Depan arrow Artikel arrow Berita Dunia arrow Ketika Tanda Kehidupan Ditelan Angin dan Aliran Sungai di Filipina
Ketika Tanda Kehidupan Ditelan Angin dan Aliran Sungai di Filipina Cetak E-mail
Selasa, 21 Pebruari 2006
Buana Katulistiwa - "Diam!" begitu teriak seorang anggota tim penyelamat dari Taiwan, Benjamin Hong, begitu unit khususnya menggunakan perlengkapan pemantau seismik untuk mendeteksi tanda-tanda kehidupan di bawah reruntuhan tanah yang menimpa Desa Guinsaugon, Filipina.

Suaranya memecah di seluruh area yang masih tampak berantakan itu. Di sana ratusan orang anggota tim penyelamat dari berbagai negara antara lain Amerika Serikat, Malaysia, Taiwan, Jepang, China dan lainnya, tengah berupaya keras untuk menemukan "sesuatu" yang bisa menjadi mula harapan setelah isu tanda kehidupan itu disampaikan berbagai kalangan.

Namun begitu, wartawan AFP, Selasa (21/2) melaporkan, setelah lima menit, Hong tidak dapat menyembunyikan kesedihannya dalam wajahnya yang tampak kelelahan.

"Kami mendengar suara tapi agaknya tidak ada tanda kehidupan di sana," kata Hong. "Kami hanya mendengar suara air sungai mengalir. Kami tidak mendengar tanda-tanda kehidupan lainnya."

Para penyelamat ini menaruh perhatian besar di lokasi sekolah menengah yang disebut-sebut telah tertimbun sekitar 200-300 orang murid termasuk guru-guru di kedalaman sekitar 100 feet.

Beberapa saat setelah kejadian longsor itu empat hari lalu, sebuah informasi yang belum terkonfirmasi menyebut menerima pesan SMS dari dalam runtuhan yang menandakan adanya tanda kehidupan tersisa di sana. Itu membuat banyak kalangan menaruh perasaan harap-harap cemas.

Para tim penyelamat ini kemudian berjuang tanpa lelah untuk menemukan jejak hidup dengan menggunakan berbagai peralatan sensor seismik. Sepanjang malam sebelumnya upaya ini dihentikan karena adanya peringatan dari ahli geologi bahwa kemungkinan bisa terjadi hujan lebat dan longsor baru.

Tim penyelamat dari Indonesia sendiri, disebutkan telah diberangkatkan dari Jakarta, hari Senin (20/2) lalu, terdiri dari 40 orang kontingen dari TNI yang dipimpin Letkol Ckm Yudha. Mereka diperkirakan tiba di Filipina Rabu (22/2).

Hong kemudian mengatakan bawha timnya akan terus melakukan pengecekan pada lokasi lain yang juga tertimpa tertimbun longsor pada kejadian Jumat lalu, yang diperkirakan bisa menewaskan hampir 1.400 orang.

"Kami akan mencoba sekuat tenaga kami untuk mendeteksi titik lainnya di lokasi lonsor ini," kata Hong. "Kami tidak mendengar apapun dan angin kuat serta hujan sama sekali tidak membantu."

Tim Malaysia melaporkan mendengar suara pada Senin sebelumnya namun disebutkan kurang jelas apakah itu suara manusia atau bukan. "Kami belum mendeteksi adanya suara hari ini," kata Yaacob Yusuf, pimpinan tim.

"Ini sungguh sulit bagi kami karena detektor kami dapat menangkap suara yang ada di dasar yang solid atau material, tapi jika dasar lembek ini sulit untuk mendengar," katanya.

Sebelumnya beberapa anggota tim lainnya juga sudah mencoba untuk melakukan penggalian, namun masih belum membuahkan hasil. Sejauh ini, tim Amerika dan Malaysia misalnya setelah menggali, hanya menemukan mayat, tidak ada yang berhasil ditemukan hidup-hidup.

Mereka kemudian mengaku bahwa adalah baik untuk terus berharap masih akan menemukan kehidupan di sana, namun mereka kemudian menyadari bahwa jika pun tidak semua pihak harus menerimanya sebagai sebuah realitas. Yang jelas, mereka tak ingin putus asa sampai pekerjaan itu tuntas. (bj)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com