|
Buana Katulistiwa - Embargo senjata yang hingga kini diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS) mendorong Indonesia untuk menjalin lebih banyak lagi kerjasama bidang pertahanan dengan negara lain, khususnya China.
Kerja sama dengan China ini, menjadi lebih strategis setelah pertemuan pimpinan kedua negara pada KTT Asia Afrika bulan April dan terakhir saat Presiden Yudhoyono yang berkunjung ke negeri Tirai Bambu itu pada akhir Juli 2005 lalu.
"Kemitraan strategis" antara RI-China yang ditandatangani April silam itu meliputi berbagai bidang, termasuk politik dan keamanan serta sosial kebudayaan, dan salah satu kesepakatan yang dibuat adalah kerja sama di bidang teknologi pertahanan dan militer, khususnya bidang peroketan.
Menurut Menhan Juwono Sudarsono, pekan ini, kerja sama ini mungkin akan bisa memberi keuntungan besar bagi Indonesia di hari mendatang, tetapi masalah ini kurang berarti dibandingkan dengan persoalan politik keamanan di kawasan Asia Timur yang sedang mengalami perubahan besar.
Juwono terus terang mengakui pengembangan rudal dan roket itu didasarkan pada kebutuhan akan alat utama sistem senjata (Alutsista) yang canggih namun tidak terkena ancaman embargo.
Tapi seperti apa rudal yang akan dibangun itu. Berapa jarak tempuhnya? Menhan mengatakan, hanya berdaya jangkau 150 km, dan hal itu kini sedang dikaji oleh lembaga riset dan teknologi masing-masing negara.
Tentu saja, jika dilihat dari daya jangkau ini, pengembangan lebih jauh rudal-rudal ini, masih sangat “aman” dari kekhawatiran bisa mengganggu negara tetangga, seperti Australia.
Namun, seperti diketahui umum, China memang memiliki kehandalan tersendiri dalam produksi rudal-rudal yang bertujuan untuk pertahanan ini. Arab Saudi, misalnya, konon memiliki Dong Feng (Angin Timur) buatan China yang dapat menembak target yang berada dalam jarak 2.000 km.
Suriah memiliki rudal Scud C yang walaupun masih konvensional tapi memiliki daya jangkau sampai 500 km, ditambah lagi M-9s buatan China yang memiliki kemampuan tembak sampai 600 km. Iran juga memiliki Scud-Bs dan rudal Mushak, dengan daya jangkau mencapai 200 km . Irak pada era Saddam Husein konon pernah berusaha memperoleh M-9 dan rudal buatan Korea Utara.
Tetangga sebelah utara Irak, Turki memiliki rudal buatan AS, ATACMS Sistem Rudal Taktis Angkatan Darat dengan kemampuan 160 km (100 mil). Israel memiliki Jericho 1 yang sudah berumur 30 tahun, dengan jarak tempuh 500 km. Sedangkan rudal terbarunya, Jericho 2 memiliki kapasitas nuklir dan dapat terbang hingga 1.500 km.
China diakui sebagai kekuatan militer yang sangat hebat pada saat ini. Dengan jumlah penduduk 1,3 miliar jiwa, memiliki total kekuatan aktif adalah 2.930.000 orang, dimana diperkirakan 1.500.000 personil masih dalam proses demobilisasi. Sekitar 1.275.000 orang dari jumlah tersebut adalah wajib militer serta 136.000 orang adalah korps wanita.
Masa dinas wajib militer bagi anggota TPR adalah tiga tahun bagi Angkatan Darat dan Marinir serta 4 tahun bagi Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Kekuatan cadangan sekitar 1.200.000 orang dan kekuatan milisi yang terdapat di setiap provinsi dibentuk dalam organisasi yang terawasi, Anggaran pertahanan yang dibutuhkan TPR setiap tahun sebenarnya diperkirakan 29,8 miliar dolar AS, namun untuk tahun 1996 telah diumumkan bahwa anggaran yang turun hanya sekitar 8 miliar dolar AS.
Beberapa waktu lalu, Presiden Jiang Zemin yang juga sebagai Ketua Komisi Militer Pusat dalam diskusi dengan para anggota Kongres Rakyat Nasional (KRN) menekankan pentingnya persenjataan teknologi tinggi guna memenangkan Hi-tech Warfare under new condition, juga dikatakan bahwa sebagian besar dana untuk pembangunan persenjataan Angkatan Laut dan Udara TPR Cina dan sebagian untuk kepentingan unit artileri dan infanteri.
Begitu pula dalam rapat kepala staf TPR Cina, Presiden Jiang Zemin mengatakan bahwa Cina harus meningkatkan kemampuan militernya dalam menghadapi abad ke-21, dikatakan juga bahwa masalah keamanan dan persatuan merupakan kepentingan utama bagi setiap bangsa, sedangkan pertahanan nasional yang kuat dapat mendukung keamanan nasional, disamping itu juga ditekankan bahwa strategi Angkatan Bersenjata Cina sebaiknya betul-betul dikembangkan untuk mempersiapkan militer dalam menghadapi perang, dimana personel merupakan faktor penting dalam memenangkan pertempuran, disamping persenjataan dengan tetap memperhatikan teori Mao Zedong dan Deng Xiaoping. (bj) Powered by AkoComment! |