Depan arrow Artikel arrow Berita Dunia arrow Budaya Memburu "Panas Matahari" di Berlin
Budaya Memburu "Panas Matahari" di Berlin Cetak E-mail
Senin, 09 Mei 2005
Buana Katulistiwa - Berlin dalam satu tahun hanya menerima sinar matahari secara penuh dalam sehari tidak lebih dari 60 hari. Karena satu tahun ada 365 hari, maka selama 305 hari penduduk di sini sangat merindukan panas matahari. Tak heran, ketika matahari menyembul pada 1 April 2005 lalu, warga kota pun memburu matahari dengan berbagai aktivitas.

Baju-baju bagus musim panas hanya dipakai 60 hari kembali dikeluarkan dari dalam lemari. Sebagai gantinya, baju musim dingin yang disimpan untuk dipakai kembali kelak. "Di Indonesia berbeda, matahari bisa dinikmati kapan saja. Boleh kita berbagi panas dengan penduduk lintang tinggi (sub tropis)," tulis Taqyuddin, kontributor Buana Katulistiwa yang ada di Berlin, Jerman.

Pada tanggal 1 April 2005 itu adalah waktu yang diyakini sebagai awal datangnya musim panas di Berlin. Suhu di luar mencapai 29 derajat Celcius. Matahari mulai pagihari hingga sore hari menjadi buruan warga kota. Kebetulan memang hari itu hari Minggu. Kota dengan ratusan taman kota ini menjadi lebih semarak.

Warga kota baik pribumi maupun pendatang keluar rumah menuju taman-taman kota. Ada yang berjalan, ada yang bersepeda ada yang bermobil dan ada juga yang bermobil beserta karavannya. Pejalan kaki beramai-ramai dengan mengenakan t-shirt dan celana pendek sambil memakai kacamata hitam dan menggendong ransel yang berisi makanan dan minuman serta handuk.

Pengendara sepeda berbondong-bondong menuju ke taman pusat kota di dekat Patung Bischmark (Taman Monas-nya Berlin-lah) tidak laki-laki maupun wanita, anak-anak maupun dewasa mengenakan pakaian atas sekenanya bahkan ada yg sengaja telanjang hanya celana pendek saja (laki-laki tentunya).

Sesampainya di taman memarkirkan sepedanya kemudian mencari tempat yang tidak terhalang pohon untuk mendapatkan sinar matahari langsung sambil tengkurep, telentang, duduk-duduk dan ada yang sambil main bola, bulu tangkis dll di salah satu bagian dari taman tersebut. Taman terbesar di pusat kota ini luasnya kurang lebih 5 kali taman monas. Taman tersebut selain rimbun dengan hutan kotanya juga ada danau-danau kecil yang pinggirnya merupakan hamparan rumput yang terpelihara. Mereka berjemur layaknya dipantai.

Di bagian yang lain, mestinya tidak perlu diceritakan tapi harus diceritakan supaya lebih lengkap cerita ini. Di bagian ini hampir semuanya nudis alias mblonder alias blejet alias telanjang. Katanya kalau tidak telanjang malu sendiri karena dilihatin yang pada telanjang. Dunia udah kebalik di bagian ini lebih banyak orang bulenya. Saking banyaknya padang rumput yang harusnya hijau, menjadi silau karena menjadi kuning kemerah-merahan.

Di seberangnya tak kalah menarik. Mungkin kalau di lihat dari atas seperti perkampungan Indian lagi berkomunikasi dengan perkampungan Indian lain tempat. Tetapi di sini hanya ada satu perkampungan. Asap mengepul berubah-ubah besarnya. Setelah didekati ternyata mereka memanggang daging sapi, ayam, sosis, burger dan lainnya, dan sebagian yang lain tidur-tiduran di tikar dan sebagian yang lain bermain bola, bercanda dengan yang lain, mendengarkan musik keras-keras.

Dan musiknya sangat khas yaitu berkarakter Arab, ini tidak lain yaitu warga pendatang dari Turki yang ikut menikmati panasnya matahari. Kalau di hitung bisa puluhan keluarga dan masing-masing membawa lengkap peralatan bakar-membakar daging. Sebagai selingan di pojok-pojok taman adalah yang indehoi dan ada juga co+co bergandengan mesra.

Jalan-jalan besar yang melintas di tengah taman tersebut juga ikut meramaikan acara tanpa agenda tersebut. Club Pecinta Vespa keluar dengan rombongannya dan bersama-sama menghentak-hentakkan gasnya (sambil diiringi polisi- aman/ijin). Di taman-taman yang lain juga tampak serupa mereka berjemur telanjang dada dan kaki (pakai celana dalam saja).

Di pinggir-pinggir sungai yang melintas di tengah kota menjadi incaran pemburu panas matahari. Menjadi pemandangan yang menarik bagi kapal-kapal wisatawan yang mengarungi sungai tersebut, mereka berebut memotret. Memang sungai-sungai yang ada selain berfungsi sebagai pengendali iklim kota juga berfungsi sebagai prasarana transportasi, sumber air bersih serta pengendali banjir.

Bahkan khususnya transportasi sungai di sini menjadi lebih menguntungkan secara ekonomis sebagai pendapatan kota karena di kemas sebagai jalur wisata keliling kota dengan susut pandang dari sungai (dari kapal). Kapal-kapalnya didisain untuk itu, dengan atap terbuka di lantai atas sehingga dapat dengan leluasa mendapat panas matahari sambil melihat pemandangan sepanjang pinggir sungai yang merupakan taman-taman yang indah yang dilengkapi dengan restauran, lapangan rumput, taman bermain dan lainnya. Hari ini menjadi istemewa bagi warga kota, setelah matahari mulai codong ke Barat berangsur-angsur taman menjadi sepi. Mereka mempersiapkan diri menghadapi rutinitas Senin sampai Jum'at.

Sebagai cerminan, para turis yang kita lihat di Pantai Sanur, Pantai Senggigi, Pantai Grajakan, pantai di Pulau Rubiah, Pulau Seribu dan banyak pantai di Indonesia yang selalu panas secara naluriah mereka menelanjangkan diri. Hup orang Indonesia kalau ikut-ikutan, ya, jadinya hangus. (tq)

Komentar
Seru
Oleh babel pada 2005-05-10 04:22:36
Jadi ngiri ni :) kapan yack Jakarta bisa kaya gitu, kecuali bagian yang ada ?co+co bergandengan mesra?.
lucky Indonesia
Oleh tokki pada 2005-05-10 04:57:48
Indonesia memang negara yang sangat dikarunia panas matahari yang berlimpah. Jadi ngga usah ngiri bel, kalo loe mo ikutan budaya kaya gitu nanti bisa hangus badan kau itu lah.
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com