Depan arrow Topik arrow Sosial arrow IGI Jabotabek Gelar Kongres dan Seminar Nasional
IGI Jabotabek Gelar Kongres dan Seminar Nasional Cetak E-mail
Kamis, 14 September 2006
Buana Katulistiwa- Ikatan Geograf Indonesia (IGI) Koordinator Wilayah (Korwil) Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi (Jabotabek), menggelar Kongres VIII dan Seminar di Depok, Jawa Barat, 14-15 September 2006. Kegiatan ini bekerjasama dengan Departemen Geografi Universitas Indonesia.

Dalam acara pembukaan yang berlangsung Kamis (14/9), tampak hadir antara lain Menteri Tramsmigrasi Erman Soeparno, Wagub DKI Fauzi Bowo, mantan Menko Perekonomian Dorojatun Kuntjoro-Jakti, Rektor UI Usman Chatib Warsa, Dekan FMIPA UI Adi BAukriadi, Wakil Dekan II FMIPA UI Supriatna, termasuk para pejabat dari Bappenas dan instansi pemerintahan lainnya.

Perwakilan IGI yang datang antara lain dari Yogyakarta, Jabodetabek, Kupang, Semarang, Medan, Manado, Padang, Lampung, Surabaya, Bali. Termasuk juga guru-guru yang ada di Jabotabek.

Menurut panitia, IGI sejak tahun 1999, secara rutin telah menyelenggarakan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) guna memfasilitasi pertukaran pengetahuan, gagasan, dan pengalaman antar berbagai kalangan (akademisi, peneliti, birokrat, kaum profesional,mahasiswa dan kelompok masyarakat) yang menaruh per hatian pada perkembangan ilmu geografi.

Pada tahun 2006, Seminar Nasional dan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) IGI VIII di Depok mengambil tema "Pendekatan Spasial Dalam Pembangunan Negara Kepulauan Tropika".

Dalam siaran pers panitia dikatakan, sesuai dengan tema tersebut, pertemuan akan membahas berbagai isu dan fenomena pembangunan sehubungan dengan keunikan Indonesia sebagai negara kepulauan tropika terbesar di dunia. Keunikan tersebut bukan hanya berkaitan dengan bentuk kepulauan, tetapi juga berkaitan dengan keanekaragaman hayati, potensi sumberdaya alam, khasanah budaya, dan posisi strategis Indonesia dalam lingkungan global. Oleh karena itu, wilayah Indonesia menjadi salah satu titik pertemuan antara berbagai kepentingan lokal, nasional, dan internasional dalam berbagai dimensi.

Namun demikian, di tengah kesadaran akan peran penting di atas, kinerja pembangunan di Indonesia belum memperlihatkan hasil yang menggembirakan. Kemiskinan, kesenjangan, bencana alam, konflik sosial, krisis energi, kelaparan, dan keterbelakangan wilayah masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Semua persoalan di atas tidak dapat dilepaskan dari kebijakan pembangunan yang menganggap wilayah nasional sebagai ruang kehidupan yang statis, homogen, dan apa adanya.

Sehingga proses-proses yang berkaitan dengan isu kedaulatan, kesejahteraan, tata kepemerintahan, ikatan emosional, kemajuan ekonomi, dan sebagainya tidak pernah dikaitkan dengan keunikan organisasi keruangan (spatial organization) sebuah negara kepulauan.

Sehubungan dengan akumulasi persoalan tersebut, pendekatan pembangunan yang selama ini diterapkan perlu ditinjau kembali relevansinya. Terlebih lagi dengan ter jadinya perubahan konstelasi ruang sebagai dampak dari kebijakan desentralisasi dan tekanan globalisasi.

"Untuk itu pemahaman keruangan (spatial understanding) yang dilandasi oleh kesadaran akan adanya kemajemukan dan keunikan sebagai sebuah negara kepulauan tropika perlu segera dibangun guna mewujudkan kebijakan pembangunan yang lebih holistik," begitu siaran pers itu. (bj)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com