Depan Artikel Berita Dunia Konferensi Asia "Tanpa" Afrika?
|
Konferensi Asia "Tanpa" Afrika? |
|
|
|
Rabu, 20 April 2005 |
Buana Katulistiwa- Menjelang pelaksanaan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 22-24 April 2005 ini, dominasi isu agaknya telah diborong habis oleh Asia. Persoalan-persoalan yang juga cukup pelik di benua Afrika tidak tersentuh. Akankah KAA kali ini konferensi Asia dengan Afrika sebagai pelengkap penderita?
Diantara isu itu sebut saja mulai dari kemitraan baru antara China-India yang diharapkan banyak kalangan mampu menggiring kemitraan strategis baru Asia Afrika untuk mengimbangi hegemoni Amerika Serikat selama ini.
Termasuk provokasi negeri Paman Sam ini atas lahirnya ketegangan baru Jepang-China, China-Taiwan, konflik India-Pakistan, persoalan di semenanjung Korea khususnya atas senjata nuklir Korea Utara, konflik Palestina-Israel, isu Suriah hingga masalah Iran.
Padahal, seperti disebut tadi, persoalan Afrika tak kalah rumit dewasa ini, bukan hanya persoalan politik tapi juga soal ekonomi, yang justru semakin jauh tertinggal dari saudaranya di Asia.
Statistik terakhir menunjukkan bahwa sumbangan Afrika dalam dunia perdagangan telah mengalami kemunduran sejak 1980, dari sekitar 6 persen dari ekspor dunia tahun 1980 menjadi 2 persen pada tahun 2002, dari 4,6 persen import dunia pada tahun 1980 menjadi 2,1 persen pada tahun 2002.
Investasi langsung luar negeri (FDI) ke Afrika mengalami perkembangan yang tidak berarti hanya 1,7 persen dari arus masuk investasi pada tahun 2002. Jika dirata-ratakan dari arus FDI seluruh negara berkembang justru mengalami penurunan setengah sejak 1985 (12% pada 1985 menjadi 5 persen tahun 2002).
Pada saat yang sama, sumbangan Asia dalam perdagangan dunia jauh lebih tinggi dan terus mengalami peningkatan setiap tahun, dari 17,9 persen tahun 1980 menjadi 20,8 persen tahun 2002. Negara-negara Asia juga berhasil meningkatkan arus FDI dari 2 persen 1990 menjadi 9 persen pada tahun 2001.
Statistik juga menunjukkan bahwa perdagangan antara Asia dan Afrika terus mengalami perbaikan. Ekspor Afrika ke Asia mengalami peningkatan dari 6,7 miliar dolar AS pada 1990 menjadi 17,2 miliar dolar AS pada 2000. Asia, sebagai pasar yang mengalami peningkatan pertumbuhan yang sangat cepat dewasa ini, menjadi pasar yang sangat potensial bagi produk-produk negara Afrika.
Dari segi politik, Afrika dewasa ini juga masih mengalami masalah dengan perjuangan apartheid, yang digelorakan oleh Afrika Selatan. Disamping isu politik regional, yang terkait dengan konflik antarnegara dan antarkelompok radikal bersenjata di berbagai negara, yang sangat mungkin diprovokasi oleh negara besar.
Itulah sebabnya, para pemimpin Afrika yang antusias menyambut KAA yang akan berlangsung di Jakarta dan Bandung ini sebagai momentum penting untuk mencari solusi berbagai persoalan penting itu. Bukan melulu membahas Asia. (bj) Powered by AkoComment! |
|
|
|
|
|