Depan arrow Topik arrow Politik arrow Polusi Menjadi Barang Ekspor China
Polusi Menjadi Barang Ekspor China Cetak E-mail
Kamis, 12 Januari 2006
Buana Katulistiwa - Bulan Desember lalu, keburukan lingkungan China melimpah melewati batas negaranya dalam bentuk cairan beracun yang mengalir ke Rusia. Namun ekspor polusi hanya dianggap seperti menjual barang murah demi kemajuan ekonominya. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Selama bertahun-tahun mengejar ekspansi ekonomi dengan segala cara, para pemimpin Cina kini hanya berkutat dengan masalah politik. Air kotor atau limbah, udara yang menyesakkan dan buangan beracun pabrik adalah beberapa masalah umum yang mencemari lingkungan China dan tetangganya.

Namun pada akhirnya dampak internasional dari permasalahan di China menjadi dihubung-hubungkan sebagai penyebab atas perhatian dunia terhadap kepemimpinan Beijing. Oleh karena China telah memakan waktu berhari-hari hanya untuk memberitahu Russia bahwa sebuah ledakan di pabrik petrokimia menumpahkan 100 ton larutan benzene ke Amur.

Kabut asap yang terbawa melewati Pasifik menuju pantai barat Amerika Serikat, hujan asam di Korea Selatan dan Jepang dan perusakan hutan-hutan hingga Afrika, termasuk di dalamnya ekspor-ekspor tak diinginkan merupakan beberapa hal yang para ahli katakan dapat menghalangi harapan China untuk menjadi kekuatan global yang bertanggungjawab.

Menurut Leo Horn, penasihat Departemen Pembangunan Internasional Inggris, hampir setengah dari populasi dunia hidup di pinggir sungai yang bersumber di China. Diantaranya merupakan sungai-sungai besar Asia, seperti Mekong dan Indus. Meskipun sejauh ini masih bebas dari polusi terburuk yang mencemari jalur air domestik seperti Yangtze, Beijing telah berseteru dengan tetangga-tetangganya bertahun-tahun mengenai rencana pembuatan bendungan. Yang lebih buruk kemungkinan akan menyusul.

Seperti dikutip dari Reuters, keengganan China untuk mengorbankan pertumbuhan demi lingkungan yang lebih bersih menyebabkan masalah-masalah yang lebih mendalam lagi ? sebagian dari kabut asap industri yang menyelimuti kota-kotanya, menurut para ilmuwan berubah menjadi udara kotor yang berhembus hingga pantai barat Amerika.

Tetapi tradisi lama yang menganggap sumber daya adalah bahan bakar pertumbuhan, dan paham lingkungan merupakan kegemaran kaum borjuis, tampaknya telah berubah. Para pemimpin tinggi China baru-baru ini telah menjanjikan untuk menangani situasi lingkungan yang "suram", menempatkan efisiensi energi di dalam cetak biru perekonomian mereka untuk 5 tahun ke depan dan mempertimbangkan anggaran untuk polusi. Namun untuk beberapa negara tetangganya, di sinilah permasalahan mereka dimulai, ketika China mulai merusak negeri mereka.

Mengekspor Kerusakan

Beijing mengeluarkan larangan terhadap sebagian besar penebangan di akhir 90-an, setelah deforestasi diidentifikasi sebagai faktor kunci di balik banjir-banjir skala besar yang menyengsarakan seperlima penduduknya dan memakan dana milyaran dollar. China melindungi hutan-hutannya dan kemudian mulai menggairahkan produk-produk kayu kepada para pemodal serta melakukan ekspansi ekspor furniture.

Kombinasi tersebut mengirimkan perusahaan-perusahaan China lintas batas negara ke Myanmar, sementara target pasarnya hingga Liberia dan Indonesia.

"Pada dasarnya China mengekspor masalah deforestasinya ke negara-negara yang tidak memiliki kontrol yang ketat atau yang situasi politiknya tidak stabil," kata Susanne Kempel, aktivis British group Global Witness. Sekitar sejuta kubik yard kayu memasuki China secara ilegal tahun lalu dari wilayah-wilayah utara Myanmar, yang diidentifikasikan sebagai salah satu perusakan ekosistem terbesar di dunia, imbuhnya.

Tetapi China seharusnya bukan satu-satunya yang dipersalahkan atas polusi yang disebabkan oleh industri level tinggi di dalam batas negaranya mengingat banyak produknya ditujukan untuk pasar Barat, tandas aktivis lingkungan yang berharap tekanan konsumen dapat memaksa perusahaan-perusahaan untuk gulung tikar ini.

"Sekarang ini China merupakan dapur dunia, sementara orang Barat menikmati komoditi murah, kami telah melimpahkan semua limbah di halaman belakang rumah-rumah kami, di sungai-sungai kami," ucap Ma Jun, penulis buku "China?s Water Crisis."

"Para konsumen bertanggungjawab atas itu semua," tambahnya. (qb)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com