|
Buana Katulistiwa- Di berbagai kota besar di Indonesia, terutama tempat yang dekat dengan stasiun kereta, terminal, atau pasar-pasar, selalu ada penitipan sepeda motor, penitipan sepeda bahkan mobil. Tapi, apesnya, walaupun sudah bayar, tak jarang masih kemalingan juga. Bagaimana dengan parkir di Berlin, Jerman? Apa iya di sana juga ada pasar kaget dan Hari Ibu? Berikut penuturan Taqyuddin, kontributor Buana Katulistiwa dari sana.
Di beberapa tempat di Berlin pada hari-hari tertentu muncul pasar kaget. Pada hari Selasa mulai pagi hingga jam 16.00 pasar kaget di dekat Triftstrasse, dekat Leopoldplatz, dan di pinggir kali di Kotbusertur. Pedagang-pedagang pasar kaget tersebut secara nomaden, berpindah-pindah tempat ke lokasi-lokasi pasar kaget sesuai dengan harinya.
Mereka sangat cepat kerjanya, pagi mendirikan tenda, berjualan dan jam 16.00 tempat tersebut sudah bersih kembali. Tempat-tempat tersebut biasanya berupa lapangan atau taman kota atau jalan yang tidak terlalu sibuk dan tempat-tempat parkir yang pada hari-hari tertentu diperuntukan sebagai pasar kaget.
Apa saja yang dijual di sana? Pasar kaget tersebut tersedia berbagai macam terutama kebutuhan dapur seperti: sayuran, daging, ikan, telur, keju, roti dan berbagai pakaian jadi, bahan pakaian, peralatan pertukangan, kosmetik, obat-obatan dan masih banyak lagi jenisnya. Barang-barang tersebut sebagian besar barang baru, tetapi ada juga barang-barang cuci gudang.
Kalau diperhatikan harganya, untuk sayuran dan buah-buahan tidak jauh berbeda dengan supermarket tetapi selalu lebih murah dan di sini boleh menawar. Suasanannya sangat ramai sekali karena paa pedagang selalu aktif menawarkan dagangannya dengan berteriak seperti pedagang kaki lima di Jakarta.
Kalau di Jakarta didominasi oleh orang-orang setempat dan orang-orang suku tertentu, di sini hampir seratus persen orang-orang Turki. Hanya beberapa tempat seperti di dekat Dome Berlin lebih banyak orang Berlin sendiri, tetapi barang dagangannya lebih cenderung benda-benda seni seperti lukisan, tanaman hias, keramik, gelas, sendok, piring, bunga segar, pernak-pernik perhiasan serta sedikit buku-buku kuno serta sedikit pakaian dingin yang harganya memang lebih berkelas.
Pasar kaget tersebut selalu ada setiap hari dan berganti-ganti tempat (nomaden di sekitar kota) tidak semrawut dan memang mendapat ijin oleh pemerintah kota. Ajaibnya para pedagang sangat taat dengan peraturan, begitu juga pembeli juga sadar akan aturan tersebut mereka datang dengan berjalan kaki dari apartemennya, sehingga jalan tidak menjadi macet karena mobil pembeli.
Selain itu trotoar (pedestrian) di Berlin lebarnya selebar jalannya, jadi pejalan kaki dan pengendara sepeda sangat leluasa serta tidak mengganggu lalu lintas. Saya katakan ajaib karena orang sebanyak itu hampir 99 persen taat: antri di tempat penyeberangan, membuang sampah di tempatnya, sedikit banyak puntung-puntung rokok berserakan di bawah penghijauan trotoar.
Karena juga hampir semua di jalan merokok baik laki-laki maupun wanita. Di sini ada yang sangat menarik bagi orang-orang yang sedikit uang. Mereka menunggu di sekitar pasar kaget tersebut hingga mendekati jam 16.00. Kenapa demikian? Para pedagang yang takut dagangannya busuk atau memang sudah harus habis hari itu menurunkan harga serendah-rendahnya, kadang malah disuruh mengambil untuk dibawa pulang. Karena mereka harus segera membersihkan tempat, daripada nanti didenda sebab mungkin dendanya lebih mahal dari pada harga dagangan yang diobral atau dibagikan.
Mereka sangat cepat membersihkan tempat karena lapak mereka berupa mobil karavan yang memiliki tenda siap pasang. Ada juga yang mendirikan tenda serta lapak meja dari kayu yang bertenda inipun juga sangat mudah dipasang dan dilipat kembali. Yang demikian biasanya secara rombongan menggunakan truk besar untuk mengangkut dagangannya dari lokasi satu ke lokasi lain.
Khususnya lokasi-lokasi pasar kaget yang dekat dengan sungai mereka menggunakan transportasi dengan kapal atau perahu. Kapal tersebut selain membawa barang dagangan juga mengangkut penumpang serta di atapnya berfungsi sebagai restoran terapung cukup untuk 20 orang. Para pedagang dapat menikmati kopi dan makanan hangat sambil mengobrol setelah lelah berdagang.
Untuk cerminan: mungkin pedagang kaki lima kita juga dapat berbuat semacam asal ada dasar hukum yang melindungi dan pasti (birokratis yang sederhana, tidak ada kolusi, tidak banyak pungli) serta lokasi-lokasi yang sudah ditentukan dan disediakan (difasilitasi oleh pemerintah kota).
Memang sih di kota-kota besar di Indonesia sudah ada yang menjalankan; seperti lokasi Kemayoran (Jakarta Fair, Semarang Fair dan lainnya) hanya sebulan dalam setahun. Hal ini sangat tidak mendukung pedagang kecil apalagi kaki lima. (tq) Powered by AkoComment! |