Depan arrow Artikel arrow Berita Dunia arrow Cerita dari Berlin: Dari Parkir, Pasar Kaget Hingga Hari Ibu (2)
Cerita dari Berlin: Dari Parkir, Pasar Kaget Hingga Hari Ibu (2) Cetak E-mail
Minggu, 15 Mei 2005
Buana Katulistiwa- Seluruh pelosok di Kota Berlin, Jerman, agaknya adalah tempat yang ramah terhadap kendaraan, entah itu mobil, motor bahkan sepeda. Sebaliknya, warganya pun tidak kelewat iseng untuk jadi maling, atau sekadar ngempesin ban atau nyopot kaca spion seperti di Indonesia.

Tak percaya? Berjalanlah berkeliling, dan lihat betapa banyaknya tempat di sepanjang kanan-kiri jalan, untuk memarkir sepeda. Tempat parkir itu bisa berupa besi pagar tanaman penghijauan, atau disediakan oleh pemilik toko atau di sudut-sudut taman kota. Ada palang besi yang dapat digunakan untuk mengikatkan gembok sepeda dan tidak mengganggu pejalan kaki, atau lalu lintas, disitulah sepeda boleh dan dapat diparkir.

Untuk memarkir sepeda tidak terlihat dipungut biaya atau tidak ada retribusi, lain halnya dengan kendaraan roda empat. Hanya gedung-gedung tinggi saja yang menyediakan lapangan parkir atau bangunan parkir. Bangunan standar apartemen (8-12 lantai) tidak disediakan secara khusus lapangan parkirnya tetapi di sepanjang pinggir jalan juga berfungsi sebagai lapangan parkir mobil. Ada yang di dua sisi jalan, ada yang sebelah sisi jalan sebagai lapangan parkir.

Dan kalau malam hari mobil-mobil sangat rapi terparkir di sepanjang sisi-sisi jalan (bukan di trotoar tetapi di badan jalan yang diperuntukkan atau diperbolehkan sebagai parkir mobil). Memang ada tempat penitipan mobil di beberapa tempat. Dan memang ada juga kantor-kantor yang memang meyediakan lapangan parkirnya untuk karyawan dan tamunya, tetapi sebagian besar mobil parkir di pinggir jalan-jalan.

Setiap mobil oleh pemiliknya berlangganan kartu parkir bulanan yang berlaku parkir di zona-zona yang sudah ditetapkan di wilayah kota. Dan jika parkir di luar zona yang sudah tetapkan sesuai dengan harga bulan kartu langganannya maka dapat membayar langsung di loket-loket parkir yang berada di pinggir jalan secara otomatis (dibutuhkan kesadaran untuk membayar sendiri).

Bagi mobil-mobil yang tidak berlangganan parkir jika ketahuan petugas parkir keliling hanya ditinggalin kertas selembar untuk membayar denda. Atau seringnya tagihan denda datang ke rumah pemilik mobil sesuai dengan data nomor mobilnya. Dan pemilik mobil membayar dengan transfer ke rekening yang ditunjuk dan memiliki bukti bayar, selesai sudah masalahnya. Benar-benar gampang prosesnya.

Begitu juga bagi yang salah parkir (rodanya naik di trotoar, menghalangi jalan bus kota dan lainnya) juga diberlakukan denda semacam. Sekarang kita lihat di Indonesia, sudah di tempat parkir resmi masih sering kita dengar dicongkel lah, diambil tape-nya lah, dikempesin ban-nya lah. Dan untuk sepeda, boro-boro dipikirkan (kepentingan masyarakat bersepeda tidak dipikirkan seperti masyarakat bermobil).

Hak-hak itu yang tidak diejawantahkan ke dalam keadilan sosial dalam penataan ruang kota. Apalagi pejalan kaki (banyak trotoar untuk jalan kaki dipakai oleh kepentingan lain dan pemkot mengambil retribusinya? K5). Jaminan keamanan masih sangat jauh kenapa (mungkin Indonesia sangat luas atau contohnya Jakarta itu kota besar penduduknya lebih dari 10 juta, kalau ada kehilangan seperti mencari jarum dalam kegelapan. Kesadaran asuransi masyarakat indonesia juga masih sangat rendah.

Apa yang membuat pemilik sepeda, sepeda motor dan pemilik mobil di kota Berlin dengan santainya memarkir di luar rumah atau di pinggir jalan? Tidak lain adalah masyarakatnya yang taat hukum atau hukumnya yang sangat ditegakkan, polisinya tidak ber-pungli, penjahatnya bukan penjahat kacangan, tidak ada yang mau beli barang curian, tidak ada yang menampung barang curian, tidak ada yang jadi backing perampok, atau kalau hilangpun sudah diasuransikan toh bakalan diganti yang baru.

Jangan ditanya jenis mobilnya mungkin tidak ditemukan di Indonesia juga diparkir di jalan. Asuransi kehilangan, kerusakan dll di Indonesia kapan diyakini oleh pembeli preminya? Kalau hal ini terjadi pemerintah tidak selalu selalu membangun lapangan parkir yang notabene untuk orang-orang bermobil saja. Dan dengan demikian kehidupan kota akan lebih terlihat aman dan tenang. (tq)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com