Depan arrow Topik arrow Sosial arrow Konferensi GIS Partisipatif Internasional 2005: Hati-hati dengan PRA
Konferensi GIS Partisipatif Internasional 2005: Hati-hati dengan PRA Cetak E-mail
Selasa, 20 September 2005
PGIS 2005Buana Katulistiwa - Konferensi Internasional Pengelolaan dan Komunikasi Informasi Spasial Partisipatif (GIS Partisipatif) 2005 yang berlangsung di Nairobi, Kenya (7-10 September) berakhir pekan lalu.

Mengambil tema "Pemetaan untuk Perubahan", konferensi empat hari ini dihadiri oleh 160 peserta dari 50 negara dan Canadian First Nation. Menyajikan 12 presentasi pleno yang kemudian didiskusikan para peserta yang hadir dan 29 studi kasus pada isu implementasi dan aplikasi pemetaan partisipatif.

Pemetaan partisipatif atau GIS partisipatif adalah partisipasi peneliti dalam pembuatan peta, di atas dan luar interpretasi para pembuat peta biasa, mulai dikenal sejak akhir 1980-an. Pada masa itu, praktisi pembangunan cenderung mengadopsi metode Participatory Rural Appraisal atau PRA (misalnya dengan peta sketsa) dibanding dengan menggunakan pemetaan detil yang rumit dan sangat memakan waktu dan biaya. Metode ini menonjolkan pengetahuan lokal dan memanfaatkan dinamika dalam komunitas untuk memfasilitasi komunikasi antara masyarakat lokal dan luar (peneliti/pembuat peta). Masyarakat juga didorong berinteraksi secara efisien dan berhadapan langsung dengan pemerintah formal. Di beberapa negara berkembang foto udara, citra satelit dan peta topografi skala besar dikuasai oleh pemerintah dan akses masyarakat terhadap data-data ini sangat terbatas dengan alasan keamanan negara.

PesertaMelanjutkan pleno (hari pertama) dan sesi paralel (hari ke-2 dan ke-3), dilangsungkan 9 lokakarya yang masing-masing diikuti sekitar 50-70 peserta. Acara ini diadakan dengan sangat profesional. Peserta mengangkat pertanyaan yang terkait dengan topik dan memberikan masukan berguna untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang apa yang dimaksud dengan "praktek baik".

Untuk menciptakan suasana yang aktif dalam konferensi ini digunakan teknik "bola salju" dengan membentuk kelompok kecil yang terus bertambah pesertanya (dimulai dari 2, 4, 8 sampai 16 peserta). Interaksi dengan berhadapan langsung dan tukar pikiran difasilitasi dengan kartumeta. Hasil dari kelompok-kelompok kecil dalam teknik bola salju itu kemudian dipresentasikan oleh masing-masing wakil kelompok itu dalam diskusi pleno.

Di samping metodologi pemetaan partisipatif dan aplikasinya, para peserta mencari bentuk komunikasi dan jaringan untuk meningkatkan praktek GIS partisipatif dan memunculkan aktor lokal untuk berhadapan secara efisien dengan kekuatan formal dan ekonomi yang lebih tinggi. Praktisi dari Canadian First Nations membagi pengalamannya yang panjang pada bidang ini.

Di hari ketiga, peserta berkesempatan ikut berkontribusi dalam menggarisbawahi praktek pemetaan/GIS partisipatif sebagai katalis untuk pembangunan yang berkelanjutan, pengelolaan konflik, pelestarian warisan budaya, hak asasi dan lainnya.

Wakil dari Indonesia, Daud Sulaiman, JKPP Aceh mengatakan, "peta merupakan hal yang sangat esensial dalam memahami Aceh setelah tsunami 2004 lalu, supaya kita tidak kehilangan kearifan lokal dan sistem pengelolaan wilayah yang diburu oleh rekonstruksi Aceh baru. "

Suasana KonferensiLokakarya dan debat menjawab pertanyaan juga mengajukan pertanyaan baru -- dan yang lebih penting -- menggarisbawahi kebutuhan untuk meningkatkan kehati-hatian dalam praktek GIS partisipatif. Robert Chambers, peneliti pada Lembaga Studi Pembangunan Universitas Sussex, Inggris, pada pembukaan konferensi mengangkat isu tentang empat tantangan utama dan para peserta berhasil menjawab empat tantangan yang ditanyakan Chambers.

Perhatian utama yang harus dihindari adalah jebakan PRA yang kini lebih mengejar pada aspek kecepatannya saja (rapid), pendekatan yang yang berkembang sangat cepat di bidang pembangunan dan digunakan (atau disalahgunakan) di seluruh benua. Seorang peserta bahkan mengatakan bahwa dia perlu melakukan pendekatan selama lima tahun untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

Etika, sikap dan perilaku, kesetaraan, pengenalan spasial dan ketidakakuratan menjadi konsep yang banyak diperbincangkan dalam diskusi.

Delegasi dari Indonesia lainnya, Albertus Pramono, JKPP, menggaris bawahi hal ini dengan mengatakan, "adopsi teknologi informasi spasial harus dibarengi dengan pemahaman yang baik tentang etika dan implikasinya."

Di akhir konferensi Robert Chambers menekankan pentingnya kepercayaan masyarakat bagi pelaksanaan pemetaan partisipatif.

"Pemetaan partisipatif sangat penting dan terlalu sayang untuk dirusak oleh pemerintah dan pemberi donor yang terlalu antusias. Jika yang kita lakukan setelah meninggalkan konferensi ini setengah saja baiknya dari yang kita lakukan di konferensi ini, dunia akan menjadi jauh lebih baik. " tutup Chambers. (ac)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com