tidak dapat menemukan AS pada peta (!?).
Menurut media ini, miskinnya pemahaman geografi ini mengagetkan dan tidak dapat dibiarkan terutama bagi negara yang membanggakan diri sebagai negara adidaya. Meskipun disadari bahwa problem ini bukan hal baru. Melalui program National Geographic Awareness Week, yang diadakan 13-19 November, yang sudah ada sejak 1987, menjadi respon atas problem kronis tersebut.
Disebutkan pula, miskinnya pemahaman geografi menjadi perhatian besar dewasa ini. Ribuan orang Amerika tinggal di luar wilayah negaranya, dan miliaran dolar uang para pembayar pajak ada di luar perbatasan. "Bagaimana bisa membuat keputusan terbaik sebagai pemilih tanpa mengetahui kemana perginya sumber daya itu?"
Itulah sebabnya, mengapa kurikulum geografi di sekolah diperlukan lebih diperhatikan. "geografi telah berubah. Tidak lagi hanya kertas peta dan globe. Ini mengenai seluruh kegiatan yang dilakukan manusia. Dengan geographics information system ? menggunakan teknologi komputer untuk mengeksplorasi berbagai horizon itu," begitu Pittsburgh Post-Gazette. (ac/bj) Powered by AkoComment! |