Depan arrow Topik arrow Sosial arrow Kota di China Menolak Penggunaan Nama Asing
Kota di China Menolak Penggunaan Nama Asing Cetak E-mail
Jumat, 16 September 2005
Buana Katulistiwa ? Setelah membatasi akses internet yang berisi faham anti-sosialis, kini China menolak nama-nama yang berbau asing. "Paris of the East Plaza," "French Gardens," and "Ginza Office Tower," merupakan beberapa contoh nama yang mengalami perubahan sejak diberlakukan kebijakan ini bulan lalu.

"Tidak tepat bila memberikan nama tempat ke masyarakat dengan nama yang cenderung aneh dan asing", ujar seorang petugas Biro Perencanaan Kota Kunming, Xiao. Seperti dikutip dari http://upn34.com, kebijakan ini diberlakukan untuk menjaga karakteristik lokal China.

Penerapan kebijakan ini memang dilaksanakan dengan tegas. Setidaknya, telah ada 9 pembangun yang telah merubah nama berbau asing menjadi nama lokal. Bila diabaikan, ancamannya adalah pencabutan izin untuk melanjutkan pembangunan.

Masalah penamaan gedung atau daerah dengan nama asing, memang bukan hal baru di China. Pembatasan nama asing memang sudah mulai dilakukan sejak tahun 1997, ketika nama-nama asing mulai marak digunakan. Namun, baru kali ini dilakukan tindakan tegas pada para pembangun.

Hal seperti ini memang pernah dilakukan di Indonesia. Hanya saja, di Indonesia perubahan hanya sebatas pada ejaan katanya saja dan terbatas di kota-kota besar. Sebagai contoh, Blok M Mall telah berubah menjadi Mal Blok M, atau Ratu Plaza yang berubah menjadi Plasa Ratu.

Saat ini, kebijakan penggunaan nama dengan kaidah Bahasa Indonesia sudah mulai diabaikan kembali. Sebut saja Cilandak Town Square (Jakarta), Margo City (Depok), Rita SuperMall (Tegal), Cihampelas Walk (Bandung) dan lainnya.(dp)

Komentar
Jadi Inget ama Orba
Oleh kumbang pada 2005-09-16 15:54:31
Kalau diingat-ingat sama kaya yang dilakukan sama Soeharto, maksudnya sih buat menjaga jati diri bangsa kita. Tapi apa daya, nampaknya kita lebih senang dengan produk "luar" dibandingkan dengan produk "lokal"
Lebih baik dijaga
Oleh danu pada 2005-09-16 17:54:39
Sebaiknya kita bangga dengan yang dilakukan oleh para "penjaga bahasa" kita. Kalau tidak, apakah kita mau seperti Malaysia dan India, yang kini hampir kehilangan "bahasa ibu". 
 
Mereka tidak memiliki bahasa yang dapat dimengerti seluruh masyarakat di segala penjuru negaranya.
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com