|
Buana Katulistiwa- Dominasi kebijakan pembangunan makro yang berorientasi pada politik, seperti perang terharap teror, telah membuat perhatian terhadap lingkungan hidup menjadi tertinggalkan. Padahal demokrasi atau kebebasan tidak akan berguna tanpa hak untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Pembahasan mengenai hal ini menjadi sorotan penting dalam konferensi di New York?s Columbia University, yang menghadirkan pembicara Direktur PBB untuk Proyek Millenium Jeffrey Sachs dan Rajendra Pachauri, Ketua United Nations' Intergovernmental Panel on Climate Change, Rabu (29/3).
Seperti dilansir AFP, Jeffrey Sach, yang menjadi pembicara kunci dalam konferensi ini mengatakan, terdapat kekeliruan dalam memberikan prioritas dalam kebijakan telah membuat dunia terancam pada bencana.
?Setiap kali yang kita pikir adalah bagaimana geopolitik kita ? perang terhadap teror, fundamentalisme Islam ? yang semuanya tidak ada artinya dengan tantangan sebenarnya yang dihadapi planet kita,? kata Sachs.
?Ada distraksi dan misunderstanding,? sambungnya.
Berbicara dalam forum dua hari dengan topik utama ?kelayakan pembangunan berkelanjutan bagi miliaran manusia di seluruh dunia?, Sachs menggambarkan bagaimana lingkungan hidup secara sistimik mengalami kolaps, yang diperparah dengan perang, dan penyakit pandemik.
Pertumbuhan ekonomi di Asia dan peningkatan permintaan pembangunan di negara-negara industri akan menjadi persoalan dalam dekade ini. ?Ini merupakan tantangan utama yang menjadi perhatian kita atas planet ,? katanya.
Perubahan iklim, penggurunan, degradasi laut dan pertumbuhan penduduk , menurut Sachs yang juga Direktur Institut Bumi pada Columbia University, merupakan masalah yang berkaitan dengan pemangunan yang tidak berkelanjutan dan menjadi isu penting bagi para saintis.
?Politik adalah pusat (utama),? katanya, mempersalahkan apa yang dia sebutnya sebagai kebijakan ?antagonistik keilmuan? yang dilakukan oleh Pemerintah AS di bawah Presiden George W Bush.
?Kita melawan semua perang yang salah di negara ini,? kata Sachs.
?Pemimpin poliitk kita tidak terlatih untuk memahami semua isu ini,? sambungnya seraya mengingatkan krisis Darfur, bagian barat wilayah Sudan yang mengalami krisis yang dipicu oleh persoalan air.
?Kita melihat krisis itu sebagai krisis politik dimana kita harusnya melihat itu sebagai krisis ekologi,? kata dia.
Rajendra Pachauri, Ketua United Nations' Intergovernmental Panel on Climate Change, mengingatkan bahaya tidak adanya hubungan antara pemuat kebijakan pembangunan makro dengan keuntungan bagi penduduk yang diatur kebijakan itu. ?Kita perlu mendengarkan suara lokal dan mencari solusi lokal,? kata Pachuari.
?Kita perlu memikirkan bentuk baru demokrasi,? kata dia seraya menyebut bahwa kebebasan dari tirani tidak akan sempurna tanpa kebebasan dari kemiskinan. ?(bj)
Powered by AkoComment! |