|
Buana Katulistiwa - Apa saja peran geograf dalam perencanaan migrasi penduduk, khsususnya dalam konteks internasional? Bagaimana pula analisis pola, trend dan proses migrasi itu dapat menjadi unsur penting dalam memformulasi kebijakan? Prof John Salt adalah Direktur Unit Penelitian Migrasi, pada Departemen Geografi, Universitas College London, Inggris, memberikan jawabannya.
Menurut Prof John Salt, dalam suatu wawancara yang dimuat dalam www.rgs.org pada 9 Oktober 2003, mengatakan bahwa kita bisa membuat perencanaan ekonomi, sosial, lingkungan, kota, negara dan lainnya dan dalam skala geografi. Tapi, migrasi internasional merupakan yang penting dalam semua hal itu.
"Dalam skala nasional, permalahan migrasi jauh lebih besar daripada persoalan perubahan alamiah, sebab berdampak pada perubahan ukuran angkatan kerja, perencanaan investasi pemerintah dan alokasi dana untuk daerah dan otoritas daerah serta dalam hal pemukiman," kata dia.
Studi migrasi merupakan studi kuantitatif dan kualitatif atau gabungan keduanya. Mereka menjelaskan mengenai berapa orang yang berpindah, dari mana dan kemana, orang macam apa mereka dan mengapa mereka berpindah, bagaimana terintegrasinya mereka dan indikasi tingkat pengeluaran dan kohesi sosial.
Menurut John Salt, semua ini menjadi bagian penting bagi para pembuat kebijakan dan lebih dasar lagi, hal ini menjelaskan kondisi alamiah masyarakat dimana kita tinggal.
Studi migrasi juga merupakan studi gabungan antara masukan kebijakan langsung atau tidak langsung. "Bagaimanapun analisis pola, trend dan proses yang membangunnya merupakan informasi esensial bagi membuat formulasi kebijakan," kata dia.
Sebagai contoh, sebelum adanya kebijakan migrasi Eropa, menjadi penting untuk mengetahui keragaman arus migrasi mempengaruhi negara masing-masing. Penelitian digunakan untuk mengevaluasi kebijakan khusus, semacam perluasan para pencari tempat asil (perlindungan) di Inggris. Studi migrasi juga penting bagi para tenaga kerja, gabungan perdagangan dan lainnya, contohnya dalam hubungan rekrutmen pekerja asing dan dalam identifikasi pelanggaran HAM.
Lalu bagaimana hubungannya dengan upaya monitoring, prediksi dan "kontrol" migrasi? Menurut John Salt, hal-hal itu memiliki kaitan dan saling mendukung satu sama lain. Karena fluktuasi migrasi internasional dan keterbukaan terhadap perubahan skala dan alamiah, monitoring yang berkelanjutan menjadi sangat penting. Ini barangkali juga menyertakan tingkatan yang bervariasi: beberapa badan internasional seperti OECD (yang selalu mengeluarkan laporan tahunan) atau Uni Eropa (yang mengumpulkan informasi statistik melalui Eurostat, dan dalam membangun proses observasi migrasi); beberapa negara biasanya oleh kantor statistik pusat atau organisasi pemerintahan, kadang juga di tingkat lokal.
Monitoring, lanjut dia, sangat penting untuk tujuan prediksi. Seluruh negara bagian menghasilkan proyeksi kependudukan secara reguler (setiap dua tahun di Inggris) dan data yang up to date menjadi bagian penting di sini. Negara juga memonitor migrasi di sepanjang jalur masuk yang berbeda, meliputi tenaga kerja, reuni keluarga atau pencari perlindungan.
"Kita bicara mengenai manajemen migrasi daripada kontrol. Dalam kaitan tugas pemerintah bekerja dengan lembaga lain, seperti tenaga kerja, perkumpulan dagang, perusahaan transportasi, untuk menentukan dan memanej arus perpindahan penduduk sepajang perbatasan. Dalam realitas, sedikit pemerintah dapat mengontrol perbatasannya, khsusunya dimana terdapat perimeter tanah yang luas dan rumit," kata John Salt.
Ketika kepada John Salt ditanyakan mengenai dampak dari kebijakan Presiden Amerika Serikat George Bush soal green card dan visa terhadap perpindahan penduduk dunia, dia berpendapat bahwa imigrasi ke Amerika Serikat, dengan tempat tinggal yang permanen serta isu green card, tidaklah menimbulkan permasalahan.
"Ini terjadi pada basis sistem preferensi yang sudah berubah sejak 1990. Kategori visa lainnya dimaksudkan bagi fluktuasi pemukim yang sifatnya temporer, biasanya untuk alasan ekonomi. Dampaknya hanya terlihat utamanya bagi pengunjung jangka pendek dan migran yang temporer sifatnya. Dampaknya bagi imigrasi per se sepertinya kecil," ujar John Salt.
Sebagai contoh, tidak ada banyak pengaruh pada migrasi legal dari Amerika Latin sepanjang tenaga kerja Amerika Serikat sanggup untuk melanjutkan pemakaian tenaga kerja ilegal itu. Kata John Salt, adalah terlalu dini untuk mengatakan jika hal itu akan menjadi dampak besar bagi perpindahan para visitor ke dan dari Amerika Serikat. Apa yang barangkali terjadi peningkatan penumpang yang diskrining sebelum perjalanan, bukan antara Amerika Serikat dan negara lain, tapi lebih bersifat umum.
"Dari semua itu, proposal Bush kemungkinan tidak cukup berdampak kemana-mana kecuali kesan yang lebih kasar atau kejam. Sejauh ini, sedikit negara telah memberlakukan kebijakan perjalanan yang keras sebagaimana dilakukan Amerika Serikat," begitu John Salt. (bj) Powered by AkoComment! |