Depan arrow Artikel arrow Berita Dunia arrow Waspadai Perang Air!
Waspadai Perang Air! Cetak E-mail
Rabu, 01 Maret 2006
Buana Katulistiwa -Coba lihat peta dunia. Meskipun bukan hal baru, sumber-sumber air baik itu air permukaan maupun air bawah tanah telah dieksplorasi demikian parah untuk kebutuhan manusia dan industri, bahkan telah pula tercemar. Sumber-sumber air yang melintas batas negara-negara akan semakin mengundang konflik dunia, bahkan lebih parah dari krisis minyak?

Kecemasan ini juga dirasakan oleh Sekretaris Pertahanan Inggris John Reid. Dia mengingatkan bahwa perubahan iklim akan menjadi sumber utama konflik dalam 30 tahun mendatang, dimana negara-negara akan bertempur untuk mengontrol pasokan air.

Seperti dilansir UPI, Rabu (1/3), John Reid menyebut bahwa pertumbuhan penduduk dunia dan peningkatan kebutuhan akan sumber air, akan menciptakan konfrontasi yang semakin meningkat antarnegara bersamaan dengan pemanasan global yang menyebabkan penggurunan, mencairnya es dan pasokan air yang terkontaminasi.

Berbicara pada sebuah konferensi internasional di London, Reid me-listing perubahan iklim sebagai serangan utama keamanan global, disamping terorisme internasional dan masalah krisis energi.

Angkatan bersenjata Inggris harus dipersiapkan menghadapi konflik atas persoalan sumber daya ini, saran dia.

Para perencana militer kini tengah mulai mempertimbangkan konsekuensi dari perubahan iklim bagi angkatan bersenjata Inggris untuk tiga dekade mendatang, dan mengingatkan mereka harus siap menghadapi permintaan operasi kemanusiaan, pasukan penjaga perdamaian dan intervensi konflik.Perubahan iklim ini juga meminta peningkatan perhatian pejabat NATO pada konferensi ini atas kemungkinan serangan keamanan.

Reid mengatakan, perubahan iklim sudah memberikan kontribusi konflik di Afrika dan menekankan pentingnya upaya bantuan negara-negara untuk melakukan kerjasama dalam upaya mengatasi persoalan yang terkait dengan air.

"Jika kita melihat dekade mendatang, kita melihat perkembangan yang tak menentu, mengenai geopolitik dan konsekuensi kemanusiaan atas perubahan iklim," katanya.

"Dampak dari banjir, pencairan es, dan penggurunan dapat menyebabkan hilangnya tanah pertanian, keracunan pasokan air dan keruntuhan infrastruktur ekonomi. Lebih dari 300 juta orang di Afrika kini sulit memperoleh akses kepada air yang aman, dan perubahan iklim akan memperparah situasi ini."

Dia kemudian melanjutkan, "Semua tantangan ini bukan hanya menjadi tugas geografer atau demografer, mereka akan membuat kelangkaan sumber daya, air bersih, kelangkaan bagi tanah pertanian."

"Miskinnya air dan tanah pertanian merupakan faktor kontributor penting dalam konflik di Darfur. Kita harus melihat ini sebagai tanda peringatan," tambahnya.

Reid mengungkapkan komentar ini dalam konferensi Downing Street yang diselenggarakan PM Tony Blair, dimana para menteri Inggris bertemu dengan politisi oposisi dan para pegiat lingkungan untuk mendiskusikan respon nasional untuk menghadapi perubahan iklim. (bj)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com